SINERGYNEWS.ID, Jakarta — PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) menargetkan pemanfaatan tambahan pasokan listrik hijau dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan 1 dan Asahan 3 untuk mendukung operasional smelter aluminium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, mulai 2029. Realisasi rencana tersebut bergantung pada penyelesaian jaringan transmisi listrik berkapasitas 500 kilovolt (kV) yang menghubungkan Sumatera Selatan dan Sumatera Utara.
Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial INALUM, Arif Haendra, menjelaskan bahwa di sepanjang aliran Sungai Asahan terdapat sejumlah pembangkit listrik tenaga air, termasuk PLTA Asahan 1, Asahan 2, dan Asahan 3. PLTA Asahan 2 sendiri terdiri atas beberapa unit pembangkit, di antaranya PLTA Sibura-bura dan PLTA Tangga.
Menurut Arif, PLTA Asahan 1 dan Asahan 3 masing-masing memiliki kapasitas 180 megawatt (MW) dan selama ini diperuntukkan bagi sistem kelistrikan PT PLN (Persero). Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru, PLN telah mengizinkan pemanfaatan listrik dari kedua pembangkit tersebut untuk kebutuhan smelter INALUM.
“Asahan 1 dan Asahan 3 ini untuk PLN, masing-masing 180 megawatt (MW). Di RUPTL yang baru, PLN mengizinkan untuk menggunakan PLTA Asahan 1 dan 3 itu untuk smelter,” ujar Arif dalam media gathering INALUM, Senin malam (26/10/2026).
Arif mengatakan, penggunaan listrik dari energi terbarukan menjadi bagian penting dalam mendukung produksi aluminium berbasis energi hijau. Ia menjelaskan bahwa pemenuhan persyaratan energi hijau yang dimaksud perusahaan membutuhkan pasokan listrik langsung dari sumber energi terbarukan, bukan listrik dari jaringan umum yang berasal dari berbagai sumber energi.
“Kenapa harus masuk ke situ? Karena syarat supaya green itu tidak bisa mengambil dari grid. Kalau dari grid, nanti Scope 3, tetapi harus Scope 1, langsung tidak ada campur,” jelasnya.
Namun, pengalihan sebagian pasokan PLTA Asahan 1 dan Asahan 3 untuk memenuhi kebutuhan smelter berpotensi mengurangi ketersediaan listrik bagi sistem kelistrikan Sumatera Utara. Karena itu, diperlukan pasokan pengganti dari Sumatera Selatan agar kebutuhan listrik di wilayah tersebut tetap terpenuhi.
Arif menjelaskan, penyaluran listrik dari Sumatera Selatan masih menunggu penyelesaian jaringan transmisi 500 kV yang akan menghubungkan kedua wilayah. Infrastruktur tersebut menjadi faktor penting agar pemanfaatan listrik dari PLTA Asaha
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.