<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>

<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <channel>
        <title>Sinergy News</title>
        <link>https://mail.sinergynews.id</link>
        <description>Portal Berita Terpercaya</description>
        <language>id</language>
        <pubDate>Tue, 12 May 2026 12:25:09 +0000</pubDate>
        <atom:link href="https://mail.sinergynews.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
        
                <item>
            <title><![CDATA[Ambisi 100 GW, Sanggupkah Kita Mandiri atau Cuma Jualan Angka di Atas Kertas?]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/ambisi-100-gw-sanggupkah-kita-mandiri-atau-cuma-jualan-angka-di-atas-kertas-6a02796495f50</link>
            <guid isPermaLink="false">115</guid>
            <description><![CDATA[Indonesia membidik 100 GW PLTS pada 2029 sebagai pilar swasembada energi. Dengan kebutuhan modal Rp1.179 triliun, tantangan mulai dari ketersediaan 180.000 teknisi hingga kapasitas manufaktur lokal yang terbatas jadi ujian nyata. Sanggupkah kita mandiri atau tetap bergantung pada teknologi asing?]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="3" style="text-align: justify;">Dunia belakangan ini lagi hobi banget gontok-gontokan. Konflik di Selat Hormuz bikin harga minyak mentah dunia sempat melompat ke angka USD 115 per barel pada Mei 2026. Dampaknya ke kita? Jelas, dompet negara lewat APBN dipaksa jadi "bumper" buat nahan tambahan subsidi energi yang tembus Rp100 triliun cuma di awal April kemarin.</p><p data-path-to-node="4" style="text-align: justify;">Di tengah badai geopolitik ini, Presiden Prabowo Subianto muncul dengan sebuah plot twist besar: <b data-path-to-node="4" data-index-in-node="97">PLTS 100 GW</b> pada 2029. Kedengarannya gagah, kayak pahlawan kesiangan yang mau menyelamatkan kita dari ketergantungan fosil. Tapi, pertanyaannya tetap sama: kita beneran sanggup mandiri atau cuma lagi rajin bikin <i data-path-to-node="4" data-index-in-node="309">headline</i> cantik?</p><h3 data-path-to-node="5"><font face="Plus Jakarta Sans, sans-serif">Antara Mimpi Gede dan Realita yang Masih "Lowbatt"</font></h3><p data-path-to-node="6" style="text-align: justify;">Indonesia itu kayak orang yang punya sawah luas tapi makannya masih beli di warung sebelah. Potensi energi surya kita itu melimpah banget, mencapai 3.294 GWp. Tapi realitanya? Sampai akhir 2024, kita baru memanfaatkan sekitar 912 MW. Cuma secuil dari potensinya.</p><p data-path-to-node="7" style="text-align: justify;">Pemerintah sendiri mulai gerak cepat lewat beberapa langkah "sat-set":</p><ul data-path-to-node="8"><li><p data-path-to-node="8,0,0"><b data-path-to-node="8,0,0" data-index-in-node="0">Tender GIGA ONE:</b> PLN baru saja buka tender megaproyek PLTS Mentari Nusantara sebesar 1,225 GW biar investor makin nafsu buat masuk.</p></li><li><p data-path-to-node="8,1,0"><b data-path-to-node="8,1,0" data-index-in-node="0">Pensiun Dini PLTD:</b> Target jangka pendeknya adalah 17 GW, termasuk menggusur 10 GW pembangkit diesel di pelosok yang boros solar impor.</p></li><li><p data-path-to-node="8,2,0"><b data-path-to-node="8,2,0" data-index-in-node="0">Waduk Jadi 'Baterai':</b> Ekspansi PLTS terapung di waduk-waduk strategis, kayak PLTS Saguling 92 MWp yang dijadwalkan "nyala" November 2026.</p></li></ul><h3 data-path-to-node="9"><font face="Plus Jakarta Sans, sans-serif">Teknisi "Gaib" dan Panel Surya yang Masih Malu-Malu</font></h3><p data-path-to-node="10" style="text-align: justify;">Mandiri itu bukan cuma soal pasang panel surya, tapi soal siapa yang bikin dan siapa yang benerin. Di sini, analisis kemandirian kita mulai ketemu jalan buntu.</p><p data-path-to-node="11" style="text-align: justify;">IESR mencatat kalau proyek 100 GW ini butuh minimal <b data-path-to-node="11" data-index-in-node="52">180.000 tenaga kerja teknis</b>—100 ribu buat instalasi dan 80 ribu buat ngerawat. Masalahnya, tenaga ahli sebanyak itu sekarang masih bersifat "gaib" alias belum tersedia secara masif. Tanpa ada 34 pusat pelatihan di tiap provinsi, ambisi ini cuma bakal jadi tumpukan kaca yang nggak ada yang bisa benerin pas rusak.</p><p data-path-to-node="12" style="text-align: justify;">Belum lagi urusan manufaktur. Kapasitas produksi panel surya dalam negeri kita cuma 5,8 GW per tahun. Kalau disuruh ngejar 100 GW sendirian, kita butuh waktu <b data-path-to-node="12" data-index-in-node="158">20 tahun</b>!. Risikonya jelas, Indonesia cuma bakal jadi "showroom" raksasa buat teknologi China kalau industri kita nggak disiapkan dari sekarang.</p><h3 data-path-to-node="13"><font face="Plus Jakarta Sans, sans-serif">Koperasi Desa: Jagoan Baru atau Ladang Ranjau?</font></h3><p data-path-to-node="14" style="text-align: justify;">Yang paling unik, pemerintah mau kasih jatah 80 GW ke <b data-path-to-node="14" data-index-in-node="54">Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)</b>. Harapannya, 16.700 desa yang selama ini gelap gulita atau cuma hidup dari solar mahal bisa merdeka secara energi.</p><p data-path-to-node="15" style="text-align: justify;">Tapi ya namanya juga rencana, risiko strukturalnya nggak main-main. Koperasi-koperasi ini baru saja diresmikan Juli 2025 lalu. Masih bayi banget. Disuruh mengoperasikan aset kelistrikan yang butuh standar keselamatan (SOP) dan audit pemeliharaan (O&amp;M) yang ketat itu ibarat nyuruh anak TK bawa truk tronton. Belum lagi risiko "ladang ranjau" korupsi di puluhan ribu proyek pengadaan kecil-kecilan di tingkat desa.</p><h3 data-path-to-node="16"><font face="Plus Jakarta Sans, sans-serif">Kesimpulan: Menghitung Cuan vs Halusinasi</font></h3><p data-path-to-node="17" style="text-align: justify;">Secara hitung-hitungan, kalau proyek ini berhasil, kita bisa hemat subsidi BBM sampai <b data-path-to-node="17" data-index-in-node="86">Rp21 triliun per tahun</b>. Angka yang cukup buat bikin Menteri Keuangan tidur nyenyak. Di tengah krisis Selat Hormuz yang bikin harga minyak gila-gilaan, mandiri lewat matahari emang bukan lagi pilihan, tapi keharusan kalau nggak mau APBN jebol.</p><p data-path-to-node="18" style="text-align: justify;">Tapi mandiri itu nggak gratis. Butuh duit USD 70-100 miliar. Sampai sekarang, pendanaan internasional lewat JETP/AZEC baru cair USD 3,5 miliar. Masih jauh panggang dari api.</p><p data-path-to-node="19" style="text-align: justify;">Jadi, sanggupkah kita mandiri? Jawabannya: sanggup, asal pemerintah nggak cuma jago kasih <i data-path-to-node="19" data-index-in-node="90" style="">spoiler</i> angka cantik, tapi beneran bangun pabrik panel surya sendiri dan ngelatih ribuan teknisi biar kita nggak cuma jadi konsumen abadi teknologi asing. Gaspol boleh, tapi cek bensin—eh, kapasitas industri dalam negeri dulu.</p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Josua Sondakh</dc:creator>
            <category>Energy</category>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 00:50:44 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/05/desain-tanpa-judul-1-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Mimpi 12% Ekonomi ASEAN: Indonesia Mau Jadi &#039;Power Bank&#039; Kawasan atau Cuma Sekadar Jualan Mimpi?]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/mimpi-12-ekonomi-asean-indonesia-mau-jadi-power-bank-kawasan-atau-cuma-sekadar-jualan-mimpi-6a026d839cfc2</link>
            <guid isPermaLink="false">114</guid>
            <description><![CDATA[Indonesia bidik 12% ekonomi ASEAN lewat Visi 2035 &amp; koridor energi USD 174,6 M.[1, 2] Namun, ekspor setrum dikritik saat 16.700 desa masih gelap. Dilema B50 &amp; risiko impor teknologi China jadi sorotan di tengah beban subsidi Rp100 T akibat krisis Selat Hormuz.]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="1" id="p-c_bab6721aaa77f430_final_energy_news_synthesis_mei_2026-523" style="text-align: justify; line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;"><span data-path-to-node="1,0" style="line-height: 1.15 !important;">Bagi sebagian orang, akronim BIMP-EAGA mungkin terdengar seperti kode rahasia atau mantra yang cuma dipahami bapak-bapak di kementerian. Namun, dalam KTT Khusus di Cebu, Filipina, Mei 2026 ini, "mantra" tersebut resmi dipoles jadi sesuatu yang mentereng: <b data-path-to-node="1,0" data-index-in-node="255" style="line-height: 1.15 !important;">BIMP-EAGA Vision (BEV) 2035</b>. Intinya sederhana: Indonesia bareng Brunei, Malaysia, dan Filipina lagi bikin rencana besar buat mencaplok setidaknya 12% pangsa ekonomi ASEAN. </span><span data-path-to-node="1,1" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><source-footnote _nghost-ng-c3498764183="" class="ng-star-inserted" style="line-height: 1.15 !important;"><sup _ngcontent-ng-c3498764183="" class="superscript" data-turn-source-index="1" style="line-height: 1.15 !important; font-size: 16px !important; background-color: transparent !important;"><!----></sup></source-footnote><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----></span><sources-carousel-inline ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c845588191="" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----></sources-carousel-inline></p><p data-path-to-node="2" id="p-c_bab6721aaa77f430_final_energy_news_synthesis_mei_2026-524" style="text-align: justify; line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;"><span data-path-to-node="2,0" style="line-height: 1.15 !important;">Targetnya nggak main-main, nilai ekonomi tahunannya dibidik mencapai <b data-path-to-node="2,0" data-index-in-node="69" style="line-height: 1.15 !important;">USD 720 miliar</b>—angka yang naik dua kali lipat dari rata-rata capaian saat ini. </span><span data-path-to-node="2,1" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><source-footnote _nghost-ng-c3498764183="" class="ng-star-inserted" style="line-height: 1.15 !important;"><sup _ngcontent-ng-c3498764183="" class="superscript" data-turn-source-index="1" style="line-height: 1.15 !important; font-size: 16px !important; background-color: transparent !important;"><!----></sup></source-footnote><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----></span><span data-path-to-node="2,2" style="line-height: 1.15 !important;"> Tapi mari kita bedah realitanya, apakah ini beneran langkah strategis atau cuma hobi kita bikin angka ambisius biar kelihatan keren di depan tetangga?</span><sources-carousel-inline ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c845588191="" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----></sources-carousel-inline></p><h2 data-path-to-node="3" style="line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;"><font face="Plus Jakarta Sans, sans-serif">Menjual Setrum Saat 16.700 Desa Masih Sering Padam</font></h2><p data-path-to-node="4" id="p-c_bab6721aaa77f430_final_energy_news_synthesis_mei_2026-525" style="text-align: justify; line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;"><span data-path-to-node="4,0" style="line-height: 1.15 !important;">Jurus utama pemerintah kali ini adalah koridor energi. Di atas kertas, sektor ini jadi tulang punggung dengan <b data-path-to-node="4,0" data-index-in-node="110" style="line-height: 1.15 !important;">265 proyek prioritas</b> senilai <b data-path-to-node="4,0" data-index-in-node="139" style="line-height: 1.15 !important;">USD 174,6 miliar</b>. </span><span data-path-to-node="4,1" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><source-footnote _nghost-ng-c3498764183="" class="ng-star-inserted" style="line-height: 1.15 !important;"><sup _ngcontent-ng-c3498764183="" class="superscript" data-turn-source-index="1" style="line-height: 1.15 !important; font-size: 16px !important; background-color: transparent !important;"><!