SINERGYNEWS.ID, Jakarta — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) menargetkan peningkatan kapasitas terpasang panas bumi menjadi 1,8 gigawatt (GW) pada 2034. Untuk merealisasikan target tersebut, perusahaan memperkirakan kebutuhan investasi mencapai US$6,43 miliar atau setara Rp115,92 triliun.
Direktur Operasi PGEO, Andi Joko Nugroho, mengatakan perusahaan terus mengintensifkan pengembangan proyek dan kegiatan pengeboran di sejumlah wilayah kerja panas bumi (WKP). Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung penambahan kapasitas pembangkit secara bertahap.
Saat ini, kapasitas terpasang yang dikelola langsung PGEO mencapai 727 megawatt (MW). Perusahaan menetapkan target antara sebesar 1 GW pada 2028 sebelum meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.
“Saat ini pembangkitan kami baru 727 megawatt. Sangat intensif kami lakukan pengeboran. Di Kamojang ini baru selesai pengeboran recovery, ada rig di Lahendong, kemudian di Lumut Balai untuk next pembangkit, serta di Ulubelu. Jadi kami punya target 1 gigawatt di 2028, kemudian 1,8 gigawatt di 2034,” ujar Andi di Kamojang, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).
Kebutuhan Investasi Capai Rp115,92 Triliun
Untuk menambah kapasitas sekitar 1.073 MW hingga 2034, PGEO memperkirakan biaya pengembangan berada pada kisaran US$5 juta hingga US$6 juta per MW. Besaran biaya tersebut bergantung pada kondisi geografis dan kompleksitas infrastruktur di setiap lokasi proyek.
Dengan asumsi kurs Rp18.006 per dolar AS, kebutuhan belanja modal untuk mendukung ekspansi tersebut diperkirakan mencapai US$5,36 miliar hingga US$6,43 miliar, atau setara Rp96,60 triliun hingga Rp115,92 triliun.
Besarnya kebutuhan investasi menjadi salah satu aspek penting dalam pelaksanaan ekspansi. Selain pembangunan fasilitas pembangkit, pengembangan panas bumi juga membutuhkan kegiatan pengeboran dan kesiapan infrastruktur untuk mendukung pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Dari sisi pendanaan, PGEO mengombinasikan modal internal, sisa dana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO), serta fasilitas pembiayaan hijau (green financing) dan obligasi hijau (green bond). Instrumen tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperoleh pendanaan dengan biaya modal yang lebih kompetitif.
PGEO juga menjajaki kemitraan strategis atau joint venture bersama PT PLN (Persero) untuk membagi risiko dan porsi investasi. Salah satu proyek yang disiapkan melalui kolaborasi tersebut adalah pemanfaatan air panas berkapasitas 30 MW di Ulubelu.
Lumut Balai Unit 3 Ditargetkan Beroperasi pada 2029
Di antara proyek yang masuk dalam rencana pengembangan mendatang, PGEO menargetkan PLTP Lumut Balai Unit 3 memasuki tahap operasi komersial (commercial operation date/COD) pada 2029.
Pengembangan proyek tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk meningkatkan kapasitas pembangkit dan mencapai target ekspansi jangka menengah maupun jangka panjang.
Selain Lumut Balai, kegiatan pengeboran juga dilakukan di Kamojang, Lahendong, dan Ulubelu. Keempat wilayah kerja ini menjadi bagian dari upaya PGEO memperkuat pengembangan aset panas bumi yang telah dikelola perusahaan.
Produksi Listrik Panas Bumi Cetak Rekor
Di tengah rencana ekspansi, PGEO juga mencatatkan produksi listrik panas bumi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) selama Januari–September 2026. Menurut data perusahaan yang dikutip Bisnis.com, capaian tersebut merupakan produksi tertinggi sepanjang sejarah PGEO.
Produksi itu meningkat 9,79% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 3.747 GWh. Realisasi tersebut juga melampaui target produksi Januari–September 2026 sebesar 3.801 GWh, dengan pencapaian 108,22% dari target periode tersebut.
Hingga akhir September 2026, PGEO telah memenuhi 78,29% dari target produksi listrik tahunan sebesar 5.255 GWh. Untuk mencapai target tersebut, perusahaan perlu menghasilkan sekitar 1.141 GWh pada kuartal IV/2026.
Peningkatan produksi dan rencana penambahan kapasitas menjadi dua agenda yang berjalan beriringan bagi PGEO. Keberhasilan mencapai target 1,8 GW pada 2034 akan bergantung pada realisasi proyek, kesiapan pengeboran, kemampuan pendanaan, serta pelaksanaan pengembangan di setiap wilayah kerja panas bumi.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.