Ada momen ketika kekuasaan terlihat begitu manusiawi. Seorang pejabat yang baru menerima amanah besar menundukkan dirinya di hadapan seorang ibu. Pemandangan itu sederhana, tetapi maknanya tidak kecil. Di tengah jabatan, kewenangan, dan penghormatan publik, ada pengingat bahwa setiap manusia tetap memiliki batas di hadapan nilai-nilai yang lebih tinggi.
Namun, penghormatan terhadap seorang ibu hanyalah satu sisi dari kerendahan hati. Sisi lainnya justru terlihat ketika seseorang memegang kekuasaan: bagaimana ia mendengarkan mereka yang tidak memiliki pengaruh, bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki akses, dan bagaimana ia memastikan bahwa hukum tidak berubah menjadi sesuatu yang hanya mudah dijangkau oleh mereka yang kuat.
Sebab keadilan tidak cukup terlihat dalam sebuah gestur. Ia harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Di berbagai tempat, masyarakat masih berhadapan dengan sengketa lahan, ketidakpastian penyelesaian perkara, dan pertanyaan tentang sejauh mana suara mereka benar-benar didengar. Setiap persoalan tentu memiliki latar belakang dan pembuktian yang berbeda. Tidak semua tuduhan dapat dianggap sebagai kebenaran, dan tidak setiap konflik dapat disederhanakan menjadi pertarungan antara pihak yang benar dan pihak yang salah.
Tetapi ada satu pertanyaan yang tetap layak diajukan: ketika warga biasa berhadapan dengan persoalan hukum, apakah mereka memperoleh kejelasan, perlindungan, dan kesempatan yang sama untuk memperjuangkan haknya?
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.