Selasa, 20 Oktober 2026

Karhutla Picu ISPA hingga Krisis Air, Pemuda Energi Indonesia Sebut Kegagalan Penanganan Kontradiktif dengan Asta Cita Presiden Prabowo

Foto: Kebakaran Gunung Klabat
Foto: Kebakaran Gunung Klabat

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta, 20 Oktober 2026 — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terus meluas di berbagai wilayah tanah air menuai sorotan tajam. Pemuda Energi Indonesia secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap kritis terkait kegagalan mitigasi dampak karhutla yang dinilai telah membawa Indonesia ke ambang krisis multidimensi: krisis iklim, krisis air bersih, dan krisis energi.

Ketua Umum Pemuda Energi Indonesia, Erwin Damanik, menyatakan bahwa dampak karhutla saat ini sudah berada pada tahap yang sangat mengkhawatirkan dan merugikan masyarakat secara langsung. Selain memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di berbagai daerah, bencana tahunan ini juga menyumbang emisi karbon dalam jumlah yang sangat tinggi.

Gambar Artikel

"Kondisi ini sangat kontradiktif dan menjadi tamparan keras di tengah gencar-gencarnya Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hidup memimpin program perdagangan karbon, dengan ambisi membawa Indonesia menuju pusat perdagangan karbon dunia. Bagaimana kita bisa menjual kredit karbon ke pasar global jika hutan yang menjadi aset penyerap emisi kita justru terus dibiarkan terbakar hebat?" tegas Erwin Damanik dalam keterangan resminya di Jakarta hari ini.

Gambar Artikel
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam konferensi pers setelah penyerahan persetujuan perdagangan karbon sektor kehutanan untuk empat proyek dengan luas total 225.000 hektare. Foto: Dok. Kementerian Kehutanan.

Lumpuhkan PLTA dan Mengancam Asta Cita

Lebih jauh, Pemuda Energi Indonesia menyoroti dampak kerusakan ekologis hulu yang kini mulai mengancam ketahanan energi nasional. Akibat rusaknya kawasan hutan di sekitar daerah aliran sungai, pasokan debit air mengalami penurunan drastis dan sedimentasi meningkat. Kondisi ini mengakibatkan sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) tidak dapat beroperasi secara optimal.

Menurut Erwin, matinya atau menurunnya kapasitas produksi PLTA akibat karhutla merupakan bukti nyata bahwa krisis lingkungan hidup berdampak langsung pada kegagalan target transisi energi bersih. Situasi darurat ini dinilai sangat tidak sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan kemandirian ekonomi, swasembada pangan, air, dan energi.

"Asta Cita Presiden Prabowo secara tegas mengamanatkan swasembada air dan energi sebagai pilar kedaulatan bangsa. Kegagalan penanganan karhutla ini secara langsung merusak ekosistem air bersih dan melumpuhkan infrastruktur energi terbarukan kita seperti PLTA. Ini adalah alarm bahaya bagi pencapaian visi besar pemerintah," tambah Erwin.

Gambar Artikel

Rekomendasi Tegas Pemuda Energi Indonesia

Merespons situasi darurat iklim dan energi ini, Pemuda Energi Indonesia mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah taktis:

  1. Audit Total Penegakan Hukum: Mendesak Kementerian LHK dan aparat penegak hukum untuk menindak tegas korporasi maupun oknum di balik karhutla tanpa pandang bulu.
  2. Sinkronisasi Kebijakan Perdagangan Karbon dan Konservasi: Meminta Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim untuk mengintegrasikan dana dari skema perdagangan karbon domestik/internasional guna mendanai pengawasan hulu hutan secara real-time.
  3. Penyelamatan Hulu DAS PLTA: Mendesak Kementerian ESDM, Kementerian PU, dan KLH untuk segera melakukan pemulihan darurat dan reboisasi pada kawasan hutan penyangga di sekitar waduk/DAS PLTA guna menyelamatkan pasokan listrik berbasis energi terbarukan.

"Kita tidak boleh membiarkan ego sektoral mengorbankan kesehatan rakyat dan ketahanan energi nasional. Pemuda Energi Indonesia akan terus mengawal isu ini agar implementasi Asta Cita Presiden Prabowo di sektor lingkungan dan energi tidak tersandera oleh kelalaian penanganan karhutla," tutup Erwin Damanik.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!