Senin, 19 Oktober 2026

BP dan Inpex Investasi US$42,7 Juta untuk Eksplorasi Migas di Perairan Bali

Foto: Dok. Ilustrasi   - Ilustrasi kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi lepas pantai di perairan Indonesia.
Foto: Dok. Ilustrasi - Ilustrasi kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi lepas pantai di perairan Indonesia.

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, JAKARTA – Potensi minyak dan gas bumi Indonesia kembali menjadi perhatian setelah British Petroleum (BP) dan Inpex Corporation berkomitmen menginvestasikan US$42,7 juta untuk kegiatan eksplorasi di Wilayah Kerja (WK) Migas Agung I dan Agung II, perairan Bali.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai keterlibatan kedua perusahaan tersebut memiliki arti strategis bagi upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Menurutnya, BP dan Inpex memiliki pengalaman, kemampuan teknologi, serta kapasitas finansial dalam mengembangkan proyek hulu migas berskala besar.

Investasi tersebut akan digunakan untuk kegiatan eksplorasi, termasuk survei seismik 2D sepanjang 285 kilometer dan survei seismik 3D seluas 3.650 kilometer persegi. Kegiatan ini ditujukan untuk memperoleh gambaran kondisi geologi bawah permukaan dan menilai potensi sumber daya migas di wilayah kerja tersebut.

Meski demikian, kegiatan eksplorasi belum menjamin ditemukannya cadangan yang dapat diproduksikan secara komersial. Keberhasilan proyek masih bergantung pada hasil survei, pembuktian geologi, serta evaluasi keekonomian.

Rekam Jejak BP dan Inpex di Indonesia

BP memiliki kegiatan produksi gas melalui fasilitas Tangguh LNG di Teluk Bintuni, Papua Barat. Berdasarkan data SKK Migas periode Januari–Juli 2026 yang dikutip dalam laporan ANTARA, BP Berau menyumbang sekitar 1.478 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), atau sekitar 28 persen dari total penyaluran gas nasional.

Selain kegiatan produksi yang telah berjalan, BP juga mengembangkan proyek lanjutan Ubadari dan fasilitas carbon capture, utilization and storage (CCUS). Proyek dengan nilai investasi yang disebut mencapai US$7 miliar tersebut diproyeksikan membuka tambahan pasokan gas sekitar 3 triliun kaki kubik (TCF) mulai 2028.

Sementara itu, Inpex memegang peran utama dalam pengembangan Proyek Abadi di Blok Masela. Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun serta pasokan gas pipa sebesar 150 MMSCFD untuk pasar domestik. Nilai investasinya disebut mencapai US$20,9 miliar.

Rekam jejak kedua perusahaan menjadi salah satu faktor yang disoroti dalam keterlibatan mereka di WK Migas Agung I dan Agung II. Namun, hasil eksplorasi di perairan Bali tetap harus dibuktikan melalui tahapan teknis yang berlaku.

Kepastian Regulasi dan Dukungan Daerah

Yayan juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah untuk menjaga kelancaran pengembangan proyek. Menurutnya, hambatan birokrasi dan persoalan sosial dapat memengaruhi jadwal pelaksanaan serta keekonomian kegiatan hulu migas.

Ia memperingatkan bahwa penundaan proyek dapat mengurangi nilai ekonomi yang diharapkan, termasuk penerimaan negara. Karena itu, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha dinilai penting, terutama dalam hal yang berada dalam kewenangan daerah.

Meski memiliki potensi, eksplorasi migas di wilayah laut dalam menghadapi tantangan geologi dan komersial. Yayan memperkirakan peluang keberhasilan geologi di wilayah tersebut sekitar 20 persen. Selain hasil eksplorasi, kepastian harga jual gas untuk pasar domestik juga menjadi faktor penting dalam menentukan kelanjutan proyek hingga keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID).

Potensi Pasokan Gas bagi Bali

Jika eksplorasi berhasil menemukan cadangan gas yang layak dikembangkan, hasilnya berpotensi mendukung pasokan energi domestik dan memberikan manfaat ekonomi bagi daerah, termasuk melalui mekanisme dana bagi hasil sesuai ketentuan yang berlaku.

Yayan juga menyoroti ketergantungan sistem kelistrikan Bali terhadap pasokan dari Jawa melalui kabel interkoneksi, yang menurut keterangannya berada pada kisaran 270–340 megawatt (MW).

Temuan gas yang dapat dikembangkan secara komersial berpotensi membuka pilihan tambahan bagi pasokan energi Bali. Namun, kontribusinya terhadap sistem kelistrikan akan bergantung pada besaran cadangan, rencana produksi, infrastruktur pengolahan dan transportasi gas, serta kebutuhan pembangkit.

Dengan demikian, komitmen investasi BP dan Inpex menjadi tahap awal untuk menguji potensi migas di perairan Bali. Hasil survei dan tahapan eksplorasi berikutnya akan menentukan apakah wilayah kerja tersebut dapat berkembang menjadi sumber pasokan energi baru bagi Indonesia.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!