SINERGYNEWS.ID, Jakarta — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI melanjutkan strategi pembelian kembali saham (buyback) untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham. Perseroan menilai langkah tersebut mencerminkan keyakinan terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang, dengan tetap memperhatikan kondisi keuangan serta ketentuan yang berlaku.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 24 Maret 2025, pemegang saham BRI telah menyetujui pelaksanaan buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun. Pembelian kembali saham dapat dilakukan melalui bursa efek maupun di luar bursa, secara bertahap atau sekaligus sesuai peraturan yang berlaku.
Memasuki 2026, BRI kembali menjalankan strategi tersebut di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi. Berdasarkan keterbukaan informasi pada 12 Juni 2026, perseroan mengalokasikan dana maksimal Rp500 miliar untuk buyback tahap pertama yang berlangsung pada 12 Juni hingga 11 September 2026.
Selanjutnya, melalui keterbukaan informasi pada 22 Oktober 2026, BRI mengumumkan rencana buyback tahap kedua dengan nilai maksimal Rp1 triliun. Pelaksanaannya dijadwalkan pada 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027.
Buyback Pertimbangkan Kondisi Pasar dan Permodalan
Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengatakan pelaksanaan buyback secara bertahap merupakan bagian dari strategi perseroan untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham. Keputusan tersebut tetap mempertimbangkan kondisi keuangan dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
“Langkah buyback saham ini mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Perseroan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dhanny dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).
Menurut Dhanny, keputusan buyback juga mempertimbangkan dinamika pasar global, termasuk ketidakpastian ekonomi, tensi geopolitik, pergerakan harga komoditas, serta arus modal yang memengaruhi volatilitas pasar keuangan Indonesia.
Laba Bersih BRI Capai Rp31,2 Triliun
Dari sisi kinerja, hingga akhir triwulan II 2026, BRI mencatatkan laba bersih sebesar Rp31,2 triliun. Total aset perseroan tumbuh 11,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp2.352 triliun.
Pada periode yang sama, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6,7% menjadi Rp1.581 triliun. Sementara itu, penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 16,2% menjadi Rp1.646 triliun.
Kinerja tersebut ditopang oleh posisi permodalan dan likuiditas yang dinilai kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat sebesar 21,5%, sedangkan Loan to Deposit Ratio (LDR) berada pada level 90,8%.
Posisi tersebut memberikan ruang bagi BRI untuk menjalankan fungsi intermediasi sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat dan berkelanjutan.
Fokus pada Pertumbuhan Berkelanjutan
Dhanny menyampaikan bahwa BRI akan terus berfokus pada penguatan kinerja bisnis dan pertumbuhan yang sehat. Perseroan juga menekankan pentingnya menjaga fundamental serta kecukupan modal dalam menjalankan strategi jangka panjang.
“Dengan fundamental dan permodalan yang kuat, kami optimistis BRI memiliki ruang untuk terus bertumbuh serta memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang,” pungkasnya.
Pelaksanaan buyback menjadi salah satu langkah korporasi BRI dalam mengelola nilai pemegang saham. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada kinerja perusahaan, kondisi pasar, serta pelaksanaan strategi bisnis secara berkelanjutan.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.