Selasa, 12 Mei 2026 Indonesia

Mimpi 12% Ekonomi ASEAN: Indonesia Mau Jadi 'Power Bank' Kawasan atau Cuma Sekadar Jualan Mimpi?

J
Josua Sondakh
12 May 2026
71
Mimpi 12% Ekonomi ASEAN: Indonesia Mau Jadi 'Power Bank' Kawasan atau Cuma Sekadar Jualan Mimpi?

Bagi sebagian orang, akronim BIMP-EAGA mungkin terdengar seperti kode rahasia atau mantra yang cuma dipahami bapak-bapak di kementerian. Namun, dalam KTT Khusus di Cebu, Filipina, Mei 2026 ini, "mantra" tersebut resmi dipoles jadi sesuatu yang mentereng: BIMP-EAGA Vision (BEV) 2035. Intinya sederhana: Indonesia bareng Brunei, Malaysia, dan Filipina lagi bikin rencana besar buat mencaplok setidaknya 12% pangsa ekonomi ASEAN.

Targetnya nggak main-main, nilai ekonomi tahunannya dibidik mencapai USD 720 miliar—angka yang naik dua kali lipat dari rata-rata capaian saat ini. Tapi mari kita bedah realitanya, apakah ini beneran langkah strategis atau cuma hobi kita bikin angka ambisius biar kelihatan keren di depan tetangga?

Menjual Setrum Saat 16.700 Desa Masih Sering Padam

Jurus utama pemerintah kali ini adalah koridor energi. Di atas kertas, sektor ini jadi tulang punggung dengan 265 proyek prioritas senilai USD 174,6 miliar. Salah satu primadonanya adalah Trans Borneo Power Grid, jaringan listrik lintas batas yang dirancang buat menyuplai energi bersih dari Kalimantan ke negara tetangga.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua nggak boleh cuma jadi penonton, melainkan harus jadi "mesin" utama koridor ekonomi baru yang terintegrasi melalui filosofi S.O.A.R. (Socially Inclusive, Open, Aligned, and Resilient). Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pun menyebut proyek ini bertujuan agar masyarakat di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) nggak melulu bergantung sama genset diesel yang mahalnya minta ampun.

Masalahnya, data IESR mencatat masih ada sekitar 16.700 desa di Indonesia yang pasokan listriknya tidak stabil atau bahkan masih "gelap" dan bergantung sepenuhnya pada PLTD yang mahal. Kita semangat banget mau jadi "Power Bank" buat Malaysia dan Brunei, tapi di rumah sendiri rakyat masih sering merasakan listrik padam mendadak karena infrastruktur yang belum merata.

Ambisi 100 GW & B50: Kedaulatan atau Karpet Merah buat Asing?

Presiden Prabowo di Cebu sempat kasih "wejangan" kalau ketahanan energi itu harus proaktif, bukan reaktif. Indonesia diminta nggak nunggu krisis Timur Tengah meledak dulu baru sibuk cari solusi. Makanya, sekarang pemerintah lagi ngegas proyek PLTS 100 GW dan naikin mandatori B50.

Ambisi ini tentu butuh modal raksasa. Proyek PLTS 100 GW saja butuh sekitar USD 70 miliar (setara Rp1.179 triliun) dalam lima tahun. Risikonya? Pengamat memperingatkan bahwa tanpa kesiapan industri manufaktur dalam negeri yang serius, proyek ini cuma bakal bikin Indonesia jadi pasar teknologi China. Jangan sampai kita teriak "kedaulatan energi", tapi baut sampai sel suryanya semua harus impor.

Dilema lain muncul dari B50. Kebutuhan sawit (CPO) buat B50 diprediksi mencapai 16 juta ton per tahun saat produksi nasional cenderung stagnan. Koalisi Transisi Bersih memperingatkan risiko deforestasi seluas 1,5 juta hektare dan potensi berulangnya kelangkaan minyak goreng seperti tahun 2022 jika alokasi CPO terlalu condong ke energi.

Bom Waktu Subsidi di Selat Hormuz

Mei 2026 ini, harga solar di SPBU swasta (seperti BP dan Vivo) sudah melonjak hingga Rp30.890 per liter gara-gara gangguan pasokan di Selat Hormuz akibat konflik AS-Iran. Sementara itu, harga Pertalite masih dipaksa "nahan harga" di angka Rp10.000 demi menjaga daya beli.

Selisih harga ini adalah bom waktu buat APBN. Pada awal April 2026 saja, pemerintah harus nombok tambahan subsidi energi hingga Rp100 triliun akibat lonjakan harga minyak dunia yang sempat menembus USD 115 per barel. Kita cuma menunda ledakan ekonomi dengan menimbun utang kompensasi ke Pertamina dan PLN yang jumlahnya sudah tembus puluhan triliun.

Kesimpulan: Visi atau Halusinasi?

Bahkan di sektor hulu, target lifting migas 2026 sebesar 610.000 barel per hari lewat program "Triple 100" masih terseok-seok. Hingga Februari 2026, baru terealisasi 13 sumur eksplorasi dari target 100 sumur tahunan.

Visi 2035 dan koridor energi miliaran dolar ini adalah rencana bagus... di atas kertas. Tapi tanpa kemandirian industri hijau dan keberanian membenahi subsidi yang salah sasaran, "Jurus Jitu" ini cuma bakal jadi karpet merah buat investor asing untuk nambang cuan. Indonesia sudah pasang badan di Cebu, sekarang tinggal kita lihat: 2035 nanti kita beneran jadi "Main Character" ASEAN, atau cuma jadi pengamat yang sibuk bayar cicilan utang proyek?

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Google Masuk dengan Google
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!