----></sup></source-footnote><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----></span><span data-path-to-node="4,2" style="line-height: 1.15 !important;"> Salah satu primadonanya adalah <b data-path-to-node="4,2" data-index-in-node="32" style="line-height: 1.15 !important;">Trans Borneo Power Grid</b>, jaringan listrik lintas batas yang dirancang buat menyuplai energi bersih dari Kalimantan ke negara tetangga. </span><span data-path-to-node="4,3" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><source-footnote _nghost-ng-c3498764183="" class="ng-star-inserted" style="line-height: 1.15 !important;"><sup _ngcontent-ng-c3498764183="" class="superscript" data-turn-source-index="4" style="line-height: 1.15 !important; font-size: 16px !important; background-color: transparent !important;"><!----></sup></source-footnote><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----></span><sources-carousel-inline ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c845588191="" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----></sources-carousel-inline></p><p data-path-to-node="5" id="p-c_bab6721aaa77f430_final_energy_news_synthesis_mei_2026-526" style="text-align: justify; line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;"><span data-path-to-node="5,0" style="line-height: 1.15 !important;">Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua nggak boleh cuma jadi penonton, melainkan harus jadi "mesin" utama koridor ekonomi baru yang terintegrasi melalui filosofi <b data-path-to-node="5,0" data-index-in-node="225" style="line-height: 1.15 !important;">S.O.A.R.</b> (<i data-path-to-node="5,0" data-index-in-node="235" style="line-height: 1.15 !important;">Socially Inclusive, Open, Aligned, and Resilient</i>). </span><span data-path-to-node="5,1" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><source-footnote _nghost-ng-c3498764183="" class="ng-star-inserted" style="line-height: 1.15 !important;"><sup _ngcontent-ng-c3498764183="" class="superscript" data-turn-source-index="1" style="line-height: 1.15 !important; font-size: 16px !important; background-color: transparent !important;"><!----></sup></source-footnote><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----></span><span data-path-to-node="5,2" style="line-height: 1.15 !important;"> Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pun menyebut proyek ini bertujuan agar masyarakat di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) nggak melulu bergantung sama genset diesel yang mahalnya minta ampun. </span><span data-path-to-node="5,3" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><source-footnote _nghost-ng-c3498764183="" class="ng-star-inserted" style="line-height: 1.15 !important;"><sup _ngcontent-ng-c3498764183="" class="superscript" data-turn-source-index="4" style="line-height: 1.15 !important; font-size: 16px !important; background-color: transparent !important;"><!----></sup></source-footnote><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----></span><sources-carousel-inline ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c845588191="" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----></sources-carousel-inline></p><p data-path-to-node="6" style="text-align: justify; line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;">Masalahnya, data IESR mencatat masih ada sekitar <b data-path-to-node="6" data-index-in-node="49" style="line-height: 1.15 !important;">16.700 desa</b> di Indonesia yang pasokan listriknya tidak stabil atau bahkan masih "gelap" dan bergantung sepenuhnya pada PLTD yang mahal. Kita semangat banget mau jadi "Power Bank" buat Malaysia dan Brunei, tapi di rumah sendiri rakyat masih sering merasakan listrik padam mendadak karena infrastruktur yang belum merata.</p><h2 data-path-to-node="7" style="line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;"><font face="Plus Jakarta Sans, sans-serif">Ambisi 100 GW &amp; B50: Kedaulatan atau Karpet Merah buat Asing?</font></h2><p data-path-to-node="8" id="p-c_bab6721aaa77f430_final_energy_news_synthesis_mei_2026-527" style="text-align: justify; line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;"><span data-path-to-node="8,0" style="line-height: 1.15 !important;">Presiden Prabowo di Cebu sempat kasih "wejangan" kalau ketahanan energi itu harus proaktif, bukan reaktif. </span><span data-path-to-node="8,1" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><source-footnote _nghost-ng-c3498764183="" class="ng-star-inserted" style="line-height: 1.15 !important;"><sup _ngcontent-ng-c3498764183="" class="superscript" data-turn-source-index="4" style="line-height: 1.15 !important; font-size: 16px !important; background-color: transparent !important;"><!----></sup></source-footnote><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----></span><span data-path-to-node="8,2" style="line-height: 1.15 !important;"> Indonesia diminta nggak nunggu krisis Timur Tengah meledak dulu baru sibuk cari solusi. Makanya, sekarang pemerintah lagi ngegas proyek <b data-path-to-node="8,2" data-index-in-node="137" style="line-height: 1.15 !important;">PLTS 100 GW</b> dan naikin mandatori <b data-path-to-node="8,2" data-index-in-node="170" style="line-height: 1.15 !important;">B50</b>.</span><sources-carousel-inline ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c845588191="" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----></sources-carousel-inline></p><p data-path-to-node="9" style="text-align: justify; line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;">Ambisi ini tentu butuh modal raksasa. Proyek PLTS 100 GW saja butuh sekitar <b data-path-to-node="9" data-index-in-node="76" style="line-height: 1.15 !important;">USD 70 miliar</b> (setara Rp1.179 triliun) dalam lima tahun. Risikonya? Pengamat memperingatkan bahwa tanpa kesiapan industri manufaktur dalam negeri yang serius, proyek ini cuma bakal bikin Indonesia jadi <b data-path-to-node="9" data-index-in-node="278" style="line-height: 1.15 !important;">pasar teknologi China</b>. Jangan sampai kita teriak "kedaulatan energi", tapi baut sampai sel suryanya semua harus impor.</p><p data-path-to-node="10" style="text-align: justify; line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;">Dilema lain muncul dari B50. Kebutuhan sawit (CPO) buat B50 diprediksi mencapai <b data-path-to-node="10" data-index-in-node="80" style="line-height: 1.15 !important;">16 juta ton</b> per tahun saat produksi nasional cenderung stagnan. Koalisi Transisi Bersih memperingatkan risiko <b data-path-to-node="10" data-index-in-node="190" style="line-height: 1.15 !important;">deforestasi seluas 1,5 juta hektare</b> dan potensi berulangnya kelangkaan minyak goreng seperti tahun 2022 jika alokasi CPO terlalu condong ke energi.</p><h2 data-path-to-node="11" style="line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;"><font face="Plus Jakarta Sans, sans-serif">Bom Waktu Subsidi di Selat Hormuz</font></h2><p data-path-to-node="12" id="p-c_bab6721aaa77f430_final_energy_news_synthesis_mei_2026-528" style="text-align: justify; line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;"><span data-path-to-node="12,0" style="line-height: 1.15 !important;">Mei 2026 ini, harga solar di SPBU swasta (seperti BP dan Vivo) sudah melonjak hingga <b data-path-to-node="12,0" data-index-in-node="85" style="line-height: 1.15 !important;">Rp30.890 per liter</b> gara-gara gangguan pasokan di Selat Hormuz akibat konflik AS-Iran. </span><span data-path-to-node="12,1" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><source-footnote _nghost-ng-c3498764183="" class="ng-star-inserted" style="line-height: 1.15 !important;"><sup _ngcontent-ng-c3498764183="" class="superscript" data-turn-source-index="5" style="line-height: 1.15 !important; font-size: 16px !important; background-color: transparent !important;"><!----></sup></source-footnote><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----></span><span data-path-to-node="12,2" style="line-height: 1.15 !important;"> Sementara itu, harga Pertalite masih dipaksa "nahan harga" di angka <b data-path-to-node="12,2" data-index-in-node="69" style="line-height: 1.15 !important;">Rp10.000</b> demi menjaga daya beli. </span><span data-path-to-node="12,3" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><source-footnote _nghost-ng-c3498764183="" class="ng-star-inserted" style="line-height: 1.15 !important;"><sup _ngcontent-ng-c3498764183="" class="superscript" data-turn-source-index="5" style="line-height: 1.15 !important; font-size: 16px !important; background-color: transparent !important;"><!----></sup></source-footnote><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----></span><sources-carousel-inline ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c845588191="" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----></sources-carousel-inline></p><p data-path-to-node="13" style="text-align: justify; line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;">Selisih harga ini adalah bom waktu buat APBN. Pada awal April 2026 saja, pemerintah harus nombok tambahan subsidi energi hingga <b data-path-to-node="13" data-index-in-node="128" style="line-height: 1.15 !important;">Rp100 triliun</b> akibat lonjakan harga minyak dunia yang sempat menembus USD 115 per barel. Kita cuma menunda ledakan ekonomi dengan menimbun utang kompensasi ke Pertamina dan PLN yang jumlahnya sudah tembus puluhan triliun.</p><h2 data-path-to-node="14" style="line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;"><font face="Plus Jakarta Sans, sans-serif">Kesimpulan: Visi atau Halusinasi?</font></h2><p data-path-to-node="15" id="p-c_bab6721aaa77f430_final_energy_news_synthesis_mei_2026-529" style="text-align: justify; line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;"><span data-path-to-node="15,0" style="line-height: 1.15 !important;">Bahkan di sektor hulu, target <i data-path-to-node="15,0" data-index-in-node="30" style="line-height: 1.15 !important;">lifting</i> migas 2026 sebesar <b data-path-to-node="15,0" data-index-in-node="57" style="line-height: 1.15 !important;">610.000 barel per hari</b> lewat program "Triple 100" masih terseok-seok. Hingga Februari 2026, baru terealisasi <b data-path-to-node="15,0" data-index-in-node="166" style="line-height: 1.15 !important;">13 sumur eksplorasi</b> dari target 100 sumur tahunan. </span><span data-path-to-node="15,1" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><source-footnote _nghost-ng-c3498764183="" class="ng-star-inserted" style="line-height: 1.15 !important;"><sup _ngcontent-ng-c3498764183="" class="superscript" data-turn-source-index="8" style="line-height: 1.15 !important; font-size: 16px !important; background-color: transparent !important;"><!----></sup></source-footnote><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----></span><sources-carousel-inline ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c845588191="" style="line-height: 1.15 !important;"><!----><!----><!----><!----><!----></sources-carousel-inline></p><p data-path-to-node="16" style="text-align: justify; line-height: 1.15 !important; margin-top: 0px !important;">Visi 2035 dan koridor energi miliaran dolar ini adalah rencana bagus... di atas kertas. Tapi tanpa kemandirian industri hijau dan keberanian membenahi subsidi yang salah sasaran, "Jurus Jitu" ini cuma bakal jadi karpet merah buat investor asing untuk nambang cuan. Indonesia sudah pasang badan di Cebu, sekarang tinggal kita lihat: 2035 nanti kita beneran jadi "Main Character" ASEAN, atau cuma jadi pengamat yang sibuk bayar cicilan utang proyek?</p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Josua Sondakh</dc:creator>
