SINERGYNEWS.ID, Manado — Idealisme, keberanian bersikap kritis, dan perjuangan anak muda menjadi refleksi dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kota Manado. Melalui pemutaran film Gie, sejumlah pemuda diajak melihat kembali perjalanan Soe Hok Gie sebagai aktivis yang dikenal lantang menyuarakan kritik terhadap ketidakadilan.
Kegiatan bertema “Refleksi Pemuda di Sulawesi Utara” tersebut berlangsung di Pantai Daseng Karangria, Tuminting, Kota Manado, Rabu (28/10/2026). Peringatan ini menghadirkan tiga agenda utama, yakni diskusi, mimbar bebas, dan nonton bareng (nobar).
Selain pemutaran film, kegiatan juga diisi dengan berbagai ekspresi seni, seperti nyanyian, pembacaan puisi, dan tarian. Sejumlah organisasi dan komunitas kemasyarakatan turut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Film Gie dipilih sebagai salah satu medium untuk merefleksikan hubungan antara idealisme individu dan dinamika gerakan pemuda. Film biografi yang disutradarai Riri Riza ini mengangkat perjalanan Soe Hok Gie, aktivis dan intelektual yang dikenal melalui sikap kritisnya terhadap kekuasaan serta berbagai persoalan sosial-politik pada masanya.
Soe Hok Gie merupakan mahasiswa Universitas Indonesia yang aktif menyampaikan pandangan kritis terhadap praktik kekuasaan. Pemikiran dan catatan-catatannya menjadi bagian penting dari rekam jejak gerakan mahasiswa Indonesia, terutama dalam melihat hubungan antara kekuasaan, keadilan, dan tanggung jawab intelektual.
Melalui film tersebut, peserta diajak memahami bahwa perjuangan pemuda tidak hanya berkaitan dengan keberanian menyampaikan pendapat, tetapi juga konsistensi mempertahankan prinsip dan kesediaan mengkritisi ketidakadilan, termasuk ketika kritik tersebut berhadapan dengan kepentingan politik.
Salah satu peserta, Alif Sugiarto, menjelaskan bahwa pemutaran film tersebut dimaksudkan untuk mengajak pemuda mempelajari perjuangan tokoh masa lalu sebagai bahan refleksi bagi gerakan generasi sekarang.
“Mari kita menonton film, guna melihat perjuangan masa lalunya,” ungkap Alif.
Ia juga mengajak para peserta mengenal lebih jauh perjalanan hidup dan kiprah Soe Hok Gie melalui film tersebut.
“Mari kita melihat sepak terjang Gie selama hidupnya,” tutupnya.
Menghidupkan Kembali Idealisme Pemuda
Pemutaran film Gie dalam momentum Hari Sumpah Pemuda menjadi ruang untuk mempertanyakan kembali arti idealisme di tengah perubahan sosial dan politik. Perjuangan generasi terdahulu dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pemuda dalam menentukan sikap, membaca persoalan masyarakat, dan menjaga independensi berpikir.
Refleksi tersebut juga relevan dengan peran gerakan pemuda di Sulawesi Utara. Melalui diskusi dan mimbar bebas, pemuda memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, membangun kesadaran kritis, serta mendiskusikan persoalan sosial dan lingkungan yang terjadi di daerah.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ini turut melibatkan Aliansi Tolak Reklamasi, LBH Manado, WALHI, PMII Metro, KOPRI Metro, Gusdurian Manado, IMM, BPK Oi Manado, Aliansi Perempuan Indonesia, Betina Issue, Kohati, HMI Cabang Manado, Korps IMMAWATI Sulawesi Utara, Badan Tadzkir Unsrat, GMKI Komisariat Solafide, serta GMKI Cabang Manado.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga ruang perjumpaan gagasan dan refleksi tentang tanggung jawab generasi muda. Idealisme, sebagaimana tergambar dalam perjalanan Soe Hok Gie, menjadi pengingat bahwa keberanian berpikir kritis perlu disertai konsistensi dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.