Senin, 19 Oktober 2026

PLN EPI Mulai Pasok Bio-CNG ke PLTGU Belawan, Targetkan Bauran 10% pada 2030

Foto: Dok. PLN EPI – Pemanfaatan Bio-CNG sebagai campuran bahan bakar di PLTGU Belawan, Medan, Sumatera Utara.
Foto: Dok. PLN EPI – Pemanfaatan Bio-CNG sebagai campuran bahan bakar di PLTGU Belawan, Medan, Sumatera Utara.

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, MEDAN, 19 Oktober 2026 — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mulai memasok Compressed Biomethane Gas (Bio-CNG) untuk digunakan sebagai campuran bahan bakar di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Belawan, Medan, Sumatera Utara. Pemanfaatan gas terbarukan berbasis limbah organik ini menjadi bagian dari upaya diversifikasi energi primer dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan, pemanfaatan Bio-CNG di PLTGU Belawan telah melalui tahapan persiapan yang mencakup pengujian teknis, uji coba operasional, dan studi kelayakan. Pengiriman pertama secara kontraktual dimulai pada 8 Oktober 2026.

Pada tahap awal, pasokan Bio-CNG berasal dari fasilitas produksi mitra PLN EPI, PT KIS Biofuels Indonesia. Proporsi campurannya masih di bawah 2% dari total kebutuhan bahan bakar PLTGU Belawan, dengan kontribusi terhadap pembangkitan diperkirakan masih di bawah 1–2 megawatt (MW).

Implementasi awal ini menjadi tahap pengujian pemanfaatan biometana dalam operasional pembangkit. PLN EPI menargetkan peningkatan bauran Bio-CNG secara bertahap hingga mencapai 10% pada 2030, seiring pengembangan kapasitas produksi, penguatan rantai pasok bahan baku, dan perluasan kemitraan industri.

Bio-CNG Mengubah Limbah Organik Menjadi Energi

Bio-CNG merupakan gas terbarukan yang dihasilkan melalui pengolahan dan pemurnian biogas dari bahan organik. Salah satu sumber bahan bakunya adalah Palm Oil Mill Effluent (POME), yaitu limbah cair dari pabrik kelapa sawit.

Melalui proses pengolahan, gas metana dari limbah tersebut dipisahkan dan dimurnikan menjadi biometana. Gas kemudian dikompresi agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Selain berpotensi menggantikan sebagian penggunaan gas fosil, pemanfaatan Bio-CNG juga dapat membantu mengurangi emisi metana apabila gas dari pengolahan limbah ditangkap dan digunakan secara optimal.

Pengembangan teknologi ini membuka peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi limbah industri, sekaligus memperluas pilihan sumber energi primer bagi pembangkit listrik.

PLN EPI Jajaki Kolaborasi dengan Industri

Untuk memperluas pemanfaatan Bio-CNG, PLN EPI menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemilik pabrik kelapa sawit sebagai penyedia bahan baku, perusahaan teknologi pengolahan biogas, dan mitra investasi.

Hokkop menilai, Indonesia memiliki peluang pengembangan biometana karena ketersediaan limbah organik dari sektor perkebunan dan peternakan. Menurutnya, sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit berpotensi menjadi sumber POME untuk mendukung produksi Bio-CNG.

Ia juga menyebutkan bahwa pelibatan sekitar 300 pabrik kelapa sawit dalam rantai pasok dapat memperluas peluang pemanfaatan gas terbarukan pada pembangkit PLN.

Selain Sumatera Utara, PLN EPI memetakan peluang pengembangan Bio-CNG di sejumlah wilayah lain. Lampung dinilai memiliki potensi dari limbah peternakan, sedangkan Riau dan Kalimantan berpeluang mengembangkan biometana berbasis limbah cair industri kelapa sawit.

Pengembangan ini juga dapat menyasar pembangkit gas lain di Indonesia. Hokkop menyebutkan terdapat lebih dari 200 unit PLTG, PLTMG, dan PLTGU yang berpotensi memanfaatkan Bio-CNG, bergantung pada kesiapan teknis dan keekonomian masing-masing pembangkit.

"Setiap PLTG dan PLTMG memiliki potensi masing-masing untuk pengembangan energi hijau," ujarnya.

Potensi Bio-CNG dan Tantangan Pengembangannya

Hokkop memperkirakan, pemanfaatan potensi limbah organik dan POME secara optimal dapat menghasilkan energi setara sekitar 27 kargo LNG atau sekitar 3 juta MMBtu per tahun. Potensi tersebut menunjukkan peluang biometana sebagai salah satu alternatif energi primer untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Namun, perluasan pemanfaatan Bio-CNG memerlukan kajian lebih lanjut. PLN EPI akan memetakan lokasi pembangkit yang berdekatan dengan sumber bahan baku, sekaligus mengevaluasi kesiapan teknologi, kontinuitas pasokan, infrastruktur distribusi, serta keekonomian proyek.

Faktor-faktor tersebut menjadi penting karena ketersediaan bahan baku saja tidak otomatis menjamin proyek dapat beroperasi secara berkelanjutan. Pengembangan perlu memastikan bahwa pasokan gas terbarukan memenuhi kebutuhan pembangkit dan dapat disalurkan dengan biaya yang layak.

Dimulainya pasokan Bio-CNG ke PLTGU Belawan menjadi langkah awal dalam menguji penerapan biometana sebagai campuran bahan bakar pembangkit. Pencapaian target bauran 10% pada 2030 akan bergantung pada kemampuan PLN EPI dan mitranya mengembangkan produksi, membangun rantai pasok, serta memastikan kesiapan teknis dan keekonomian di lokasi berikutnya.

Dengan pengembangan tersebut, limbah organik berpeluang menjadi sumber energi bernilai tambah sekaligus mendukung diversifikasi energi primer di Indonesia.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!