            <category>Energy</category>
            <pubDate>Tue, 12 May 2026 00:00:03 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/05/desain-tanpa-judul-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Mengenal Tiga Pilar Pemungutan Pajak: Bagaimana Negara Mengelola Kontribusi Kita?]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/mengenal-tiga-pilar-pemungutan-pajak-bagaimana-negara-mengelola-kontribusi-kita-6a01d53fb0bf3</link>
            <guid isPermaLink="false">113</guid>
            <description><![CDATA[Indonesia pakai 3 sistem pajak: Official (petugas hitung), Withholding (potong gaji), dan Self Assessment (hitung sendiri). Masalahnya, sistem mandiri butuh kejujuran tinggi, padahal tax ratio kita rendah (10%). Kunci suksesnya bukan cuma digitalisasi, tapi transparansi negara agar rakyat percaya.]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<blockquote>"Pajak adalah harga yang kita bayar untuk sebuah peradaban,"&nbsp;kata Oliver Wendell Holmes Jr.&nbsp;</blockquote><p data-path-to-node="6">Kalimat ini sering dikutip di brosur-brosur kantor pajak sebagai pengingat akan kontrak sosial antara warga negara dan penguasa. Namun, jika kita melihat realitas sosiologis di Indonesia, harga tersebut sering kali dibayar dengan rasa enggan, atau lebih buruk lagi, dijadikan bahan tawar-menawar di ruang gelap birokrasi.</p><p data-path-to-node="7">Di balik kemegahan jalan tol yang membelah pulau, jembatan yang menghubungkan pelosok, hingga subsidi energi yang menjaga daya beli, ada mekanisme pemungutan pajak yang bekerja di balik layar. Namun, fondasi dari seluruh kemegahan itu bersandar pada satu variabel yang sangat rapuh dan sulit diukur secara matematis: <b data-path-to-node="7" data-index-in-node="317">kejujuran.</b></p><p data-path-to-node="8">Di Indonesia, kita tidak hanya berbicara tentang angka dan tarif. Kita berbicara tentang sebuah sistem yang berevolusi dari warisan kolonial yang opresif menuju sistem modern yang mengklaim diri demokratis. Untuk memahami mengapa ekonomi kita sering kali dianggap "bocor" atau mengapa rasio pajak kita sulit merangkak naik, kita harus membedah tiga pilar sistem pemungutan pajak yang berlaku hari ini. Ini bukan sekadar hafalan definisi untuk ujian kuliah, melainkan sebuah ujian kedewasaan kita sebagai sebuah bangsa.</p><h3 data-path-to-node="10"><b data-path-to-node="10" data-index-in-node="0">Official Assessment System – Warisan Otoritas dan Bayang-Bayang Kolonial</b></h3><p data-path-to-node="11">Sistem pertama yang kita kenal adalah <i data-path-to-node="11" data-index-in-node="38">Official Assessment System</i>. Dalam mekanisme ini, negara—melalui fiskus atau aparat pajak—memegang kendali penuh. Mereka adalah detektif sekaligus hakim yang menentukan seberapa besar kontribusi yang harus Anda setorkan ke kas negara.</p><p data-path-to-node="12"><b data-path-to-node="12" data-index-in-node="0">Mekanisme dan Ciri Khas</b>
Dalam sistem ini, Wajib Pajak (WP) berada pada posisi pasif. Anda tidak perlu pusing menghitung depresiasi aset atau mengacak-acak nota belanja setahun terakhir. Anda cukup duduk manis menunggu datangnya Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) atau dokumen sejenisnya. Contoh paling nyata yang kita temui setiap tahun adalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Negara sudah memiliki basis data luas lahan Anda, letak geografisnya, hingga nilai jual objek pajaknya.</p><p data-path-to-node="13"><b data-path-to-node="13" data-index-in-node="0">Kapan Sistem Ini Menjadi Efektif?</b>
Sistem ini sangat efektif untuk jenis pajak yang objeknya bersifat statis, kasat mata, dan sulit disembunyikan. Tanah tidak bisa dipindahkan ke negara <i data-path-to-node="13" data-index-in-node="185">tax haven</i>, dan bangunan tidak bisa disembunyikan di bawah bantal. Kelebihannya adalah kepastian hukum bagi wajib pajak; angka yang tertulis di surat tagihan adalah angka yang harus dibayar, titik.</p><p data-path-to-node="14"><b data-path-to-node="14" data-index-in-node="0">Kritik dan Kelemahan: Beban Berat di Pundak Aparat</b>
Namun, jika kita melihat lebih dalam, <i data-path-to-node="14" data-index-in-node="89">Official Assessment</i> membawa risiko inefisiensi birokrasi yang masif jika diterapkan pada semua jenis pajak. Bayangkan jika setiap transaksi warung kopi atau gaji buruh harus dihitung secara manual oleh petugas pajak. Negara akan butuh jutaan pegawai pajak hanya untuk urusan administrasi.</p><p data-path-to-node="15">Selain itu, sistem ini membuka celah negosiasi di bawah tangan. Ketika otoritas penentuan angka ada di tangan manusia (petugas), maka subjektivitas menjadi ancaman. "Bisa dibantu, Pak?" adalah kalimat yang sering muncul ketika angka yang ditetapkan aparat dianggap terlalu mencekik. Inilah mengapa Indonesia mulai bergeser dari sistem ini untuk pajak-pajak produktif lainnya.</p><h3 data-path-to-node="17"><b data-path-to-node="17" data-index-in-node="0">Self Assessment System – Kebebasan yang Menuntut Integritas</b></h3><p data-path-to-node="18">Jika <i data-path-to-node="18" data-index-in-node="5">Official Assessment</i> adalah bentuk otoriterisme fiskal, maka <i data-path-to-node="18" data-index-in-node="65">Self Assessment System</i> adalah manifestasi demokrasi dalam perpajakan. Dimulai sejak reformasi perpajakan besar-besaran pada tahun 1983, Indonesia memberikan "kedaulatan" kepada rakyatnya untuk menghitung, melaporkan, dan membayar sendiri pajaknya.</p><p data-path-to-node="19"><b data-path-to-node="19" data-index-in-node="0">Logika Kepercayaan yang Berisiko</b>&nbsp;</p><p data-path-to-node="19">Sistem ini berdiri di atas asumsi yang sangat optimis: bahwa warga negara sudah cukup teredukasi, jujur, dan sadar akan kewajibannya. Wajib Pajak diberikan wewenang penuh atas Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) mereka. Negara hanya berfungsi sebagai pengawas atau auditor yang sesekali melakukan "pemeriksaan acak" untuk memastikan tidak ada kecurangan.</p><p data-path-to-node="20"><b data-path-to-node="20" data-index-in-node="0">Dilema Literasi dan Kompleksitas Aturan</b>
Secara teori, ini adalah sistem yang paling efisien bagi negara. Namun, dalam praktiknya di Indonesia, <i data-path-to-node="20" data-index-in-node="143">Self Assessment</i> sering kali menjadi "labirin yang menyesatkan". Mengapa? Karena aturan pajak kita terkenal sangat kompleks dan sering berubah (dinamis). Bagi pengusaha kecil atau individu, memahami ribuan pasal aturan perpajakan adalah mimpi buruk. Akhirnya, banyak yang salah lapor bukan karena niat jahat, melainkan karena ketidaktahuan.</p><p data-path-to-node="21"><b data-path-to-node="21" data-index-in-node="0">Data dan Realitas: Angka Tax Ratio yang Menampar</b>&nbsp;</p><p data-path-to-node="21">Data tidak pernah berbohong. <i data-path-to-node="21" data-index-in-node="78">Tax Ratio</i> Indonesia yang stagnan di angka 10-11% adalah tamparan keras bagi efektivitas sistem <i data-path-to-node="21" data-index-in-node="173">Self Assessment</i>. Sebagai perbandingan, negara-negara anggota OECD rata-rata memiliki <i data-path-to-node="21" data-index-in-node="258">tax ratio</i> di atas 30%. Rendahnya angka kita menunjukkan adanya "gap" atau jurang yang menganga antara kekayaan nyata yang beredar di masyarakat dengan apa yang dilaporkan secara sukarela ke negara.</p><p data-path-to-node="22">Sistem ini memberikan celah bagi fenomena <i data-path-to-node="22" data-index-in-node="42">underreporting</i>. Wajib Pajak cenderung melaporkan angka minimal agar tidak terkena audit, sementara harta yang sebenarnya disembunyikan di balik nama orang lain atau instrumen keuangan yang sulit dilacak. Di sini, kejujuran bukan lagi menjadi nilai moral, melainkan menjadi variabel kalkulasi risiko: "Seberapa besar kemungkinan saya tertangkap jika saya berbohong?"</p><h3 data-path-to-node="24"><b data-path-to-node="24" data-index-in-node="0">Withholding Assessment System – Pahlawan yang Terlupakan tapi Terbebani</b></h3><p data-path-to-node="25">Di antara kedua sistem di atas, muncul <i data-path-to-node="25" data-index-in-node="39">Withholding Assessment System</i> sebagai penengah. Ini adalah sistem di mana pihak ketiga (biasanya pemberi kerja atau badan usaha) ditunjuk oleh negara untuk memotong pajak dari pihak lain.</p><p data-path-to-node="26"><b data-path-to-node="26" data-index-in-node="0">Mekanisme Pemotongan di Hulu</b>&nbsp;</p><p data-path-to-node="26">PPh Pasal 21 adalah contoh paling akrab bagi para karyawan. Sebelum gaji masuk ke rekening, negara sudah mengambil bagiannya melalui tangan perusahaan. Ini adalah mekanisme "potong kompas" yang sangat efektif. Negara mendapatkan kepastian penerimaan tanpa harus mengejar jutaan karyawan satu per satu.</p><p data-path-to-node="27"><b data-path-to-node="27" data-index-in-node="0">Kritik: Negara yang "Lepas Tangan"</b>&nbsp;</p><p data-path-to-node="27">Namun, ada sisi gelap yang jarang dibahas: beban administrasi yang dilemparkan kepada sektor swasta. Perusahaan, baik besar maupun UMKM, dipaksa menjadi "petugas pajak tidak dibayar" oleh negara. Mereka harus menghitung, memotong, menyetor, dan melaporkan pajak orang lain.</p><p data-path-to-node="28">Jika perusahaan salah hitung atau terlambat lapor, merekalah yang diganjar denda administratif yang berat. Ini menciptakan beban kepatuhan (<i data-path-to-node="28" data-index-in-node="140">compliance cost</i>) yang tinggi. Negara seolah lepas tangan dari beban administratif pemungutan dan menyerahkannya kepada pengusaha, yang seharusnya fokus pada pengembangan bisnis.</p><h3 data-path-to-node="30"><b data-path-to-node="30" data-index-in-node="0">Analisis Sosiologis – Mengapa Kita Suka Main "Kucing-Kucingan"?</b></h3><p data-path-to-node="31">Mengapa sistem yang sudah dirancang sedemikian rupa tetap menghadapi kebocoran? Jawabannya terletak pada <i data-path-to-node="31" data-index-in-node="105">Tax Morale</i> atau semangat membayar pajak masyarakat kita.</p><p data-path-to-node="32"><b data-path-to-node="32" data-index-in-node="0">Korupsi dan Erosi Kepercayaan</b>&nbsp;</p><p data-path-to-node="32">Kejujuran dalam <i data-path-to-node="32" data-index-in-node="46">Self Assessment</i> tidak tumbuh di ruang hampa. Ia membutuhkan nutrisi berupa kepercayaan (<i data-path-to-node="32" data-index-in-node="134">trust</i>). Ketika berita mengenai gaya hidup mewah oknum pegawai pajak viral, atau ketika masyarakat melihat anggaran negara dikorupsi besar-besaran, motivasi untuk membayar pajak akan terjun bebas. Masyarakat akan merasa, "Untuk apa saya jujur jika uangnya hanya dikorupsi?"</p><p data-path-to-node="33">Ini menciptakan lingkaran setan. Kepatuhan rendah membuat negara kesulitan membiayai pembangunan, yang kemudian memicu kenaikan tarif pajak atau intensifikasi pemeriksaan yang dianggap "mencekik", yang akhirnya membuat masyarakat semakin antipati dan mencari cara untuk menghindar (<i data-path-to-node="33" data-index-in-node="282">tax avoidance</i>).