SINERGYNEWS.ID, Jakarta — Bangkai kapal motor penyeberangan (KMP) Batumandi yang tenggelam di alur masuk Pelabuhan Merak, Banten, menyimpan risiko pencemaran laut dan gangguan navigasi. Pengamat maritim dari Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI Strategic Centre (IKAL SC), Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, mengingatkan bahwa penanganan kecelakaan tidak berhenti setelah seluruh penumpang dan awak berhasil dievakuasi.
KMP Batumandi, kapal milik PT ASDP Indonesia Ferry yang melayani lintasan Merak–Bakauheni, tenggelam pada Rabu (21/10/2026) sekitar pukul 20.54 WIB setelah mengalami kebakaran sejak Selasa (20/10/2026) sore.
Kapal tersebut mengangkut 420 penumpang dan 40 awak. Seluruhnya dilaporkan selamat berkat bantuan puluhan kapal nelayan, sementara 89 kendaraan yang diangkut kapal ikut tenggelam.
“Risiko pencemaran laut, gangguan navigasi, dan bahaya yang ditimbulkan bangkai kapal harus ditangani secara sistematis,” kata Hakeng.
Risiko Kebocoran Bahan Bakar dan Gangguan Navigasi
Hakeng mengingatkan bahwa sisa bahan bakar dan minyak pelumas dari bangkai kapal berpotensi mencemari perairan apabila terjadi kebocoran. Karena itu, langkah penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Jika terdapat potensi tumpahan minyak, penggunaan oil boom atau penghalang minyak dan oil skimmer atau alat pengumpul minyak dapat dipertimbangkan. Penanganan juga perlu melibatkan pihak yang berwenang dalam penanggulangan pencemaran serta perusahaan penyelamatan kapal (salvage).
Selain risiko lingkungan, keberadaan bangkai kapal di alur masuk pelabuhan dapat membahayakan navigasi. Pelampung penanda perlu dipasang di sekitar lokasi untuk memberi peringatan kepada kapal yang melintas.
Rencana pengangkatan atau pemindahan bangkai kapal juga harus dikoordinasikan dengan otoritas terkait. Langkah tersebut perlu memperhatikan keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan, dan kebutuhan investigasi untuk mengungkap penyebab kecelakaan.
Menurut Hakeng, keberhasilan penanganan kecelakaan maritim tidak cukup diukur dari kecepatan evakuasi. Pengendalian risiko lanjutan, pengungkapan penyebab kejadian secara objektif, dan penerapan perbaikan keselamatan juga menjadi bagian penting.
Kebakaran Kapal Memerlukan Penanganan Berlapis
Hakeng menjelaskan bahwa kebakaran kapal termasuk keadaan darurat yang kompleks. Ruang kapal yang terbatas, bahan bakar, mesin, instalasi listrik, serta kendaraan yang diangkut dapat membuat api cepat membesar dan sulit dikendalikan.
Dalam kondisi darurat, keselamatan manusia tetap menjadi prioritas utama. Namun, upaya penyelamatan juga harus memperhitungkan kondisi teknis dan stabilitas kapal, keselamatan kapal lain, serta potensi dampak terhadap lingkungan.
Pemilihan lokasi untuk proses evakuasi dan pemadaman pun perlu mempertimbangkan berbagai faktor, seperti jarak ke dermaga, kepadatan lalu lintas kapal, kondisi cuaca, arah angin, arus laut, dan akses tim penyelamat.
Hakeng mengingatkan bahwa mengguyur kapal dengan air sebanyak mungkin tidak selalu menjadi pilihan yang tepat. Air yang tertahan di dalam lambung atau kompartemen kapal dapat memengaruhi keseimbangan dan daya apung.
Ia menjelaskan fenomena free surface effect, yaitu pergerakan air yang bebas di dalam tangki atau kompartemen. Pergerakan tersebut dapat mengurangi stabilitas kapal, terutama ketika kapal sudah berada dalam posisi miring. Dalam kondisi tertentu, genangan air justru dapat memperparah kemiringan kapal.
Karena itu, proses pemadaman harus mempertimbangkan hubungan antara pengendalian api dan stabilitas kapal. Setelah api padam, struktur kapal yang masih panas juga perlu didinginkan untuk mencegah penyalaan kembali. Pemeriksaan gas beracun dan zat berbahaya harus dilakukan sebelum petugas memasuki ruang tertutup.
Penyebab Kebakaran Harus Menunggu Hasil Investigasi
Hakeng menyebut sejumlah faktor yang secara umum dapat memicu kebakaran kapal, antara lain kelalaian manusia, gangguan mekanis, kerusakan kelistrikan, dan keberadaan muatan yang mudah terbakar. Namun, faktor-faktor tersebut belum dapat dinyatakan sebagai penyebab kebakaran KMP Batumandi sebelum hasil investigasi resmi tersedia.
Ia juga menjelaskan bahwa tenggelamnya kapal dapat berkaitan dengan sejumlah faktor teknis, seperti kerusakan struktur akibat panas ekstrem, kebocoran lambung, masuknya air laut, hingga kegagalan pompa pembuangan.
Kerusakan pada sistem kelistrikan dan permesinan dapat membuat pompa tidak berfungsi. Sementara itu, gangguan kemudi dapat menyulitkan kapal mempertahankan posisinya ketika menghadapi angin dan arus.
Meski demikian, seluruh kemungkinan tersebut perlu dibuktikan melalui pemeriksaan teknis, data operasional, dan analisis kondisi bangkai kapal. Penetapan penyebab kecelakaan tidak seharusnya didasarkan pada asumsi.
“Investigasi harus mampu menjelaskan urutan kejadian secara menyeluruh, mulai dari sumber kebakaran, perkembangan api, kondisi kapal selama penanganan, hingga faktor yang menyebabkan kapal kehilangan daya apung. Hasilnya harus menjadi dasar perbaikan sistem keselamatan, bukan sekadar penjelasan mengenai satu kecelakaan,” tegas Hakeng.
Evaluasi Keselamatan dan Manajemen Krisis Pelayaran
Selamatnya seluruh penumpang dan awak KMP Batumandi menjadi aspek penting dalam penanganan kecelakaan tersebut. Namun, Hakeng menilai keberhasilan evakuasi perlu ditindaklanjuti dengan evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan sistem keselamatan pelayaran.
Evaluasi itu dapat mencakup pemeriksaan peralatan keselamatan, kompetensi awak kapal, sistem komunikasi, dan koordinasi dengan unsur penyelamat. Pelatihan rutin, simulasi kebakaran, pemeriksaan peralatan, serta prosedur evakuasi yang teruji juga diperlukan untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat.
Menurut Hakeng, penyelamatan korban, pemadaman api, pengendalian stabilitas kapal, pengamanan barang bukti, dan perlindungan lingkungan harus menjadi bagian dari satu sistem penanganan krisis yang terintegrasi.
Tenggelamnya KMP Batumandi menjadi momentum untuk mengevaluasi kesiapan penanganan kecelakaan kapal, termasuk bagaimana risiko terhadap lingkungan dan keselamatan navigasi dikelola setelah proses evakuasi selesai.
Penanganan yang menyeluruh diperlukan agar dampak kecelakaan dapat dikendalikan, penyebab kejadian terungkap melalui investigasi objektif, dan hasil evaluasi dapat digunakan untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.