Selasa, 27 Oktober 2026

Impor BBM dari Singapura Tetap Berlanjut Meski Indonesia Pangkas Ekspor Gas

Foto: Kilang Minyak
Foto: Kilang Minyak

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta — Pemerintah Indonesia memastikan kebijakan pengurangan ekspor gas alam ke Singapura tidak akan mengganggu impor bahan bakar minyak (BBM) dari negara tersebut. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah telah memperhitungkan dampak kebijakan itu terhadap kebutuhan energi nasional.

Bahlil menyampaikan pernyataan tersebut di Kantor Kementerian ESDM, Senin (26/10/2026), menyusul keputusan Indonesia mengurangi pasokan gas pipa ke Singapura sebesar 31 juta kaki kubik standar per hari.

“RON 90 [Pertalite] itu masih impor dari negara sebelah [Singapura]. Saya sudah memperhitungkan semuanya,” ujar Bahlil kepada awak media.

Menurut Bahlil, pengurangan ekspor gas telah melalui pertimbangan pemerintah agar tidak menimbulkan gangguan terhadap pasokan energi dalam negeri maupun hubungan bilateral dengan Singapura.

“Kita sebelum melangkah, tidak mungkin tidak mempertimbangkan, kita sudah mempertimbangkan semuanya,” katanya.

Ekspor Gas Dipangkas 31 MMscfd

Berdasarkan data Kementerian ESDM yang disampaikan Bahlil, ekspor gas alam Indonesia ke Singapura melalui jalur Natuna dan Sumatra sebelumnya mencapai 409,55 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day atau MMscfd).

Pemerintah memutuskan mengurangi pasokan sebesar 31 MMscfd, atau sekitar 8% dari total ekspor gas pipa ke Singapura. Bahlil juga menyebut, berdasarkan kajian Singapura, pengurangan tersebut diperkirakan berdampak sekitar 2% terhadap total konsumsi gas domestik negara itu.

Ia menjelaskan, keputusan tersebut dipengaruhi gangguan operasional yang tidak direncanakan (unplanned shutdown) serta meningkatnya kebutuhan gas di dalam negeri yang harus diprioritaskan.

Bahlil menegaskan pengurangan pasokan masih berada dalam batas minimum yang diatur dalam kontrak.

“31 MMscfd yang kita potong itu masih di batas kontrak minimum,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa Indonesia tetap menghormati komitmen kerja sama internasional. Namun, pemerintah juga menempatkan kebutuhan dan keselamatan energi nasional sebagai pertimbangan utama dalam pengelolaan sumber daya energi.

Selain menyalurkan gas melalui jaringan pipa, Indonesia juga masih mengekspor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ke pasar internasional.

SKK Migas Mulai Kurangi Pasokan dari Natuna dan Sumatra

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sebelumnya mengumumkan pengurangan ekspor gas ke Singapura mulai 24 Oktober 2026.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan pengurangan dilakukan dari dua wilayah, yakni Natuna sebesar 15 miliar British thermal unit per hari (BBtud) dan Sumatra sebesar 16 BBtud. Total pengurangan mencapai 31 BBtud.

“Mulai besok [hari ini] kita kurangi [ekspor] gas ke Singapura dari Natuna 15 BBtud, dari Sumatra 16 BBtud,” kata Djoko kepada awak media di sela-sela Subroto Awards 2026, Jumat (23/10/2026) malam.

Untuk wilayah Sumatra, pengurangan pasokan berasal dari Wilayah Kerja Jambi Merang. Djoko menegaskan kebijakan tersebut hanya berlaku pada ekspor gas yang disalurkan melalui pipa menuju Singapura.

Perlu dicatat, angka pengurangan yang disampaikan SKK Migas menggunakan satuan BBtud, sedangkan Bahlil menyebut volume dalam MMscfd. Keduanya merupakan satuan berbeda sehingga angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung tanpa konversi yang sesuai.

Pemerintah Tekankan Prinsip Kesetaraan

Bahlil mengatakan Indonesia tetap berkomitmen menghormati perjanjian energi yang telah disepakati. Pada saat yang sama, ia meminta agar hubungan bilateral dengan Singapura didasarkan pada prinsip kesetaraan atau equal treatment.

Menurutnya, kerja sama energi perlu mempertimbangkan kepentingan kedua negara, termasuk ketika salah satu pihak menghadapi kebutuhan domestik atau gangguan operasional.

“Indonesia ini terlalu baik. Menghargai kontrak, tapi di atas itu adalah hubungan keselamatan negara. Harus sama-sama menghargai,” ujar Bahlil.

Pemerintah menyatakan telah memperhitungkan kebijakan pengurangan ekspor gas dan dampaknya terhadap impor BBM. Meski demikian, perkembangan pasokan energi lintas negara tetap menjadi perhatian, mengingat Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan BBM, termasuk RON 90 yang disebut Bahlil masih dipasok dari Singapura.

Kebijakan ini memperlihatkan tantangan pengelolaan energi Indonesia: menjaga pasokan bagi kebutuhan domestik sekaligus mempertahankan kerja sama perdagangan energi dengan negara tetangga.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!