Kamis, 22 Oktober 2026

Refleksi Hari Energi Sedunia Ketum PEI Dorong Panas Bumi Harus Jadi Tulang Punggung Transisi Energi Nasional

Foto: Dok. PLTP Lahendong
Foto: Dok. PLTP Lahendong

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta, 22 Oktober 2026 – Peringatan Hari Energi Sedunia menjadi momentum krusial bagi masa depan ketahanan energi nasional. Ketua Umum Pemuda Energi Indonesia, Erwin Damanik, menegaskan bahwa energi panas bumi (geothermal) merupakan tulang punggung utama dalam transisi energi demi mewujudkan masa depan Indonesia yang hijau dan mandiri.

Indonesia dianugerahi berkah luar biasa sebagai bagian dari cincin api pasifik (Ring of Fire) dengan total potensi panas bumi mencapai 23,7 Gigawatt (GW). Namun, Erwin menyayangkan pemanfaatannya saat ini baru menyentuh angka sekitar 2,7 GW.

"Jika potensi raksasa ini tidak kita manfaatkan secara optimal, artinya kita tidak lagi menyiapkan energi hijau yang handal bagi generasi mendatang. Kita tidak boleh membiarkan bangsa ini terus bergantung pada energi fosil, karena itu sama saja dengan mewariskan masalah lingkungan ke masa depan," ujar Erwin Damanik dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Menepis Isu dan Penolakan Daerah dengan Fakta Ilmiah

Merespons adanya riak penolakan terhadap pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di sejumlah daerah, lulusan Teknik Mesin Universitas Sam Ratulangi Manado ini menyatakan bahwa kekhawatiran tersebut tidak mendasar dan keliru secara teknis. Erwin meluruskan dua isu utama yang sering diembuskan:

  • Mitigasi Gas H2S yang Ketat: Bahaya hidrogen sulfida (H2S) telah diatasi dengan teknologi alat pengikat gas H2S yang wajib diterapkan di seluruh PLTP di Indonesia. Operasional ini dipantau secara ketat di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM.
  • Perlindungan Sumber Mata Air: Isu penurunan debit air warga sangat tidak berdasar. Mata air untuk konsumsi masyarakat berada di kedalaman dangkal sekitar 10–100 meter. Sementara itu, reservoir panas bumi berada jauh di dalam perut bumi pada kedalaman 1.500 hingga 3.000 meter. Seluruh fluida yang dimanfaatkan juga akan diinjeksikan kembali ke dalam bumi (reinjection) sehingga tidak akan merusak siklus air permukaan.

Erwin mencontohkan keberhasilan PLTP Lahendong di Sulawesi Utara yang telah beroperasi aman selama bertahun-tahun sebagai bukti nyata dampak positif panas bumi bagi lingkungan dan energi wilayah.

Komitmen Mengawal Hak Anak Daerah dan Multiplier Effect

Pemuda Energi Indonesia berkomitmen penuh untuk mengawal pengembangan geothermal agar dikelola secara mandiri oleh anak bangsa. Erwin menegaskan, kami tidak akan membiarkan masyarakat lokal hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri.

"Tugas besar kami di Pemuda Energi Indonesia adalah mendorong anak-anak muda di daerah penghasil panas bumi untuk mengambil bagian dan menjadi aktor utama di industri ini. Kami juga akan mengawal ketat agar multiplier effect dari proyek PLTP benar-benar memberikan keadilan ekonomi bagi masyarakat setempat," pungkas Erwin.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!