Bagi sebagian orang, akronim BIMP-EAGA mungkin terdengar seperti kode rahasia atau mantra yang cuma dipahami bapak-bapak di kementerian. Namun, dalam KTT Khusus di Cebu, Filipina, Mei 2026 ini, "mantra" tersebut resmi dipoles jadi sesuatu yang mentereng: BIMP-EAGA Vision (BEV) 2035. Intinya sederhana: Indonesia bareng Brunei, Malaysia, dan Filipina lagi bikin rencana besar buat mencaplok setidaknya 12% pangsa ekonomi ASEAN.
Targetnya nggak main-main, nilai ekonomi tahunannya dibidik mencapai USD 720 miliar—angka yang naik dua kali lipat dari rata-rata capaian saat ini.
Menjual Setrum Saat 16.700 Desa Masih Sering Padam
Jurus utama pemerintah kali ini adalah koridor energi. Di atas kertas, sektor ini jadi tulang punggung dengan 265 proyek prioritas senilai USD 174,6 miliar.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua nggak boleh cuma jadi penonton, melainkan harus jadi "mesin" utama koridor ekonomi baru yang terintegrasi melalui filosofi S.O.A.R. (Socially Inclusive, Open, Aligned, and Resilient).
Masalahnya, data IESR mencatat masih ada sekitar 16.700 desa di Indonesia yang pasokan listriknya tidak stabil atau bahkan masih "gelap" dan bergantung sepenuhnya pada PLTD yang mahal. Kita semangat banget mau jadi "Power Bank" buat Malaysia dan Brunei, tapi di rumah sendiri rakyat masih sering merasakan listrik padam mendadak karena infrastruktur yang belum merata.
Ambisi 100 GW & B50: Kedaulatan atau Karpet Merah buat Asing?
Presiden Prabowo di Cebu sempat kasih "wejangan" kalau ketahanan energi itu harus proaktif, bukan reaktif.
Ambisi ini tentu butuh modal raksasa. Proyek PLTS 100 GW saja butuh sekitar USD 70 miliar (setara Rp1.179 triliun) dalam lima tahun. Risikonya? Pengamat memperingatkan bahwa tanpa kesiapan industri manufaktur dalam negeri yang serius, proyek ini cuma bakal bikin Indonesia jadi pasar teknologi China. Jangan sampai kita teriak "kedaulatan energi", tapi baut sampai sel suryanya semua harus impor.
Dilema lain muncul dari B50. Kebutuhan sawit (CPO) buat B50 diprediksi mencapai 16 juta ton per tahun saat produksi nasional cenderung stagnan. Koalisi Transisi Bersih memperingatkan risiko deforestasi seluas 1,5 juta hektare dan potensi berulangnya kelangkaan minyak goreng seperti tahun 2022 jika alokasi CPO terlalu condong ke energi.
Bom Waktu Subsidi di Selat Hormuz
Mei 2026 ini, harga solar di SPBU swasta (seperti BP dan Vivo) sudah melonjak hingga Rp30.890 per liter gara-gara gangguan pasokan di Selat Hormuz akibat konflik AS-Iran.
Selisih harga ini adalah bom waktu buat APBN. Pada awal April 2026 saja, pemerintah harus nombok tambahan subsidi energi hingga Rp100 triliun akibat lonjakan harga minyak dunia yang sempat menembus USD 115 per barel. Kita cuma menunda ledakan ekonomi dengan menimbun utang kompensasi ke Pertamina dan PLN yang jumlahnya sudah tembus puluhan triliun.
Kesimpulan: Visi atau Halusinasi?
Bahkan di sektor hulu, target lifting migas 2026 sebesar 610.000 barel per hari lewat program "Triple 100" masih terseok-seok. Hingga Februari 2026, baru terealisasi 13 sumur eksplorasi dari target 100 sumur tahunan.
Visi 2035 dan koridor energi miliaran dolar ini adalah rencana bagus... di atas kertas. Tapi tanpa kemandirian industri hijau dan keberanian membenahi subsidi yang salah sasaran, "Jurus Jitu" ini cuma bakal jadi karpet merah buat investor asing untuk nambang cuan. Indonesia sudah pasang badan di Cebu, sekarang tinggal kita lihat: 2035 nanti kita beneran jadi "Main Character" ASEAN, atau cuma jadi pengamat yang sibuk bayar cicilan utang proyek?
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.