SINERGYNEWS.ID, Jakarta — PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat rasio keberhasilan eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) sekitar 73% setelah delapan dari 11 sumur eksplorasi yang telah dibor berhasil menemukan minyak dan gas. Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menemukan sumber daya baru untuk menopang keberlanjutan produksi migas nasional.
Direktur Eksplorasi PHE, Asep Samsul Arifin, menyampaikan bahwa perusahaan menargetkan penyelesaian pengeboran 16 sumur eksplorasi sepanjang 2026. Hingga periode pelaporan, sebanyak 11 sumur telah selesai dibor, dengan delapan di antaranya menghasilkan penemuan migas (discovery).
Selain capaian eksplorasi, PHE melaporkan produksi minyak sekitar 459.000 barel per hari dan produksi gas mencapai 2.756 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD). Perusahaan menyebut kinerja produksi tersebut telah mendekati target yang ditetapkan.
Eksplorasi Berawal dari Pemahaman Geologi
Asep menjelaskan, tantangan utama eksplorasi migas adalah mengidentifikasi lokasi sumber daya yang berada jauh di bawah permukaan bumi dan tidak dapat diamati secara langsung. Karena itu, kegiatan eksplorasi membutuhkan pemahaman mengenai karakteristik geologi dan petunjuk yang dapat mengindikasikan keberadaan minyak serta gas.
Dalam sejarah pencarian minyak, rembesan alami yang muncul di permukaan tanah menjadi salah satu petunjuk awal untuk mengenali wilayah berpotensi migas. Namun, eksplorasi modern telah berkembang menjadi proses yang lebih sistematis dengan dukungan ilmu geosains, interpretasi kondisi bawah permukaan, dan teknologi pengeboran.
Menurut Asep, tanda-tanda yang ditemukan di permukaan perlu ditafsirkan melalui rekonstruksi kondisi geologi suatu wilayah. Pendekatan tersebut membantu menentukan lokasi yang layak diteliti dan dibor lebih lanjut.
Ia juga menilai geosains memiliki cakupan yang luas, tidak terbatas pada industri minyak dan gas. Pemahaman mengenai proses alam dan kondisi kebumian dapat menjadi dasar untuk mempelajari berbagai fenomena geologi, termasuk yang berkaitan dengan potensi sumber daya energi.
Penemuan Baru untuk Menopang Produksi
Keberhasilan menemukan migas melalui pengeboran eksplorasi menjadi tahap awal sebelum sumber daya tersebut dapat dikembangkan. Setelah penemuan, perusahaan perlu melanjutkan kajian dan proses pengembangan agar potensi yang ditemukan dapat memberikan kontribusi terhadap produksi.
Asep berharap penemuan baru PHE dapat menopang produksi yang sudah berjalan, menjaga keberlanjutan pasokan, dan membuka peluang peningkatan produksi pada masa mendatang.
Selain jumlah sumur yang berhasil menemukan migas, kinerja eksplorasi juga dinilai berdasarkan potensi penambahan sumber daya. PHE mencatat sumber daya migas kategori 2C RR hingga semester I/2026 mencapai 108 juta barel setara minyak (million barrels of oil equivalent atau MMBOE).
Angka tersebut menjadi salah satu indikator untuk mengukur potensi hasil eksplorasi. Meski demikian, sumber daya yang teridentifikasi tidak serta-merta menjadi produksi, karena masih memerlukan tahapan evaluasi dan pengembangan.
Peran Geosains dalam Ketahanan Energi
Asep menilai meningkatnya pemahaman generasi muda mengenai pentingnya energi dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong minat terhadap ilmu geosains dan industri migas. Energi berperan dalam berbagai aktivitas masyarakat dan kegiatan ekonomi, sehingga keberlanjutan pasokan menjadi isu penting bagi Indonesia.
Dengan target pengeboran 16 sumur eksplorasi sepanjang tahun dan delapan penemuan dari 11 sumur yang telah dibor, PHE melanjutkan upaya mencari sumber daya baru. Keberhasilan eksplorasi berikutnya akan bergantung pada ketepatan identifikasi geologi, hasil pengeboran, serta kemampuan perusahaan mengembangkan penemuan menjadi sumber produksi yang ekonomis.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.