</p><p data-path-to-node="34"><b data-path-to-node="34" data-index-in-node="0">Budaya Informalitas</b>&nbsp;</p><p data-path-to-node="34">Selain itu, struktur ekonomi Indonesia yang masih didominasi sektor informal (UMKM dan pedagang kaki lima) membuat pemantauan pajak menjadi sangat sulit. Transaksi tunai yang sulit dilacak membuat sistem <i data-path-to-node="34" data-index-in-node="224">Self Assessment</i> hanya menjadi hiasan di sektor informal. Mereka beroperasi di bawah radar radar fiskal, menciptakan ketidakadilan bagi sektor formal yang sudah patuh dipotong pajaknya.</p><h3 data-path-to-node="36"><b data-path-to-node="36" data-index-in-node="0">Masa Depan Perpajakan – Harapan di Balik Digitalisasi</b></h3><p data-path-to-node="37">Kita sedang berada di persimpangan jalan. Kabar baiknya, Indonesia sedang melakukan transformasi besar melalui <i data-path-to-node="37" data-index-in-node="111">Coretax Administration System</i>. Ini adalah upaya modernisasi total untuk mengintegrasikan data perpajakan secara otomatis.</p><p data-path-to-node="38"><b data-path-to-node="38" data-index-in-node="0">Integrasi NIK sebagai NPWP</b>&nbsp;</p><p data-path-to-node="38">Langkah menyatukan NIK dan NPWP adalah langkah revolusioner. Di masa depan, negara tidak perlu lagi "bertanya" berapa harta kita; data perbankan, kepemilikan kendaraan, hingga aset properti akan saling berbicara dalam satu sistem digital. Ini akan meminimalisir ruang interaksi antara manusia (petugas dan WP) yang selama ini menjadi sarang suap dan negosiasi.</p><p data-path-to-node="39"><b data-path-to-node="39" data-index-in-node="0">Digitalisasi sebagai Penegak Kejujuran</b>&nbsp;</p><p data-path-to-node="39">Digitalisasi adalah cara negara untuk memaksa kejujuran. Ketika sistem sudah terintegrasi, <i data-path-to-node="39" data-index-in-node="130">Self Assessment</i> akan menjadi lebih mudah bagi yang jujur, namun menjadi neraka bagi yang mencoba memanipulasi data. Namun, teknologi hanyalah alat. Tantangan terbesarnya tetap pada sumber daya manusia yang mengoperasikannya.</p><h3 data-path-to-node="41"><b data-path-to-node="41" data-index-in-node="0">Kesimpulan: Menuju Kedewasaan Bernegara</b></h3><p data-path-to-node="42">Memahami tiga sistem pemungutan pajak—<i data-path-to-node="42" data-index-in-node="38">Official, Self,</i> dan <i data-path-to-node="42" data-index-in-node="58">Withholding</i>—tidak boleh berhenti pada pemahaman teknis di ruang kelas. Ketiga sistem ini adalah refleksi dari bagaimana kita memandang kedaulatan dan tanggung jawab.</p><p data-path-to-node="43">Sistem <i data-path-to-node="43" data-index-in-node="7">Self Assessment</i> yang kita agungkan adalah ujian kedewasaan. Kedewasaan untuk mengakui bahwa fasilitas publik yang kita nikmati tidak jatuh dari langit, melainkan hasil gotong royong kolektif. Namun, negara juga harus dewasa. Negara tidak boleh hanya menuntut kejujuran rakyatnya sementara mereka sendiri tidak jujur dalam mengelola uang rakyat.</p><p data-path-to-node="44">Kejujuran wajib pajak harus dipupuk dengan transparansi penggunaan anggaran. Tanpa adanya rasa keadilan bahwa "pajakku kembali kepadaku dalam bentuk pelayanan yang baik," maka sistem pajak secanggih apa pun hanya akan menjadi labirin tempat masyarakat bersembunyi. Perjalanan menuju <i data-path-to-node="44" data-index-in-node="283">tax ratio</i> yang ideal masih panjang, dan itu hanya bisa dicapai jika kejujuran tidak lagi menjadi hal yang rapuh, melainkan menjadi karakter fundamental bangsa dalam bernegara.</p><hr data-path-to-node="45"><h3 data-path-to-node="46"><b data-path-to-node="46" data-index-in-node="0">DAFTAR PUSTAKA</b></h3><p data-path-to-node="47"><b data-path-to-node="47" data-index-in-node="0">Buku &amp; Literatur Dasar:</b></p><ul data-path-to-node="48"><li><p data-path-to-node="48,0,0"><b data-path-to-node="48,0,0" data-index-in-node="0">Mardiasmo. (2019).</b> <i data-path-to-node="48,0,0" data-index-in-node="19">Perpajakan (Edisi Terbaru)</i>. Yogyakarta: Penerbit Andi.</p></li><li><p data-path-to-node="48,1,0"><b data-path-to-node="48,1,0" data-index-in-node="0">Resmi, Siti. (2019).</b> <i data-path-to-node="48,1,0" data-index-in-node="21">Perpajakan: Teori dan Kasus Buku 1 (Edisi 11)</i>. Jakarta: Salemba Empat.</p></li><li><p data-path-to-node="48,2,0"><b data-path-to-node="48,2,0" data-index-in-node="0">Mansury, R. (1996).</b> <i data-path-to-node="48,2,0" data-index-in-node="20">The Indonesian Income Tax: A Case Study in Tax Reform of a Developing Country</i>. Jakarta: Yayasan Pengembangan Intansindo.</p></li></ul><p data-path-to-node="49"><b data-path-to-node="49" data-index-in-node="0">Jurnal &amp; Artikel Ilmiah:</b></p><ul data-path-to-node="50"><li><p data-path-to-node="50,0,0"><b data-path-to-node="50,0,0" data-index-in-node="0">Afifah, L. N. (2022).</b> "Perlindungan Hukum Wajib Pajak Terkait Ketentuan Official Assessment System Dalam Bidang Pajak Bumi dan Bangunan". <i data-path-to-node="50,0,0" data-index-in-node="138">Jurist-Diction</i>, 5(2).</p></li><li><p data-path-to-node="50,1,0"><b data-path-to-node="50,1,0" data-index-in-node="0">Darmayasa, N. (2017).</b> "Meningkatkan Kepatuhan dan Penerimaan Pajak Melalui Withholding Tax System". <i data-path-to-node="50,1,0" data-index-in-node="100">InFestasi</i>.</p></li><li><p data-path-to-node="50,2,0"><b data-path-to-node="50,2,0" data-index-in-node="0">Sari, D. K. (2020).</b> "Analisis Tax Morale dan Integritas Wajib Pajak dalam Self Assessment System". <i data-path-to-node="50,2,0" data-index-in-node="99">Jurnal Akuntansi dan Pajak</i>.</p></li><li><p data-path-to-node="50,3,0"><b data-path-to-node="50,3,0" data-index-in-node="0">Torgler, B. (2007).</b> <i data-path-to-node="50,3,0" data-index-in-node="20">Tax Compliance and Tax Morale: A Theoretical and Empirical Analysis</i>. Cheltenham: Edward Elgar Publishing.</p></li></ul><p data-path-to-node="51"><b data-path-to-node="51" data-index-in-node="0">Data &amp; Peraturan Perundang-undangan:</b></p><ul data-path-to-node="52"><li><p data-path-to-node="52,0,0"><b data-path-to-node="52,0,0" data-index-in-node="0">Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007</b> tentang Perubahan Ketiga atas UU No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).</p></li><li><p data-path-to-node="52,1,0"><b data-path-to-node="52,1,0" data-index-in-node="0">Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021</b> tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP).</p></li><li><p data-path-to-node="52,2,0"><b data-path-to-node="52,2,0" data-index-in-node="0">Kementerian Keuangan RI.</b> (2024/2025). <i data-path-to-node="52,2,0" data-index-in-node="38">Laporan APBN Kita</i>. Jakarta.</p></li><li><p data-path-to-node="52,3,0"><b data-path-to-node="52,3,0" data-index-in-node="0">Direktorat Jenderal Pajak (DJP).</b> (2025). <i data-path-to-node="52,3,0" data-index-in-node="41">Rencana Strategis: Implementasi Coretax Administration System</i>. Jakarta.</p></li><li><p data-path-to-node="52,4,0"><b data-path-to-node="52,4,0" data-index-in-node="0">OECD.</b> (2023). <i data-path-to-node="52,4,0" data-index-in-node="14">Revenue Statistics in Asia and the Pacific</i>. Paris: OECD Publishing.</p></li></ul>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Faradila Nurul Fajri Alamsyah</dc:creator>
            <category>Ekonomi</category>
            <pubDate>Mon, 11 May 2026 13:11:22 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/05/mengenal-tiga-pilar-pemungutan-pajak-bagaimana-negara-mengelola-kontribusi-kita-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Legacy 2026: BEM FEB UNNES Bentuk Wadah Strategis dalam Menjawab Tantangan Apatisme Mahasiswa]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/legacy-2026-bem-feb-unnes-bentuk-wadah-strategis-dalam-menjawab-tantangan-apatisme-mahasiswa-6a015f6334d4a</link>
            <guid isPermaLink="false">109</guid>
            <description><![CDATA[Kegiatan Legacy (Learn and Grow About Advocacy) 2026 sukses digelar oleh Departemen Adkesma BEM FEB UNNES sebagai upaya membangkitkan kembali nalar kritis mahasiswa. Acara ini menyoroti urgensi mahasiswa sebagai agent of change di tengah meningkatnya sikap apatis]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p><b data-path-to-node="10" data-index-in-node="0">SEMARANG</b> – Aula Moh. Hatta FEB UNNES menjadi saksi lahirnya paradigma baru dalam pergerakan mahasiswa melalui perhelatan <b data-path-to-node="10" data-index-in-node="121">Legacy 2026</b>, Minggu (3/5). Acara tahunan yang prestisius ini tidak sekadar menjadi ajang kumpul aktivis, melainkan sebuah manifestasi serius untuk mengembalikan marwah mahasiswa sebagai kekuatan kontrol sosial yang cerdas, strategis, dan berdampak nyata bagi kebijakan kampus.</p><p><br></p><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/05/incel-bukan-sekadar-label-membaca-adolescence-dari-sisi-yang-lebih-dekat-3-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">Fahriza Agil Pamungkas selaku Kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FEB UNNES.</span></figcaption></figure><h4 data-path-to-node="12"><b data-path-to-node="12" data-index-in-node="0">Menghidupkan Kembali 'Roh' Agent of Change</b></h4><p data-path-to-node="13">Di tengah gempuran arus apatisme global, Legacy 2026 hadir sebagai antitesis yang segar. Acara ini menyoroti gap antara peran ideal mahasiswa sebagai <i data-path-to-node="13" data-index-in-node="150">iron stock</i> dengan realitas di lapangan yang seringkali terjebak dalam keluhan tanpa aksi nyata. Melalui struktur materi yang sistematis, peserta diajak untuk memahami bahwa keberanian bersuara harus berbanding lurus dengan kedalaman analisis.</p><blockquote>"Legacy 2026 bukan sekadar pelatihan rutin. Ini adalah upaya kami menciptakan ekosistem kampus yang progresif, di mana setiap kebijakan yang lahir harus melalui uji kritis mahasiswa," ungkap Fahriza Agil Pamungkas selaku Kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FEB UNNES.</blockquote><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/05/incel-bukan-sekadar-label-membaca-adolescence-dari-sisi-yang-lebih-dekat-2-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">&nbsp;</span><b data-path-to-node="16" data-index-in-node="45" style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">Dede Indraswara, S.H., M.H. selaku Narasumber dalam Acara Legacy</b></figcaption></figure><p data-path-to-node="16">Dalam sesi substansi yang paling dinantikan, <b data-path-to-node="16" data-index-in-node="45">Dede Indraswara</b> memberikan perspektif baru mengenai instrumen gerakan mahasiswa. Ia memperkenalkan metafora yang elegan:&nbsp;</p><blockquote><b data-path-to-node="16" data-index-in-node="166">"Advokasi adalah Nilai Tukarnya, sedangkan Lobbying dan Negosiasi adalah Dua Sisi Mata Uangnya."</b></blockquote><p data-path-to-node="17">Dede menguraikan ketiga pilar tersebut secara mendalam:</p><ul data-path-to-node="18"><li><p data-path-to-node="18,0,0"><b data-path-to-node="18,0,0" data-index-in-node="0">Advokasi (Pembelaan):</b> Merupakan modal atau nilai dasar mahasiswa yang dibangun di atas kejujuran dan keberpihakan pada kepentingan publik.</p></li><li><p data-path-to-node="18,1,0"><b data-path-to-node="18,1,0" data-index-in-node="0">Lobbying (Pendekatan):</b> Sebagai sisi diplomasi informal untuk membuka pintu komunikasi dengan pengambil kebijakan.</p></li><li><p data-path-to-node="18,2,0"><b data-path-to-node="18,2,0" data-index-in-node="0">Negosiasi (Kesepakatan):</b> Proses interaksi formal untuk mencapai kesepakatan adil yang menyelesaikan perbedaan kepentingan.</p></li></ul><p data-path-to-node="19">Menurut Dede, advokasi tanpa <i data-path-to-node="19" data-index-in-node="29">lobbying</i> akan menemui jalan buntu, sementara <i data-path-to-node="19" data-index-in-node="74">lobbying</i> tanpa modal advokasi yang kuat tidak akan memiliki daya tawar di hadapan birokrasi.</p><p data-path-to-node="17"><br></p><h4 data-path-to-node="18"><b data-path-to-node="18" data-index-in-node="0">Integritas Akademik dalam Gerakan Sosial</b></h4><p data-path-to-node="19">Selain aspek teknis, Legacy 2026 juga menekankan pentingnya etika dalam beradvokasi. Mahasiswa FEB UNNES diarahkan untuk menjadi komunikator yang handal—mampu mengetuk pintu birokrasi dengan data valid, melakukan pendekatan personal yang elegan melalui <i data-path-to-node="19" data-index-in-node="253">lobbying</i>, hingga memenangkan argumen di meja negosiasi tanpa meninggalkan nilai-nilai akademik.</p><p data-path-to-node="19"><br></p><h4 data-path-to-node="20"><b data-path-to-node="20" data-index-in-node="0">Output Nyata: Bidang Adkesma yang Tangguh</b></h4><p data-path-to-node="21">Antusiasme peserta terlihat dari tajamnya sesi diskusi yang berlangsung hingga siang hari. Dengan diikuti oleh perwakilan Himpunan Mahasiswa (HIMA) se-fakultas, kegiatan ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi Departemen Adkesma di tiap jurusan untuk lebih responsif terhadap isu kesejahteraan mahasiswa dan kebijakan publik.</p><p data-path-to-node="22">Kegiatan ini ditutup dengan semangat kolektif untuk membawa perubahan. Legacy 2026 membuktikan bahwa gerakan mahasiswa tidak harus selalu riuh di jalanan, tetapi bisa sangat mematikan dan efektif ketika dilakukan dengan kecerdasan strategi dan kekuatan data.</p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Davina Melati Puspitasari</dc:creator>
