Selasa, 12 Mei 2026 Indonesia

Legacy 2026: BEM FEB UNNES Bentuk Wadah Strategis dalam Menjawab Tantangan Apatisme Mahasiswa

D
Davina Melati Puspitasari
11 May 2026
210
Legacy 2026: BEM FEB UNNES Bentuk Wadah Strategis dalam Menjawab Tantangan Apatisme Mahasiswa

SEMARANG – Aula Moh. Hatta FEB UNNES menjadi saksi lahirnya paradigma baru dalam pergerakan mahasiswa melalui perhelatan Legacy 2026, Minggu (3/5). Acara tahunan yang prestisius ini tidak sekadar menjadi ajang kumpul aktivis, melainkan sebuah manifestasi serius untuk mengembalikan marwah mahasiswa sebagai kekuatan kontrol sosial yang cerdas, strategis, dan berdampak nyata bagi kebijakan kampus.


Image
Fahriza Agil Pamungkas selaku Kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FEB UNNES.

Menghidupkan Kembali 'Roh' Agent of Change

Di tengah gempuran arus apatisme global, Legacy 2026 hadir sebagai antitesis yang segar. Acara ini menyoroti gap antara peran ideal mahasiswa sebagai iron stock dengan realitas di lapangan yang seringkali terjebak dalam keluhan tanpa aksi nyata. Melalui struktur materi yang sistematis, peserta diajak untuk memahami bahwa keberanian bersuara harus berbanding lurus dengan kedalaman analisis.

"Legacy 2026 bukan sekadar pelatihan rutin. Ini adalah upaya kami menciptakan ekosistem kampus yang progresif, di mana setiap kebijakan yang lahir harus melalui uji kritis mahasiswa," ungkap Fahriza Agil Pamungkas selaku Kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FEB UNNES.
Image
 Dede Indraswara, S.H., M.H. selaku Narasumber dalam Acara Legacy

Dalam sesi substansi yang paling dinantikan, Dede Indraswara memberikan perspektif baru mengenai instrumen gerakan mahasiswa. Ia memperkenalkan metafora yang elegan: 

"Advokasi adalah Nilai Tukarnya, sedangkan Lobbying dan Negosiasi adalah Dua Sisi Mata Uangnya."

Dede menguraikan ketiga pilar tersebut secara mendalam:

  • Advokasi (Pembelaan): Merupakan modal atau nilai dasar mahasiswa yang dibangun di atas kejujuran dan keberpihakan pada kepentingan publik.

  • Lobbying (Pendekatan): Sebagai sisi diplomasi informal untuk membuka pintu komunikasi dengan pengambil kebijakan.

  • Negosiasi (Kesepakatan): Proses interaksi formal untuk mencapai kesepakatan adil yang menyelesaikan perbedaan kepentingan.

Menurut Dede, advokasi tanpa lobbying akan menemui jalan buntu, sementara lobbying tanpa modal advokasi yang kuat tidak akan memiliki daya tawar di hadapan birokrasi.


Integritas Akademik dalam Gerakan Sosial

Selain aspek teknis, Legacy 2026 juga menekankan pentingnya etika dalam beradvokasi. Mahasiswa FEB UNNES diarahkan untuk menjadi komunikator yang handal—mampu mengetuk pintu birokrasi dengan data valid, melakukan pendekatan personal yang elegan melalui lobbying, hingga memenangkan argumen di meja negosiasi tanpa meninggalkan nilai-nilai akademik.


Output Nyata: Bidang Adkesma yang Tangguh

Antusiasme peserta terlihat dari tajamnya sesi diskusi yang berlangsung hingga siang hari. Dengan diikuti oleh perwakilan Himpunan Mahasiswa (HIMA) se-fakultas, kegiatan ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi Departemen Adkesma di tiap jurusan untuk lebih responsif terhadap isu kesejahteraan mahasiswa dan kebijakan publik.

Kegiatan ini ditutup dengan semangat kolektif untuk membawa perubahan. Legacy 2026 membuktikan bahwa gerakan mahasiswa tidak harus selalu riuh di jalanan, tetapi bisa sangat mematikan dan efektif ketika dilakukan dengan kecerdasan strategi dan kekuatan data.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Google Masuk dengan Google
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!