Rabu, 28 Oktober 2026

Pertamina Produksi 11 Juta Liter SAF dari Minyak Jelantah, Libatkan Bank Sampah

Foto: Pertamina Patra Niaga
Foto: Pertamina Patra Niaga

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Cilacap — PT Pertamina Patra Niaga memproduksi sekitar 11 juta liter Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan sepanjang Oktober 2026 melalui fasilitas Green Refinery Cilacap, Jawa Tengah. Produksi ini memanfaatkan minyak jelantah sebagai salah satu bahan baku melalui teknologi pengolahan di kilang.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau proses pengolahan minyak jelantah menjadi SAF di Kilang Cilacap pada Senin (26/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, Gibran menekankan pentingnya menghubungkan inovasi energi dengan pemberdayaan masyarakat agar limbah rumah tangga memiliki nilai ekonomi.

“Pengembangan SAF harus berjalan bersama pemberdayaan masyarakat. Sehingga minyak jelantah yang dikelola ibu-ibu melalui bank sampah dapat memiliki nilai ekonomi dan terhubung dengan industri nasional,” ujar Gibran, dikutip dari keterangan tertulis Pertamina Patra Niaga.

Minyak Jelantah Diolah dengan Teknologi Co-Processing

Wakil Direktur Utama I Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, menjelaskan bahwa produksi SAF dilakukan di Green Refinery Cilacap menggunakan fasilitas Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT).

Proses tersebut menerapkan skema co-processing, yaitu mengolah minyak jelantah bersama komponen bahan baku lainnya dalam satu rangkaian produksi. Dalam implementasinya, minyak jelantah digunakan dengan rasio maksimal sekitar 5% dari total kapasitas produksi unit TDHT.

Menurut Taufik, produksi yang telah memasuki tahap komersialisasi ini merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan infrastruktur kilang yang tersedia untuk menghasilkan produk energi berkelanjutan.

Selain SAF, Pertamina Patra Niaga juga telah melakukan uji coba pemanfaatan minyak jelantah sebagai salah satu bahan baku green gasoline.

Bank Sampah Dilibatkan dalam Rantai Pasok

Pengembangan SAF turut diikuti dengan pembangunan ekosistem pengumpulan minyak jelantah melalui program Community, Involvement and Development (CID). Pertamina Patra Niaga melibatkan masyarakat dan kelompok pengelola sampah di sekitar wilayah operasional Kilang Cilacap.

Tiga bank sampah binaan yang terlibat adalah Bank Sampah Beo Asri, Bank Sampah Abhipraya, dan Bank Sampah Cahaya Asri. Berdasarkan data perusahaan, volume pengumpulan tahunan masing-masing mencapai 2.283 liter dari Beo Asri, 984 liter dari Abhipraya, dan 717 liter dari Cahaya Asri.

Pertamina Patra Niaga juga menyediakan Collection Box Jelantah di Pasar Amarta, Kutawaru, untuk memudahkan masyarakat menyalurkan minyak jelantah yang tidak lagi digunakan. Fasilitas serupa tersedia di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di berbagai wilayah Indonesia.

Minyak jelantah yang disetorkan melalui bank sampah maupun kotak pengumpulan dapat ditukarkan dengan uang atau saldo dompet digital. Mekanisme ini ditujukan untuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus mendorong pengelolaan limbah secara bertanggung jawab.

Menurut Taufik, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun rantai pasok bahan baku yang berkelanjutan. Minyak jelantah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan industri.

Sertifikasi dan Pasar SAF

Pertamina Patra Niaga menyatakan telah memperoleh sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk skema Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) yang ditetapkan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), serta untuk regulasi Uni Eropa. Sertifikasi tersebut mencakup kegiatan kilang SAF dan perdagangan SAF.

Produk Pertamina SAF juga telah dipasarkan kepada sejumlah maskapai penerbangan domestik dan internasional. Namun, pengembangan pasar selanjutnya tetap bergantung pada kesiapan rantai pasok, kebutuhan pembeli, dan pemenuhan persyaratan keberlanjutan yang berlaku.

Produksi SAF berbahan baku minyak jelantah memperlihatkan upaya menghubungkan teknologi pengolahan di kilang dengan ekonomi sirkular. Melalui kolaborasi industri dan masyarakat, minyak jelantah berpeluang menjadi bahan baku energi penerbangan sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari limbah.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!