            <category>Campus</category>
            <pubDate>Mon, 11 May 2026 04:51:26 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/05/incel-bukan-sekadar-label-membaca-adolescence-dari-sisi-yang-lebih-dekat-1-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Incel Bukan Sekadar Label, Membaca Kriminogen dalam Series Adolescence]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/incel-bukan-sekadar-label-membaca-kriminogen-dalam-series-adolescence-69f98e508b38f</link>
            <guid isPermaLink="false">108</guid>
            <description><![CDATA[Adolescence adalah serial kriminal yang tidak berfokus pada siapa pelaku, tetapi pada proses yang membentuk terjadinya kejahatan. Kisahnya mengikuti Jamie, anak 13 tahun yang ditangkap atas dugaan pembunuhan terhadap temannya, dan berkembang menjadi potret kompleks tentang tekanan sosial, bullying,]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p><font face="Source Sans Pro, sans-serif" style="font-weight: normal;">Serial Adolesence di Platform Netflix yang tayang pada tanggal 13 Maret 2025 ini menyuguhkan sebuah alur cerita yang fenomenal. Serial garapan Sutradara Philip Barantini&nbsp;<span style="text-align: justify;">hadir bukan
sebagai tontonan kriminal biasa, melainkan sebagai studi sosial yang memaksa
penonton untuk memahami kejahatan dari sudut yang lebih dalam. Alih-alih membangun
misteri tentang “siapa pelaku”, serial ini sejak awal justru menempatkan fokus
pada “mengapa kejahatan itu terjadi”, khususnya ketika pelakunya adalah seorang
anak.</span></font></p><p><font face="Source Sans Pro, sans-serif" style="font-weight: normal;"><span style="text-align: justify;"><br></span></font></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style=""><font face="Source Sans Pro, sans-serif" style="">Sinopsis dan
Premis Dasar<span style="font-weight: normal;"><o:p></o:p></span></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><font face="Source Sans Pro, sans-serif" style="font-weight: normal;"><i><span lang="EN-US" style="">Adolescence</span></i><span lang="EN-US" style="">
mengikuti kasus Jamie Miller, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang
ditangkap atas tuduhan pembunuhan terhadap teman sekelasnya, Katie. Episode
pertama dibuka dengan adegan penggeledahan rumah dan penangkapan Jamie yang
dilakukan secara intens oleh aparat, menciptakan kontras antara usia pelaku
yang masih sangat muda dengan pendekatan penegakan hukum yang terkesan
“overpowering”.<o:p></o:p></span></font></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Narasi kemudian
berkembang melalui empat episode yang masing-masing berfokus pada satu ruang
dan satu peristiwa utama. Episode kedua memperlihatkan proses penyidikan di
sekolah, episode ketiga berisi dialog intens antara Jamie dan psikiater di
lembaga pembinaan anak, sementara episode terakhir menyoroti dampak sosial dan
psikologis terhadap keluarga Jamie setelah 13 bulan penahanan.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Peran Jamie
dalam serial ini dibawakan oleh aktor muda Owen Cooper yang mendapatkan
pengakuan luas secara internasional, termasuk penghargaan setingkat Oscar, yang
semakin memperkuat kualitas emosional dan kedalaman karakter yang ditampilkan.<o:p></o:p></font></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif"><br></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style=""><font face="Source Sans Pro, sans-serif" style="">Pendekatan
Sinematik: One Take sebagai Realisme<span style="font-weight: normal;"><o:p></o:p></span></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Salah satu
kekuatan utama <i>Adolescence</i> terletak pada teknik pengambilan gambarnya.
Serial ini menggunakan pendekatan <i>one take</i>, di mana setiap episode
direkam tanpa banyak pemotongan adegan. Teknik ini menciptakan kesan real-time
yang intens, membuat penonton seolah berada langsung di dalam ruang yang sama
dengan karakter.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Minimnya
perpindahan lokasi juga memperkuat fokus pada dinamika interpersonal, bukan
pada aksi. Kamera tidak memberi jarak, sehingga emosi, ketegangan, dan konflik
terasa lebih mentah dan tidak terfilter.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Pendekatan ini
menjadi sangat efektif terutama pada episode ketiga, yang dapat dikatakan
sebagai puncak intensitas dalam serial ini. Dialog antara Jamie dan psikiater Misha
Frank berkembang menjadi eksplorasi psikologis yang dalam, di mana Jamie mulai
merasa “diserang” oleh pertanyaan-pertanyaan yang menggali identitas dan
persepsinya terhadap diri sendiri. Reaksinya yang meledak-ledak menunjukkan
bahwa apa yang selama ini terpendam sebenarnya jauh lebih kompleks daripada
yang terlihat di permukaan.<o:p></o:p></font></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif"><br></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style=""><font face="Source Sans Pro, sans-serif" style="">Dinamika Sosial
Remaja dan Proses Penyidikan<span style="font-weight: normal;"><o:p></o:p></span></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Episode kedua
memberikan gambaran penting mengenai bagaimana lingkungan sosial remaja
bekerja. Inspektur penyidik Bascombe yang datang ke sekolah menggunakan
pendekatan yang relatif lembut dan komunikatif terhadap siswa. Namun, proses
penyidikan tidak berjalan mulus.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Beberapa
hambatan muncul, seperti respons emosional Jade, sahabat Katie, yang tiba-tiba
meledak saat dimintai keterangan, atau Ryan, sahabat dekat Jamie yang tiba tiba
kabur keluar jendela saat detektif Bascombe menemukan kejanggalan pada
pertemanan mereka, serta gangguan eksternal seperti alarm kebakaran yang
berbunyi secara tiba-tiba. Situasi ini mencerminkan bahwa dalam konteks remaja,
informasi tidak selalu dapat diperoleh melalui pendekatan rasional semata,
karena emosi memainkan peran yang sangat dominan.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Relasi
pertemanan di usia remaja juga digambarkan sangat erat dan eksklusif. Remaja
cenderung merasa bahwa hanya lingkaran pertemanan terdekat mereka yang
benar-benar memahami diri mereka. Hal ini terlihat pada karakter Jade yang
bersikap defensif dan agresif terhadap pihak luar, bahkan melampiaskan emosinya
kepada Ryan, teman Jamie yang dituduh terlibat dalam kasus tersebut.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Arah penyidikan
mulai berubah ketika Adam, anak dari detektif Bascombe, mengungkap adanya
dinamika sosial yang tidak terlihat oleh orang dewasa. Ia menunjukkan bahwa
Jamie merupakan korban perundungan di media sosial, di mana Katie secara
terbuka menyebutnya sebagai “incel” dan pelabelan tersebut mendapat dukungan
dari siswa lain.<o:p></o:p></font></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif"><br></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style=""><font face="Source Sans Pro, sans-serif" style="">Incel,
Cyberbullying, dan Faktor Kriminogen<span style="font-weight: normal;"><o:p></o:p></span></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Dalam konteks
ini, istilah <i>incel</i> tidak dapat dipahami sebagai sekadar ejekan atau
label kosong. Secara konseptual, <i>incel</i> merupakan singkatan dari <i>involuntary
celibate</i>, yaitu individu, umumnya laki-laki yang merasa tidak mampu
menjalin hubungan romantis atau seksual, bukan karena pilihan, tetapi karena
penolakan sosial yang berulang. Dalam perkembangannya, istilah ini tidak lagi
bersifat netral, melainkan telah membentuk sebuah subkultur digital yang sarat
dengan narasi keterasingan, inferioritas, serta dalam beberapa kasus, kemarahan
terhadap perempuan dan struktur sosial yang dianggap tidak adil.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Tokoh yang
pertama kali memperkenalkan istilah ini adalah seorang perempuan bernama Alana
pada akhir 1990-an melalui forum daring yang awalnya ditujukan sebagai ruang
berbagi pengalaman kesepian. Namun, seiring waktu, istilah tersebut mengalami
pergeseran makna dan diapropriasi oleh komunitas tertentu di internet, hingga
berkembang menjadi subkultur yang lebih eksklusif dan dalam beberapa kasus
problematik.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Dalam serial <i>Adolescence</i>,
label “incel” dilekatkan pada Jamie oleh Katie melalui media sosial. Pelabelan
ini kemudian diperkuat oleh respons kolektif teman-temannya, baik melalui
komentar maupun bentuk persetujuan lainnya. Di titik ini, label tidak lagi
berfungsi sebagai deskripsi, melainkan sebagai mekanisme sosial yang membentuk
identitas. Dalam kerangka Labeling Theory, proses ini menjadi krusial,
karena individu yang secara terus-menerus dilabeli dengan identitas tertentu
berpotensi menginternalisasi label tersebut sebagai bagian dari dirinya.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Jamie, bersama
dua temannya, juga digambarkan sebagai korban bullying, baik secara fisik
maupun verbal. Namun, bentuk perundungan yang paling signifikan justru terjadi
di ruang digital. <i>Cyberbullying</i> memiliki karakteristik yang berbeda dari
bullying konvensional, ia bersifat lebih publik, berulang, dan melibatkan
partisipasi banyak pihak dalam waktu yang bersamaan. Akibatnya, tekanan yang
dihasilkan menjadi lebih intens dan sulit dihindari.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Ketertarikan
Jamie terhadap Katie menjadi salah satu titik penting dalam dinamika ini.
Ketika ia mencoba mendekati Katie, respons yang ia terima justru memperkuat
posisi sosialnya sebagai pihak yang ditolak. Bahkan ketika foto Katie tersebar,
upaya Jamie untuk mendekatinya kembali tidak menghasilkan penerimaan, melainkan
semakin memperdalam jarak sosial di antara mereka.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Dari perspektif
kriminologi, kondisi ini dapat dipahami sebagai akumulasi faktor kriminogen.
