Kamis, 29 Oktober 2026

Pertamina Ungkap Potensi Temuan Migas Raksasa di Jambi Merang, Capai 1,4 Miliar Barel

Foto: PT Pertamina (Persero)
Foto: PT Pertamina (Persero)

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Denpasar – PT Pertamina (Persero) mengungkap potensi temuan minyak dan gas bumi (migas) berskala besar di Sumur Padang Pancuran, Wilayah Kerja (WK) Jambi Merang, Sumatra Selatan. Potensi cadangannya diperkirakan mencapai lebih dari 1 miliar barel, bahkan dalam estimasi sebelumnya disebut dapat mencapai 1,4 miliar barel.

Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengatakan temuan tersebut masih dalam tahap persiapan pengembangan sebelum dapat diproduksikan. Perusahaan tengah mengupayakan percepatan proses pengembangan agar potensi cadangan itu dapat memberikan tambahan produksi migas nasional.

“Terus kemudian kalau kita lihat lagi di bawah di Sumatra salah satu discovery yang terbesar kita adalah di Padang Pancuran, itu di Jambi Merang. Itu kita sedang di sana juga, kita usahakan percepat, potensinya juga sangat besar, bisa lebih dari 1 miliar barel hanya dari Padang Pancuran,” ujar Oki di sela acara 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) di The Meru Sanur, Denpasar, Bali, Rabu (28/10/2026).

Padang Pancuran Jadi Fokus Pengembangan

Potensi besar di Padang Pancuran sebelumnya disampaikan Oki dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI pada Agustus 2026. Saat itu, ia menyebut potensi temuan di Blok Jambi Merang dapat mencapai 1,4 miliar barel.

Pertamina ketika itu masih mengurus sejumlah perizinan untuk mendukung pelaksanaan pengeboran. Perusahaan berharap kegiatan pengeboran beberapa sumur dapat dilakukan untuk memperjelas potensi dan mendukung pengembangan lapangan.

Meski demikian, angka tersebut masih merupakan estimasi potensi yang disampaikan perusahaan, bukan volume cadangan terbukti yang sudah dapat diproduksikan. Realisasi produksi akan bergantung pada hasil pengeboran, evaluasi teknis, perizinan, dan tahapan pengembangan lapangan.

Jika berhasil dikembangkan secara komersial, temuan tersebut berpeluang menjadi salah satu sumber tambahan pasokan minyak nasional di tengah upaya meningkatkan produksi dari sektor hulu migas.

Pertamina Bangun Ekosistem Migas Non-Konvensional di Rokan

Selain Jambi Merang, Pertamina juga mengembangkan potensi minyak dan gas non-konvensional (MNK) di Blok Rokan, Riau. Menurut Oki, wilayah tersebut memiliki potensi hidrokarbon lebih dari 11 miliar barel.

Untuk mengembangkan potensi itu, Pertamina berupaya membangun ekosistem penyedia jasa dan teknologi yang mendukung kegiatan pengeboran. Perusahaan memperkirakan keterlibatan sekitar 50 vendor dibutuhkan untuk membantu menekan biaya produksi per sumur.

Oki mencontohkan pengembangan kawasan Permian Basin di Texas, Amerika Serikat, yang ditopang oleh ekosistem penyedia jasa dalam jumlah besar. Menurutnya, ekosistem serupa dapat membantu meningkatkan efisiensi kegiatan pengembangan migas non-konvensional di Indonesia.

“Untuk di Sumatra kita sedang membangun ekosistem untuk unconventional oil and gas di Rokan. Itu potensinya besar sekali, lebih dari 11 miliar barel,” kata Oki.

Ia menambahkan bahwa ketersediaan vendor dan dukungan teknologi menjadi faktor penting untuk menekan biaya pengeboran, sehingga pengembangan sumber daya hidrokarbon dapat berjalan lebih efisien.

75 Persen Belanja Modal Dialokasikan ke Hulu

Dalam mendukung eksplorasi dan peningkatan produksi, Pertamina mengalokasikan sekitar 75 persen belanja modal atau capital expenditure (capex) ke sektor hulu. Langkah ini sejalan dengan mandat pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak nasional hingga 1 juta barel per hari pada 2030.

Oki menjelaskan bahwa sektor hulu menjadi prioritas investasi perusahaan karena berperan langsung dalam upaya menambah produksi minyak dan gas bumi.

“Pertama-tama kita Pertamina mengalokasikan capex terbesar kita di hulu. Karena apa? Karena memang salah satu mandat yang diberikan oleh pemerintah adalah kita meningkatkan produksi hulu,” ujarnya.

Alokasi tersebut diharapkan menopang kegiatan eksplorasi, pengeboran, dan pengembangan lapangan, termasuk di wilayah yang memiliki potensi cadangan besar. Namun, pencapaian target produksi nasional juga akan dipengaruhi keberhasilan eksplorasi, tingkat penurunan produksi lapangan eksisting, efisiensi operasi, dan kecepatan pengembangan temuan baru.

Indonesia Timur Jadi Wilayah Potensial Gas

Di luar Sumatra, Pertamina juga melihat peluang eksplorasi di wilayah Jawa dan Indonesia Timur. Oki menyebut Indonesia Timur sebagai salah satu kawasan utama kegiatan eksplorasi hulu domestik perusahaan, dengan potensi yang relatif lebih besar pada komoditas gas alam.

Pertamina membagi operasi hulu domestiknya ke dalam empat region, selain satu region internasional. Wilayah Indonesia Timur yang masuk Region 4 disebut memiliki banyak peluang eksplorasi, baik minyak maupun gas, dengan dominasi potensi gas.

“Jadi kita ada banyak sekali ya. Kita punya dua-duanya, kita punya minyak dan gas, tapi memang lebih besar gas. Lebih besar gas,” kata Oki.

Potensi tersebut menjadi bagian dari strategi Pertamina dalam memperluas sumber pasokan energi domestik. Pengembangan minyak dan gas dari berbagai wilayah diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan energi sekaligus mendukung target peningkatan produksi nasional.

Tantangan Mengubah Potensi Menjadi Produksi

Temuan di Jambi Merang dan potensi MNK di Rokan menunjukkan besarnya peluang sumber daya hidrokarbon Indonesia. Namun, besarnya estimasi potensi belum otomatis menjamin penambahan produksi dalam waktu dekat.

Tahapan perizinan, pengeboran lanjutan, pembuktian karakteristik reservoir, kebutuhan investasi, serta kelayakan komersial tetap menentukan apakah potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi cadangan yang siap diproduksikan.

Bagi Pertamina, percepatan pengembangan Padang Pancuran, pembangunan ekosistem migas non-konvensional di Rokan, dan eksplorasi di Indonesia Timur menjadi bagian dari upaya meningkatkan kontribusi sektor hulu terhadap pasokan energi nasional.

Keberhasilan strategi tersebut pada akhirnya akan diukur dari kemampuan mengubah potensi sumber daya menjadi produksi yang berkelanjutan dan memberikan tambahan nyata bagi ketahanan energi Indonesia.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!