SINERGYNEWS.ID, Bandung — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 di Sumatra Selatan mulai beroperasi secara komersial pada 2029. Proyek ini menjadi salah satu agenda ekspansi terdekat perusahaan untuk meningkatkan kapasitas terpasang panas bumi.
Direktur Operasi Pertamina Geothermal Energy, Andi Joko Nugroho, menyampaikan bahwa pengembangan Lumut Balai Unit 3 merupakan bagian dari rencana penambahan kapasitas pembangkit secara bertahap. Target tersebut melanjutkan pengembangan Lumut Balai Unit 2 yang memiliki kapasitas 55 megawatt (MW).
“Saat ini yang upcoming adalah Lumut Balai 3. Lumut Balai 2 sudah di tahun lalu dengan 55 MW, mudah-mudahan 2029 kami canangkan untuk Lumut Balai 3,” ujar Andi di Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).
Saat ini, kapasitas terpasang yang dikelola PGEO mencapai 727 MW. Perusahaan menargetkan peningkatan kapasitas menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028, sebelum mencapai 1,8 GW pada 2034.
Perkuat Pengeboran di Empat Wilayah Kerja Panas Bumi
Untuk mendukung target ekspansi tersebut, PGEO mengintensifkan pengerjaan sumur dan kegiatan pengeboran di empat wilayah kerja panas bumi (WKP), yakni Kamojang di Jawa Barat, Lahendong di Sulawesi Utara, Lumut Balai di Sumatra Selatan, serta Ulubelu di Lampung.
Perusahaan menargetkan tambahan kapasitas sekitar 1.073 MW hingga 2034. Kebutuhan biaya pengembangan diperkirakan mencapai US$5 juta hingga US$6 juta per MW, bergantung pada kondisi geografis serta kompleksitas infrastruktur di setiap lokasi.
Berdasarkan estimasi tersebut, PGEO memperkirakan kebutuhan belanja modal untuk mengejar target penambahan kapasitas mencapai US$5,36 miliar hingga US$6,43 miliar. Dengan asumsi kurs Rp18.006 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp96,60 triliun hingga Rp115,92 triliun.
Besarnya kebutuhan investasi menunjukkan bahwa pengembangan panas bumi membutuhkan perencanaan pendanaan jangka panjang, terutama untuk mendukung eksplorasi, pengeboran, pembangunan fasilitas, dan pengembangan infrastruktur pendukung.
Kombinasikan Pendanaan Internal dan Kemitraan Strategis
Dalam memenuhi kebutuhan modal, PGEO mengombinasikan sejumlah sumber pendanaan, mulai dari modal internal dan sisa dana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO), hingga fasilitas pembiayaan hijau dan penerbitan obligasi hijau (green bond).
Perseroan juga menjalankan kemitraan strategis dengan PT PLN (Persero). Skema ini ditujukan untuk membagi risiko operasional dan kebutuhan belanja modal dalam pengembangan proyek panas bumi.
Salah satu contoh yang disampaikan perusahaan adalah proyek pemanfaatan air panas berkapasitas 30 MW di Ulubelu.
Melalui pengembangan proyek baru, penguatan pengeboran di wilayah kerja eksisting, serta diversifikasi sumber pendanaan, PGEO berupaya meningkatkan kapasitas panas bumi yang dikelolanya dalam beberapa tahun mendatang. Target tersebut akan bergantung pada realisasi proyek, kesiapan infrastruktur, dan kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan investasi yang telah direncanakan.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.