SINERGYNEWS.ID, Bali — PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menjalin kerja sama strategis dengan Singapore LNG (SLNG) untuk mengembangkan biometan berbahan baku limbah biogas dari pabrik kelapa sawit. Kolaborasi ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan energi rendah karbon di dalam negeri sekaligus membuka peluang pasar ekspor.
CEO Pertamina NRE Jon Anis mengatakan, kerja sama tersebut menggabungkan potensi bahan baku yang tersedia di Indonesia dengan akses pasar dan infrastruktur terminal rendah karbon yang dimiliki Singapura.
“Mereka punya market, kita punya feedstock dalam hal ini bahan baku, dan kita nanti juga punya teknologi, kita kerja samakan bersama-sama sehingga saling menguntungkan,” ujar Jon Anis saat ditemui di sela-sela pertemuan ke-51 ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) di The Meru Sanur, Bali, Selasa (27/10/2026).
Menurut Jon, kemitraan ini mendukung strategi pertumbuhan ganda (dual growth strategy) Pertamina NRE, khususnya dalam pengembangan bisnis rendah karbon. Kolaborasi dengan mitra yang telah memiliki akses pasar dan teknologi dinilai dapat mempercepat komersialisasi produk tanpa harus membangun seluruh ekosistem bisnis secara mandiri.
“Jadi dual growth strategy kita justru akan sangat terbantukan dan akan lebih cepat lagi. Karena kita enggak nyari sendiri market-nya atau kita enggak develop sendiri teknologinya,” katanya.
Petakan Potensi Bahan Baku dari 27 Pabrik Sawit
Untuk mendukung kesiapan pasokan bahan baku, Pertamina NRE telah memetakan potensi dari sekitar 27 pabrik kelapa sawit di Sumatra. Pemetaan tersebut dibagi ke dalam empat klaster utama, yakni Sumatra Utara, Riau, Jambi, serta Lampung dan Palembang.
Pengelompokan ini menjadi bagian dari persiapan pengembangan proyek biometan yang memanfaatkan limbah biogas dari industri kelapa sawit sebagai bahan baku.
Saat ini, studi kelayakan (feasibility study) proyek tersebut menunjukkan kemajuan. Pertamina NRE juga tengah mematangkan skema transportasi dan penyaluran biometan, baik melalui jaringan pipa maupun pengangkutan menggunakan truk.
Selain menyiapkan infrastruktur distribusi, perusahaan menargetkan pengamanan surat minat (letter of intent) dari calon pembeli atau off-taker. Langkah ini diperlukan untuk memperjelas potensi permintaan sebelum proyek memasuki tahap pengembangan berikutnya.
Jon menjelaskan, perusahaan juga sedang merinci lokasi pembangunan fasilitas produksi agar sedekat mungkin dengan pabrik-pabrik kelapa sawit sebagai sumber bahan baku.
“Sementara kita mematangkan detail study-nya untuk nanti pembangunan pabriknya yang ada di dekat perusahaan-perusahaan atau pabrik-pabrik dari kelapa sawit,” ujarnya.
Siapkan Skema Distribusi untuk Pasar Ekspor
Salah satu tantangan dalam pengembangan biometan adalah lokasi fasilitas produksi yang belum tentu berdekatan dengan jaringan pipa gas yang tersedia. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pertamina NRE mempertimbangkan mekanisme virtual transfer atau pertukaran gas (gas swapping).
Melalui skema ini, biometan yang diproduksi dapat disalurkan untuk memenuhi kebutuhan domestik di lokasi terdekat. Sementara itu, gas dalam volume setara dari lokasi lain dapat dialirkan melalui jaringan pipa menuju pasar ekspor yang telah tersedia.
Mekanisme tersebut berpotensi memberikan fleksibilitas distribusi tanpa mengharuskan setiap fasilitas produksi terhubung langsung dengan jaringan pipa menuju pasar ekspor.
Kerja sama dengan Singapore LNG menjadi bagian dari upaya Pertamina NRE mengembangkan bisnis energi rendah karbon dengan memanfaatkan potensi limbah industri domestik. Meski demikian, realisasi proyek masih bergantung pada penyelesaian studi kelayakan, kepastian pasokan bahan baku, kesiapan infrastruktur distribusi, dan komitmen calon pembeli.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.