Tekanan sosial yang terus-menerus, pengalaman penolakan, serta pelabelan yang
bersifat publik menciptakan kondisi emosional yang tidak stabil. Dalam kerangka
General Strain Theory, situasi ini berpotensi memunculkan emosi negatif seperti
frustrasi dan kemarahan, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat berujung
pada perilaku menyimpang.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Selain itu,
paparan terhadap narasi yang berkembang dalam subkultur digital juga dapat
memengaruhi cara individu memahami dirinya dan lingkungannya. Dalam konteks
ini, <i>Social Learning Theory</i> menjelaskan bahwa individu belajar dari
lingkungan sosialnya, termasuk dari interaksi di ruang digital. Narasi yang
terus diulang tentang penolakan, ketidakadilan, dan posisi sebagai “outsider” dapat
membentuk kerangka berpikir tertentu yang kemudian memengaruhi tindakan.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Dengan &nbsp;begini kasus Jamie tidak dapat dipahami semata
sebagai tindakan individual, melainkan sebagai hasil dari interaksi kompleks
antara pengalaman personal, tekanan sosial, dan konstruksi identitas di ruang
digital. Label “incel” dalam konteks ini bukan hanya kata, tetapi menjadi
bagian dari proses yang secara perlahan membentuk cara Jamie melihat dirinya
sendiri dan pada akhirnya, cara ia bertindak.<o:p></o:p></font></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif"><br></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style=""><font face="Source Sans Pro, sans-serif" style="">Keluarga,
Maskulinitas, dan Ruang Digital<span style="font-weight: normal;"><o:p></o:p></span></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Serial ini juga
menyoroti peran keluarga dalam membentuk pengalaman anak. Hubungan antara Jamie
dan orang tuanya menunjukkan adanya kesenjangan dalam pemahaman. Ayah Jamie,
misalnya, mencoba “mengarahkan” anaknya dengan cara konvensional, seperti
mendorongnya mengikuti kegiatan olahraga yang sebenarnya tidak diminati oleh
Jamie.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Di sisi lain, <i>Adolescence</i>
juga mengangkat isu <i>toxic masculinity</i> dan bagaimana ekspektasi sosial
terhadap laki-laki dapat memengaruhi cara remaja memahami diri mereka. Dalam
kombinasi dengan pengaruh subkultur incel di ruang digital, hal ini menciptakan
tekanan tambahan yang sulit diartikulasikan oleh anak.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Serial ini
secara implisit menekankan pentingnya kehadiran orang tua dan pengawasan
terhadap penggunaan media sosial. Ruang digital bukan lagi sekadar tempat
interaksi, tetapi telah menjadi ruang pembentukan identitas yang memiliki
dampak nyata terhadap perilaku.<o:p></o:p></font></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif"><br></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style=""><font face="Source Sans Pro, sans-serif" style="">Pelaku, Korban,
dan Perhatian Publik<span style="font-weight: normal;"><o:p></o:p></span></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Salah satu
kritik sosial yang cukup kuat dalam <i>Adolescence</i> adalah bagaimana
masyarakat cenderung lebih fokus pada pelaku dibandingkan korban. Perhatian
publik sering kali diarahkan pada upaya memahami motif pelaku, “mengapa ia
melakukan kejahatan”, “apa yang memicunya” sementara korban justru perlahan
menghilang dari narasi.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Serial ini
tidak secara eksplisit mengkritik fenomena tersebut, tetapi memperlihatkannya
sebagai realitas yang terjadi. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan yang lebih
luas mengenai bagaimana kejahatan dipahami dan dibicarakan dalam masyarakat.<o:p></o:p></font></span></p><p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif"><br></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style=""><font face="Source Sans Pro, sans-serif" style="">Penutup<span style="font-weight: normal;"><o:p></o:p></span></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><font face="Source Sans Pro, sans-serif" style="font-weight: normal;"><i><span lang="EN-US" style="">Adolescence</span></i><span lang="EN-US" style="">
bukan sekadar cerita tentang kejahatan, tetapi tentang proses sosial yang
melatarbelakanginya. Ia menunjukkan bahwa dalam kasus anak, tindakan kriminal
tidak dapat dilepaskan dari lingkungan yang membentuknya, baik lingkungan
fisik, sosial, maupun digital.<o:p></o:p></span></font></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Melalui
pendekatan yang realistis dan minim dramatisasi, serial ini mengajak penonton
untuk melihat kejahatan tidak hanya sebagai pelanggaran hukum, tetapi sebagai
fenomena sosial yang kompleks.<o:p></o:p></font></span></p>

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span lang="EN-US" style="font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">Dan dari situ,
satu hal menjadi jelas:<o:p></o:p></font></span></p>

<span lang="EN-US" style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-weight: normal;"><font face="Source Sans Pro, sans-serif">bahwa
memahami kejahatan anak tidak cukup hanya dengan melihat apa yang terjadi,<br>
tetapi juga harus melihat apa yang membentuknya.</font></span>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Kayla Achri</dc:creator>
            <category>Opinion</category>
            <pubDate>Tue, 05 May 2026 11:38:21 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/05/whatsapp-image-2026-05-05-at-120959-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Akselerasi Bisnis Mahasiswa, LPPM UNNES Gembleng 34 Tenant Startup Terpilih Lewat “Zero to Startup”]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/akselerasi-bisnis-mahasiswa-lppm-unnes-gembleng-34-tenant-startup-terpilih-lewat-zero-to-startup-69f202a6a51e5</link>
            <guid isPermaLink="false">106</guid>
            <description><![CDATA[Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Semarang (UNNES) resmi menyelenggarakan kegiatan Inkubasi Startup Tahun 2026 pada Selasa (28/4/2026) di Ruang Borobudur Lt. 3 LPPM UNNES. Mengusung tema &quot;Zero to Startup: Mengembangkan Ide Menjadi Bisnis Siap Tumbuh&quot;, kegi]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p><span data-path-to-node="9,0"><b data-path-to-node="9,0" data-index-in-node="0"><span class="citation-132">SEMARANG</span></b><span class="citation-132"> — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Semarang (UNNES) resmi memulai rangkaian program Inkubasi Startup Tahun 2026 pada Selasa (28/4/2026)</span></span><span data-path-to-node="9,1"><span class="citation-132 citation-end-132"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3930756047=""><sup _ngcontent-ng-c3930756047="" class="superscript" data-turn-source-index="5"><!----></sup></source-footnote><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3930756047=""><sup _ngcontent-ng-c3930756047="" class="superscript" data-turn-source-index="5"><!----></sup></source-footnote><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3930756047=""><sup _ngcontent-ng-c3930756047="" class="superscript" data-turn-source-index="5"><!----></sup></source-footnote><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3930756047=""><sup _ngcontent-ng-c3930756047="" class="superscript" data-turn-source-index="5"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="9,2">. </span><span data-path-to-node="9,3"><span class="citation-131"></span></span><span data-path-to-node="9,4"><span class="citation-131">Bertempat di Ruang Borobudur Lt. 3 LPPM UNNES, kegiatan ini menjadi langkah konkret kampus dalam mengakselerasi ide bisnis mahasiswa menjadi </span><i data-path-to-node="9,4" data-index-in-node="141"><span class="citation-131">startup</span></i><span class="citation-131"> yang komersial dan siap tumbuh</span></span><span data-path-to-node="9,5"><span class="citation-131 citation-end-131"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3930756047=""><sup _ngcontent-ng-c3930756047="" class="superscript" data-turn-source-index="6"><!----></sup></source-footnote><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3930756047=""><sup _ngcontent-ng-c3930756047="" class="superscript" data-turn-source-index="6"><!----></sup></source-footnote><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3930756047=""><sup _ngcontent-ng-c3930756047="" class="superscript" data-turn-source-index="6"><!----></sup></source-footnote><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3930756047=""><sup _ngcontent-ng-c3930756047="" class="superscript" data-turn-source-index="6"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="9,6">.<br><br>Mengusung tema "Zero to Startup: Mengembangkan Ide Menjadi Bisnis Siap Tumbuh", acara ini dihadiri oleh 34 tenant terpilih. Tingkat kehadiran tercatat mencapai 100 persen, menunjukkan tingginya komitmen para peserta. Tenant yang diinkubasi berasal dari berbagai sektor inovasi, mulai dari teknologi, kesehatan, hingga edukasi hukum komersial.&nbsp;<br></span></p><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/whatsapp-image-2026-04-28-at-140454-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">Ketua LPPM UNNES, Prof. Dr. Benny Riyanto, S.H., M.Hum., CN</span></figcaption></figure><p><span data-path-to-node="9,6">Ketua LPPM UNNES, Prof. Dr. Benny Riyanto, S.H., M.Hum., CN, menyampaikan bahwa program ini adalah jembatan vital antara dunia riset akademis dan industri komersial.&nbsp;<br></span></p><blockquote><span data-path-to-node="9,6">"Inkubasi ini adalah wujud nyata komitmen UNNES dalam menghilirisasi riset dan inovasi mahasiswa menjadi bisnis yang riil. Kami berharap 34 tenant terpilih ini tidak hanya berhenti pada ide, tetapi mampu bertumbuh menjadi startup yang mandiri, tangguh, dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat," ujarnya.</span></blockquote><span data-path-to-node="9,6">Agenda krusial dalam kegiatan ini diawali dengan prosesi penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Tim Inkubator Unit Bisnis (IUB) dan para tenant. Penandatanganan ini memberikan landasan legalitas serta jaminan dukungan kelembagaan selama proses inkubasi berjalan.&nbsp; <br><br></span><p></p><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/whatsapp-image-2026-04-28-at-140453-1-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">&nbsp;pakar IT, Budi Prasetiyo, S.Si., M.Kom.</span></figcaption></figure><p><span data-path-to-node="9,6">Untuk memperkuat fondasi pengembangan produk, peserta dibekali dengan dua materi fundamental. Sesi pertama berfokus pada pendekatan Design Thinking yang disampaikan oleh pakar IT, Budi Prasetiyo, S.Si., M.Kom.&nbsp;<br></span></p><blockquote><span data-path-to-node="9,6">"Banyak startup gagal di fase awal karena asyik membuat produk yang ternyata tidak dibutuhkan pasar. Design thinking memaksa kalian untuk turun ke lapangan, berempati pada masalah nyata pengguna, sebelum merancang solusi yang tepat guna," tegas Budi.</span></blockquote><p></p><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/whatsapp-image-2026-04-28-at-140451-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">Muhammad Luqmanul Hakim, Export Manager PT. Agro Global Persada</span></figcaption></figure><p><span data-path-to-node="9,6">Sementara itu, sesi kedua diisi oleh Muhammad Luqmanul Hakim, Export Manager PT. Agro Global Persada, yang membedah esensi Founder Mentality. Ia menyoroti pentingnya ketahanan psikologis dalam merintis usaha. <br></span></p><blockquote><span data-path-to-node="9,6">"Mentalitas seorang pendiri adalah penentu arah bisnis. Kalian harus siap menghadapi penolakan, persaingan, dan titik terendah. Bisnis yang mampu bertahan adalah bisnis yang dipimpin oleh founder bermental baja," katanya.&nbsp; </span></blockquote><p></p><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/whatsapp-image-2026-04-29-at-200035-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">&nbsp;Kayla Achri, tenant Sobat HAKI</span></figcaption></figure><p><span data-path-to-node="9,6">Materi dan dukungan legalitas ini direspons sangat positif oleh para peserta. Kayla Achri, perwakilan dari tenant Sobat HAKI, menilai ekosistem inkubasi ini sangat relevan dengan kebutuhan bisnis rintisan.&nbsp;<br></span></p><blockquote><span data-path-to-node="9,6">"Penandatanganan PKS hari ini memberikan kami kepastian legal dan dukungan fasilitas yang sangat berarti. Selain itu, materi Design Thinking benar-benar menyadarkan kami di Sobat HAKI untuk lebih tajam dan akurat dalam memetakan kebutuhan edukasi kekayaan intelektual di masyarakat," ungkap Kayla.</span></blockquote><p></p><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/whatsapp-image-2026-04-28-at-140452-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">Stifani A dari tenant Savera</span></figcaption></figure><p><span data-path-to-node="9,6">Tanggapan serupa juga disampaikan oleh Stifani A dari tenant Savera. Ia mengaku terinspirasi oleh materi ketahanan bisnis. <br></span></p><blockquote><span data-path-to-node="9,6">"Sesi Founder Mentality sangat membuka mata. Membangun startup ternyata bukan sekadar memamerkan produk yang keren, tapi seberapa kuat mental kita sebagai tim untuk bisa bertahan dan mencari solusi saat berada di fase kritis," tuturnya.&nbsp;</span></blockquote><span data-path-to-node="9,6">Melalui pendampingan dari IUB LPPM UNNES ini, diharapkan tercipta proses inkubasi yang terstruktur dan berkelanjutan, sehingga mampu melahirkan wirausaha muda yang kompetitif di kancah nasional.</span><sources-carousel-inline ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c807449471=""></sources-carousel-inline><p></p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Dheni Anugerah</dc:creator>
