SINERGYNEWS.ID, BATAM – PT PLN Batam menyatakan pemulihan pasokan listrik di Pulau Batam dan Pulau Bintan, Kepulauan Riau, pascagangguan sistem kelistrikan pada Senin (12/10/2026), telah mencapai 100 persen pada Rabu (14/10/2026).
Direktur Utama PT PLN Batam Kwin Fo menjelaskan, gangguan bermula pada Senin pukul 06.28 WIB di salah satu transformator pada Gardu Induk Sei Harapan, Batam. Gangguan berupa flashover atau loncatan listrik yang menimbulkan percikan api tersebut memicu hubungan arus pendek (short circuit).
Menurut Kwin, pemutus arus atau circuit breaker (CB) yang seharusnya memutus aliran listrik ketika terjadi gangguan tidak bekerja sebagaimana mestinya. Akibatnya, gangguan masuk ke jaringan utama PLN Batam bertegangan 120 kilovolt (kV) dan menjalar dari wilayah Sagulung hingga pembangkit listrik di Tanjung Uncang.
Gangguan pada pembangkit Tanjung Uncang kemudian diikuti pembangkit lainnya yang tidak mampu menggantikan pasokan daya dari pembangkit bertegangan 220 kV tersebut. Pada pukul 06.37 WIB, seluruh pembangkit terlepas dari sistem kelistrikan Batam.
PLN Batam mulai melakukan pemulihan secara bertahap sekitar pukul 08.00 WIB melalui penormalan pasokan listrik di setiap gardu. Pada Senin sekitar pukul 22.00 WIB, pasokan listrik di Batam telah pulih sekitar 69 persen.
Pemulihan di Pulau Batam mencapai 100 persen sekitar pukul 01.00 WIB pada Selasa (13/10/2026) dini hari. Sementara itu, penormalan pasokan listrik di Pulau Bintan membutuhkan waktu lebih lama dan baru mencapai 100 persen pada Rabu sekitar pukul 18.30 WIB.
Kwin menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas keterlambatan pemulihan pasokan listrik di Bintan.
PLN Batam Uji Peralatan Bersama Aparat
Setelah sistem kelistrikan kembali normal, PLN Batam melakukan penyelidikan kronologi kejadian serta pengujian peralatan untuk memastikan seluruh perangkat berfungsi sesuai standar.
Direktur Operasi PT PLN Batam Dinda Alamsyah mengatakan, tim teknis PLN Batam bersama Kepolisian Daerah Kepulauan Riau dan Bareskrim Polri melakukan uji fungsi peralatan di Gardu Induk Sei Harapan pada Jumat (16/10/2026).
Sebelum pengujian, tim memeriksa riwayat pemeliharaan peralatan. Pengujian kemudian dilakukan terhadap sejumlah perangkat, termasuk CB 150 kV yang berfungsi sebagai pemutus arus.
Dinda menjelaskan, hasil pengujian waktu kerja dan keserempakan menunjukkan seluruh peralatan CB 150 kV yang diperiksa berfungsi normal. Pengujian serupa terhadap CB 20 kV juga menunjukkan hasil normal.
Tim turut menguji peralatan pendukung, termasuk baterai yang memasok daya arus searah (direct current/DC).
Menurut Dinda, seluruh peralatan yang diperiksa berfungsi normal sesuai Standar PLN (SPLN) yang berlaku. Kondisi tersebut juga terlihat selama proses penormalan sistem kelistrikan, ketika peralatan dapat beroperasi tanpa kendala.
Meski demikian, hasil pengujian fungsi peralatan setelah kejadian perlu dibedakan dari penetapan penyebab teknis gangguan secara menyeluruh. Penyelidikan kronologi kejadian tetap menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana gangguan awal dapat menjalar hingga menyebabkan seluruh pembangkit terlepas dari sistem.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.