SINERGYNEWS.ID, Jakarta, 26 Oktober 2026 — Indonesia berpeluang menjadi pusat penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) regional untuk mendukung upaya dekarbonisasi di Asia. Namun, realisasi ambisi tersebut membutuhkan kepastian pasokan karbon dioksida (CO₂), kerangka regulasi yang jelas, serta kontrak kerja sama jangka panjang agar proyek dapat menarik investasi dan berjalan secara komersial.
Hal itu disampaikan Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Dannif Utojo Danusaputro, dalam panel diskusi Japan CCUS Summit 2026 bertajuk From Partnerships to Projects: Delivering Cross-Border CCS between Japan and Asia di Tokyo, Jepang, pada 19 Oktober 2026.
Menurut Dannif, pengembangan CCS lintas negara tidak cukup hanya mengandalkan kapasitas penyimpanan bawah permukaan. Kepercayaan investor dan industri penghasil emisi juga menjadi faktor penting untuk memastikan keberlanjutan proyek dalam jangka panjang.
Ia menjelaskan, terdapat tiga pilar utama untuk membangun kepercayaan investor Jepang, yakni kepastian regulasi dalam mengelola risiko jangka panjang, kejelasan kelembagaan yang transparan dan terkoordinasi, serta kelayakan finansial atau bankability.
“Bagi investor dan industri penghasil emisi di Jepang, kepercayaan dibangun di atas tiga pilar utama, yakni kepastian regulasi untuk mengelola risiko jangka panjang, kejelasan kelembagaan yang terkoordinasi dan transparan dalam pengelolaan perizinan hingga pengawasan lintas batas, serta kelayakan finansial jangka panjang,” ujar Dannif, dikutip dari keterangannya, Sabtu (24/10/2026).
Kepastian Pasokan CO₂ Jadi Tantangan Utama
Pengembangan CCS lintas negara membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari industri penghasil emisi, pengelola fasilitas penangkapan karbon, penyedia infrastruktur transportasi, hingga operator penyimpanan karbon.
Bagi penyedia fasilitas penyimpanan seperti Pertamina, kepastian volume CO₂ yang akan dikirim menjadi faktor penting sebelum investasi dilakukan. Kesiapan fasilitas penangkapan karbon di negara asal serta komitmen komersial jangka panjang juga diperlukan untuk menjamin kelangsungan operasional proyek.
Dannif menuturkan, pembangunan hub CCS membutuhkan investasi awal yang besar. Pembiayaan diperlukan untuk studi karakterisasi lokasi penyimpanan, pengeboran sumur injeksi, pembangunan fasilitas injeksi, serta infrastruktur transportasi karbon.
“Pembangunan hub CCS memerlukan investasi awal yang sangat besar untuk studi karakterisasi, pengeboran sumur, fasilitas injeksi, hingga infrastruktur transportasi. Oleh karena itu, kami membutuhkan kepastian volume emisi, kesiapan fasilitas penangkapan di pihak industri, dan kontrak kerja sama jangka panjang,” katanya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pengembang proyek perlu membangun kepercayaan melalui transparansi, mengembangkan infrastruktur dengan skala hub, memperkuat koordinasi dengan pemerintah, serta menggabungkan kemitraan jangka panjang dari berbagai industri.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menciptakan kepastian permintaan jasa penyimpanan karbon sekaligus memperkuat dasar kelayakan investasi proyek CCS lintas negara.
Pertamina Bidik Tonggak Proyek CCS Lintas Negara
Pertamina menargetkan pencapaian tonggak penting dalam dua hingga tiga tahun ke depan, yakni keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) untuk proyek CCS lintas batas komersial pertama di kawasan Asia-Pasifik, dengan pengembangan menuju tahap injeksi.
Keberhasilan proyek perintis tersebut dinilai berpotensi menjadi acuan bagi pengembangan proyek serupa di kawasan. Pembuktian bahwa CO₂ dapat ditangkap di satu negara, diangkut secara aman melintasi perbatasan, kemudian disimpan secara permanen berdasarkan kerangka regulasi yang andal akan membantu menguji model bisnis dan skema kerja sama yang digunakan.
“Jika proyek pertama ini berhasil membuktikan bahwa CO₂ dapat ditangkap di satu negara, diangkut secara aman melintasi batas negara, dan disimpan secara permanen di bawah kerangka regulasi yang andal, maka pasar akan bergerak cepat dari tahap diskusi menuju replikasi,” ujar Dannif.
Ia menambahkan, keberhasilan proyek tersebut juga akan memberikan validasi terhadap kerangka regulasi, solusi teknis, struktur kemitraan, serta model bisnis CCS lintas negara.
Peluang Indonesia dalam Dekarbonisasi Asia
Kolaborasi CCS lintas negara sejalan dengan visi Asia Zero Emission Community (AZEC), sebuah inisiatif kerja sama untuk mendorong upaya penurunan emisi di kawasan Asia.
Melalui skema tersebut, Jepang berpeluang memperoleh akses terhadap solusi penyimpanan emisi jangka panjang. Sementara itu, Indonesia berpotensi mengembangkan industri baru bernilai tambah yang mendukung agenda ekonomi rendah karbon.
Bagi Indonesia, peluang menjadi hub CCS regional tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan kapasitas penyimpanan karbon, tetapi juga kemampuan membangun ekosistem yang mencakup regulasi, infrastruktur, pembiayaan, dan kemitraan industri.
Pertamina menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat penyimpanan karbon yang andal dan terpercaya bagi kebutuhan dekarbonisasi regional.
“Bersama pemerintah, kami berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai hub CCS regional yang andal dan terpercaya untuk mendukung perjalanan dekarbonisasi di Asia,” kata Dannif.
Dengan demikian, kepastian pasokan CO₂ dan kontrak jangka panjang menjadi dua prasyarat penting untuk mengubah peluang Indonesia menjadi hub penyimpanan karbon menjadi proyek komersial. Kejelasan regulasi, kesiapan teknologi, serta kepercayaan antarmitra juga akan menentukan kemampuan Indonesia menarik investasi dan mengambil peran dalam rantai nilai CCS di Asia.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.