            <category>Campus</category>
            <pubDate>Wed, 29 Apr 2026 13:20:30 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/whatsapp-image-2026-04-28-at-140453-2-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Dukung Capaian SDGs, FH UNNES Gelar Pelatihan Protokoler dan Media “Persona” untuk Mahasiswa]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/dukung-capaian-sdgs-fh-unnes-gelar-pelatihan-protokoler-dan-media-persona-untuk-mahasiswa-69f163bc5b5bf</link>
            <guid isPermaLink="false">105</guid>
            <description><![CDATA[Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (FH UNNES) menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Sumber Daya Manusia bagi UKM Protokoler dan Media 2026 pada 25–26 April di MG Setos Hotel Semarang. Bertema “Persona,” acara ini diikuti 60 peserta dari lembaga kemahasiswaan dengan menghadirkan tiga praktis]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="5"><b data-path-to-node="5" data-index-in-node="0">SEMARANG</b> — Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (FH UNNES) kembali mempertegas komitmennya dalam mencetak lulusan unggul dan profesional melalui Pelatihan Peningkatan Sumber Daya Manusia bagi UKM Protokoler dan Media 2026.</p><p data-path-to-node="6">Mengusung tema “Persona: Membangun Karakter Protokoler melalui Komunikasi Publik yang Efektif,” kegiatan edukatif ini diselenggarakan selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (25–26/4/2026), di MG Setos Hotel, Semarang.</p><p data-path-to-node="7">Pelatihan ini diikuti oleh 60 peserta yang terdiri dari anggota UKM Protokoler, perwakilan lembaga kemahasiswaan, dan berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan FH UNNES. Selain menjadi ruang pembelajaran intensif, forum ini juga dirancang untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi antarorganisasi mahasiswa.<br></p><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/cuplikan-layar-2026-04-29-084754-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="text-align: start; color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px;">Ketua UKM Protokoler FH UNNES,&nbsp;</span>Nafa Isma Fattih Nur Widiana</figcaption></figure><p data-path-to-node="8">Ketua UKM Protokoler FH UNNES, Nafa Isma, mengungkapkan bahwa pelatihan ini merupakan langkah strategis untuk merespons dinamika era modern yang serba cepat.</p><blockquote>"Tantangan hari ini mengharuskan kita untuk adaptif. Harapan kami, melalui <i data-path-to-node="9" data-index-in-node="75">Persona</i>, mahasiswa tidak hanya belajar menyelenggarakan acara, tetapi benar-benar mampu menjadi wajah fakultas yang profesional. Kami ingin membekali teman-teman agar memiliki karakter kuat di hadapan publik maupun saat mengelola citra di ruang digital," jelas Nafa.</blockquote><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/cuplikan-layar-2026-04-29-080619-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">&nbsp;Sesi keprotokolan dan&nbsp;<i>P</i></span><i data-path-to-node="10" data-index-in-node="124" style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">ublic Speaking</i><span style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">&nbsp;dipandu oleh Septi Wulandari, S.Sos., M.I.Kom.</span></figcaption></figure><p data-path-to-node="10">Untuk memastikan efektivitas materi, pelatihan ini menghadirkan tiga narasumber praktisi profesional. Sesi keprotokolan dan <i data-path-to-node="10" data-index-in-node="124">public speaking</i> dipandu oleh Septi Wulandari, S.Sos., M.I.Kom., yang memberikan bekal seputar tata acara resmi, teknik intonasi, bahasa tubuh, hingga simulasi langsung untuk melatih kepercayaan diri peserta secara praktis.<br></p><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/cuplikan-layar-2026-04-29-080901-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">&nbsp;Sesi Kehumasan, Sinta Pramucita, S.I.Kom., M.I.Kom</span></figcaption></figure><p data-path-to-node="11">Pada sesi kehumasan, Sinta Pramucita, S.I.Kom., M.I.Kom., menekankan peran sentral humas dalam membangun citra organisasi, mengelola arus informasi, dan menjaga hubungan yang bertanggung jawab dengan publik. <br></p><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/cuplikan-layar-2026-04-29-074947-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;">Sesi&nbsp;<span style="text-align: start; color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px;">&nbsp;</span><span style="text-align: start; color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px;">pengelolaan konten digital,&nbsp;</span><span style="text-align: start; color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px;">Vega Viditama, S.Sos., M.M.</span></figcaption></figure><p data-path-to-node="11">Sementara itu, Vega Viditama, S.Sos., M.M., membedah strategi pengelolaan konten digital dan optimalisasi media sosial sebagai sarana komunikasi yang berdaya saing pada sesi media.</p><p data-path-to-node="12">Antusiasme peserta sangat terasa sepanjang acara, terutama saat sesi simulasi. Rasya, salah satu peserta pelatihan, merasakan langsung manfaat dari metode praktik yang diterapkan.</p><blockquote>"Materi yang diberikan sangat aplikatif, bukan sekadar teori. Sesi simulasi <i data-path-to-node="13" data-index-in-node="76">public speaking</i> adalah yang paling berkesan bagi saya karena kami diajarkan langsung bagaimana mengatasi grogi, menata intonasi, dan memimpin jalannya acara resmi. Ini bekal yang sangat berharga untuk kegiatan organisasi ke depannya," tuturnya.</blockquote><p data-path-to-node="14">Kegiatan ini turut dihadiri jajaran pimpinan FH UNNES, di antaranya Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Dr. Indah Sri Utari, S.H., M.Hum., Wakil Dekan II Aprilla Niravita, S.H., M.Kn., dan Ketua Program Studi S1 Ratih Damayanti, S.H., M.H. Menambah wawasan global, hadir pula dosen tamu internasional dari India, Dr. Bhanu Prakash Nunna.</p><p data-path-to-node="15">Dalam sambutannya, Dr. Indah Sri Utari mengapresiasi inisiatif mahasiswa sekaligus menegaskan pentingnya penguasaan komunikasi publik.<br></p><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/cuplikan-layar-2026-04-29-081429-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Dr. Indah Sri Utari, S.H., M.Hum.</span></figcaption></figure><blockquote>“Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu berkomunikasi efektif, bekerja sama, dan menjunjung etika. Pelatihan ini menjadi langkah konkret untuk membentuk karakter tersebut,” tegas Dr. Indah.</blockquote><p data-path-to-node="17">Lebih dari sekadar pengembangan kapasitas diri mahasiswa, kegiatan ini sekaligus menjadi manifestasi komitmen FH UNNES dalam mendukung capaian <i data-path-to-node="17" data-index-in-node="143">Sustainable Development Goals</i> (SDGs). Fokus utama diarahkan pada poin Pendidikan Berkualitas dan Pekerjaan Layak guna menyiapkan lulusan yang kompetitif dan siap bersaing di dunia kerja.</p><p data-path-to-node="18">Melalui pelatihan komprehensif ini, FH UNNES berharap para peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat di organisasinya masing-masing, serta tumbuh menjadi agen perubahan yang menjunjung tinggi profesionalisme, etika, dan komunikasi yang efektif.</p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Dheni Anugerah</dc:creator>
            <category>Campus</category>
            <pubDate>Wed, 29 Apr 2026 13:18:18 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/whatsapp-image-2026-04-28-at-223623-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[&quot;Make and Hope&quot; Semarang: KOTTA Gandeng Ratusan Anak Muda Suarakan Isu Transportasi Publik hingga Tragedi Silayur]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/make-and-hope-semarang-kotta-gandeng-ratusan-anak-muda-suarakan-isu-transportasi-publik-hingga-tragedi-silayur-69edf2ff0d57a</link>
            <guid isPermaLink="false">102</guid>
            <description><![CDATA[Acara kolaborasi bertajuk &quot;MAKE AND HOPE: Your City, Your Voice, Speak Up Now!&quot; sukses digelar oleh Komunitas Transformasi Kota (KOTTA) di Kopi Revolusi Semarang pada Jumat, 24 April 2026. Agenda ini mempertemukan sekitar 250 pelajar dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p><span data-path-to-node="8,0"><b data-path-to-node="8,0" data-index-in-node="0"><span class="citation-214">SEMARANG</span></b><span class="citation-214"> – Ratusan anak muda dari berbagai elemen pelajar dan mahasiswa memadati Kopi Revolusi Semarang untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap kondisi tata kelola kota dalam forum "Make and Hope", Jumat (24/04/2026)</span></span><span data-path-to-node="8,1"><span class="citation-214 citation-end-214"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="5"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="8,2">.</span></p><p><span data-path-to-node="8,4"></span></p><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/img-0075-1-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="text-align: start; color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px;">Diskusi Interaktif Pelajar dan Mahasiswa terkait Kota Semarang Kedepan</span></figcaption></figure><p><span data-path-to-node="8,2"></span><span data-path-to-node="8,3"><span class="citation-213"></span></span><span data-path-to-node="8,4">Diskusi yang diinisiasi oleh Komunitas Transformasi Kota (KOTTA) ini menjadi ruang dialektika kritis mengenai isu-isu fundamental, mulai dari transportasi publik hingga persoalan lingkungan yang melanda Kota Atlas</span><span data-path-to-node="8,5"><span class="citation-213 citation-end-213"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="6"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="8,6">.</span></p><p><span data-path-to-node="8,6"></span></p><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/img-0079-1-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px; text-align: start;">Direktur Eksekutif KOTTA, Vivin Sri Wahyuni</span></figcaption></figure><p><span data-path-to-node="8,6"><span data-path-to-node="9,2"><span class="citation-212">Direktur Eksekutif KOTTA, Vivin Sri Wahyuni, menyatakan bahwa forum ini lahir dari kebutuhan akan wadah organik bagi anak muda untuk berani berbicara</span></span><span data-path-to-node="9,3"><span class="citation-212 citation-end-212"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="7"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="9,4">.&nbsp;</span></span></p><blockquote><span data-path-to-node="8,6"><span data-path-to-node="9,6"><span class="citation-211">"Kami ingin memastikan bahwa suara anak muda bukan sekadar kebisingan, melainkan ide segar yang memiliki ruang untuk diwujudkan</span></span><span data-path-to-node="9,7"><span class="citation-211 citation-end-211"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="8"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="9,8">. </span><span data-path-to-node="9,9"><span class="citation-210"></span></span><span data-path-to-node="9,10"><span class="citation-210">'Make and Hope' adalah jembatan agar harapan-harapan ini tidak berhenti di meja diskusi, tetapi berlanjut menjadi aksi nyata," tegas Vivin</span></span><span data-path-to-node="9,11"><span class="citation-210 citation-end-210"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="9"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="9,12">.</span></span></blockquote><p><span data-path-to-node="8,6"><span data-path-to-node="9,12"><span data-path-to-node="10,1"><span class="citation-209">Diskusi berlangsung hangat dengan sorotan tajam pada isu-isu lokal yang mendesak</span></span><span data-path-to-node="10,2"><span class="citation-209 citation-end-209"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="10"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="10,3">. </span><span data-path-to-node="10,4"><span class="citation-208"></span></span><span data-path-to-node="10,5"><span class="citation-208">Perwakilan Forum Komunikasi OSIS (FKO) Semarang dan mahasiswa menyuarakan kekhawatiran terkait tingginya angka kecelakaan di Silayur, urgensi perluasan transportasi publik yang terintegrasi, penanganan banjir yang belum tuntas, hingga kebutuhan akan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang lebih luas</span></span><span data-path-to-node="10,6"><span class="citation-208 citation-end-208"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="11"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="10,7">.</span></span></span></p><p><span data-path-to-node="8,6"><span data-path-to-node="9,12"><span data-path-to-node="10,7"></span></span></span></p><figure style="text-align:center; margin:1.5em 0;"><img src="https://sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/img-0172-1-1600.webp" alt="Image"><figcaption style="font-size:0.85em; color:#666; margin-top:0.5em; font-family:sans-serif;"><span style="text-align: start; color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px;">Anggota DPRD Jawa Tengah, Sudarsono</span></figcaption></figure><p><span data-path-to-node="8,6"><span data-path-to-node="9,12"><span data-path-to-node="10,7"><span data-path-to-node="11,1"><span class="citation-207">Anggota DPRD Jawa Tengah, Sudarsono, yang hadir sebagai </span><i data-path-to-node="11,1" data-index-in-node="72"><span class="citation-207">mystery guest star</span></i><span class="citation-207">, mengapresiasi antusiasme peserta yang mencapai 250 orang tersebut</span></span><span data-path-to-node="11,2"><span class="citation-207 citation-end-207"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="12"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="11,3">. </span><span data-path-to-node="11,4"><span class="citation-206"></span></span><span data-path-to-node="11,5"><span class="citation-206">Menurutnya, kompleksitas masalah di Kota Semarang tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja</span></span><span data-path-to-node="11,6"><span class="citation-206 citation-end-206"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="13"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="11,7">.</span></span></span></span></p><blockquote><span data-path-to-node="8,6"><span data-path-to-node="9,12"><span data-path-to-node="12,1"><span class="citation-205">"Melihat semangat teman-teman hari ini, saya optimis</span></span><span data-path-to-node="12,2"><span class="citation-205 citation-end-205"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="14"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="12,3">. </span><span data-path-to-node="12,4"><span class="citation-204"></span></span><span data-path-to-node="12,5"><span class="citation-204">Namun perlu diingat, pemecahan masalah kota ini harus melalui kolaborasi lintas sektor</span></span><span data-path-to-node="12,6"><span class="citation-204 citation-end-204"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="15"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="12,7">. </span><span data-path-to-node="12,8"><span class="citation-203"></span></span><span data-path-to-node="12,9"><span class="citation-203">Pemerintah, legislatif, dan anak muda harus duduk bersama agar kebijakan yang lahir benar-benar solutif bagi warga," ujar Sudarsono</span></span><span data-path-to-node="12,10"><span class="citation-203 citation-end-203"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="16"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="12,11">.</span></span></span></blockquote><p><span data-path-to-node="8,6"><span data-path-to-node="9,12"><span data-path-to-node="12,11"><span data-path-to-node="13,1"><span class="citation-202">Meskipun belum menghasilkan petisi tertulis di akhir acara, pertemuan ini dinilai sebagai langkah awal yang sangat positif</span></span><span data-path-to-node="13,2"><span class="citation-202 citation-end-202"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="17"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="13,3">. </span><span data-path-to-node="13,4"><span class="citation-201"></span></span><span data-path-to-node="13,5"><span class="citation-201">Dede Indraswara, salah satu peserta yang hadir, mengungkapkan rasa bangganya terhadap inisiasi KOTTA</span></span><span data-path-to-node="13,6"><span class="citation-201 citation-end-201"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="18"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="13,7">. </span><span data-path-to-node="13,8"><span class="citation-200"></span></span><span data-path-to-node="13,9"><span class="citation-200">Ia memandang forum ini sebagai fondasi kuat untuk membangun jaringan kolaborasi yang lebih luas di masa depan demi transformasi kota yang lebih baik</span></span><span data-path-to-node="13,10"><span class="citation-200 citation-end-200"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="19"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="13,11">.</span></span></span></span></p><p><span data-path-to-node="8,6"><span data-path-to-node="9,12"><span data-path-to-node="12,11"><span data-path-to-node="13,11"><span data-path-to-node="14,1"><span class="citation-199">Agenda ini dimeriahkan juga oleh penampilan dari Emyunip, Pramantya, serta Putra Galih dan Tata, yang semakin menghidupkan suasana diskusi santai namun tetap berisi</span></span><span data-path-to-node="14,2"><span class="citation-199 citation-end-199"><source-footnote ng-version="0.0.0-PLACEHOLDER" _nghost-ng-c3211493830=""><sup _ngcontent-ng-c3211493830="" class="superscript" data-turn-source-index="20"><!----></sup></source-footnote></span></span><span data-path-to-node="14,3">.</span></span></span></span></span></p><p><span data-path-to-node="8,6"><span data-path-to-node="9,12"><span data-path-to-node="12,11"><br></span></span></span></p><p><span data-path-to-node="8,6"><span data-path-to-node="9,12"><span data-path-to-node="12,11"><br></span></span></span></p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Kayla Achri</dc:creator>
            <category>News</category>
            <pubDate>Sun, 26 Apr 2026 11:12:45 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/img-0289-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Cetak Legislator Berstandar Emas, DPM Poltekkes Kemenkes Semarang Gelar Legislative Training 2026]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/cetak-legislator-berstandar-emas-dpm-poltekkes-kemenkes-semarang-gelar-legislative-training-2026-69db59cbd7b2f</link>
            <guid isPermaLink="false">100</guid>
            <description><![CDATA[DPM Poltekkes Kemenkes Semarang sukses gelar Legislative Training 2026 diikuti 300+ peserta se-Indonesia. Menghadirkan ahli seperti Dede Indraswara (Lex Nova), acara ini fokus memperkuat kapasitas Legal Drafting dan integritas legislator mahasiswa dalam mengelola regulasi serta anggaran kampus.]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="6"><b data-path-to-node="6" data-index-in-node="6">SEMARANG</b> – Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) Poltekkes Kemenkes Semarang sukses menyelenggarakan <i data-path-to-node="6" data-index-in-node="107">Legislative Training</i> 2026 pada Sabtu (11/04/2026). Mengusung tema <i data-path-to-node="6" data-index-in-node="173">"Cultivating the Gold Standard of Legislators with Courageous Leadership"</i>, agenda yang berlangsung secara <i data-path-to-node="6" data-index-in-node="279">hybrid</i> di Auditorium Kampus 1 ini dihadiri oleh lebih dari 300 mahasiswa dari berbagai Poltekkes Kemenkes di seluruh Indonesia.</p><p data-path-to-node="7">Kegiatan ini dirancang sebagai kawah candradimuka bagi para legislator muda untuk memperkuat fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran di lingkungan kampus. Ketua DPM Poltekkes Semarang, <b data-path-to-node="7" data-index-in-node="204">Khabisma Nazalul Haq</b>, menekankan bahwa legislator mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga marwah lembaga melalui sistem aturan yang adil dan demokratis.</p><p data-path-to-node="8">Senada dengan hal tersebut, Ketua Pelaksana kegiatan, <b data-path-to-node="8" data-index-in-node="54">Sintya Fitri Pramita</b>, menjelaskan bahwa urgensi acara ini terletak pada posisi strategis DPM sebagai jembatan antara aturan main organisasi dan pengelolaan anggaran. "Kami ingin membentuk karakter legislator yang tidak hanya memahami birokrasi, tetapi juga memiliki keberanian dalam memperjuangkan aspirasi mahasiswa secara profesional," ungkap Sintya.</p><p data-path-to-node="9"><b data-path-to-node="9" data-index-in-node="0">Sinergi Materi: Dari Regulasi hingga Legal Drafting</b>
<br>Pelatihan ini menghadirkan tiga pakar di bidangnya. Wakil Direktur III Poltekkes Semarang, <b data-path-to-node="9" data-index-in-node="143">Esti Handayani, M. Mid</b>, membuka sesi dengan memaparkan mekanisme pembuatan regulasi internal kampus.&nbsp;</p><p data-path-to-node="10">Pada sesi teknis, <b data-path-to-node="10" data-index-in-node="18">Dede Indraswara, SH., MH.</b>, Ketua Bidang Hukum dan Advokasi DEM Indonesia sekaligus Founder Lex Nova, membedah secara mendalam mengenai <i data-path-to-node="10" data-index-in-node="153">Legal Drafting</i> dan Pengelolaan Anggaran. Kehadiran pakar dari Lex Nova ini menjadi sangat krusial mengingat seringnya terjadi tumpang tindih regulasi di tingkat organisasi mahasiswa yang menghambat efektivitas kerja.</p><p data-path-to-node="11">Dalam pemaparannya, Dede memberikan pesan kuat mengenai keseimbangan antara intelektualitas dan nyali seorang legislator.</p><blockquote data-path-to-node="12"><p data-path-to-node="12,0">"Regulasi kampus adalah benteng terakhir keadilan bagi mahasiswa. Namun perlu diingat, keberanian tanpa pengetahuan adalah kecerobohan, dan pengetahuan tanpa keberanian adalah kesia-siaan," tegas Dede di hadapan ratusan peserta.</p></blockquote><p data-path-to-node="13"><b data-path-to-node="13" data-index-in-node="0">Dampak dan Signifikansi</b>
Antusiasme peserta terlihat dari kehadiran delegasi dari berbagai daerah, termasuk Poltekkes Kemenkes Surakarta dan Yogyakarta. Dengan jumlah peserta yang melampaui angka 300, kegiatan ini membuktikan tingginya kesadaran mahasiswa akan pentingnya literasi hukum dan tata kelola organisasi yang transparan.</p><p data-path-to-node="14">Melalui <i data-path-to-node="14" data-index-in-node="8">Legislative Training</i> ini, DPM Poltekkes Kemenkes Semarang berharap dapat melahirkan penggerak perubahan yang mampu menjalankan fungsi pembatas kekuasaan secara sehat dan bertanggung jawab, demi kemajuan Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Poltekkes di seluruh penjuru negeri.</p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Kayla Achri</dc:creator>
            <category>News</category>
            <pubDate>Sun, 12 Apr 2026 08:57:22 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/whatsapp-image-2026-04-12-at-150213-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Komposisi Profesional Perkuat DPC Gekrafs Kota Semarang 2026-2029, Siap Akselerasi 30.000 UMKM]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/komposisi-profesional-perkuat-dpc-gekrafs-kota-semarang-2026-2029-siap-akselerasi-30000-umkm-69db5e68d3547</link>
            <guid isPermaLink="false">101</guid>
            <description><![CDATA[DPC Gekrafs Kota Semarang periode 2026–2029 resmi dilantik di bawah kepemimpinan Abraham Jordy Winarto. Fokus utama kepengurusan ini adalah mengakselerasi 30.000 UMKM Semarang melalui transformasi digital dan sinergi program &quot;Waras Ekonomi&quot; bersama Pemerintah Kota Semarang.]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="0"></p><h1 data-path-to-node="2"><br></h1><p data-path-to-node="3"><b data-path-to-node="3" data-index-in-node="0">SEMARANG</b> – Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Kota Semarang resmi memulai masa bakti baru dengan dilantiknya jajaran pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) periode 2026–2029 di Balaikota Semarang, Jumat (10/04/2026). Pelantikan ini menandai langkah strategis untuk mengonsolidasikan lebih dari 30.000 pelaku UMKM di Ibu Kota Jawa Tengah ke dalam ekosistem ekonomi kreatif yang lebih modern dan terintegrasi.</p><p data-path-to-node="4"><b data-path-to-node="4" data-index-in-node="0">Dukungan Pemerintah dan Program "Waras Ekonomi"<br></b>Wali Kota Semarang, <b data-path-to-node="4" data-index-in-node="68">Dr. Agustina Wilujeng P, S.S., M.M.</b>, menegaskan bahwa Gekrafs merupakan mitra krusial bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dalam menjalankan skema "Waras Ekonomi". Program ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) guna menciptakan iklim UMKM yang sehat, kompetitif, dan memiliki orientasi pasar global.</p><p data-path-to-node="5">"Kita membutuhkan wadah yang mampu menaungi puluhan ribu UMKM di Semarang. Kehadiran Gekrafs diharapkan menjadi pintu kemajuan ekonomi kreatif daerah, di mana UMKM tidak hanya tumbuh secara jumlah, tetapi juga naik kelas menjadi industri besar," ujar Wali Kota Agustina.</p><p data-path-to-node="6"><b data-path-to-node="6" data-index-in-node="0">Visi Transformasi Digital dan Kolaborasi</b>
<br>Ketua Umum DPC Gekrafs Kota Semarang, <b data-path-to-node="6" data-index-in-node="79">Abraham Jordy Winarto, S.Ak., M.M.</b>, menyatakan komitmennya untuk segera menjalankan program strategis yang berfokus pada hasil nyata (<i data-path-to-node="6" data-index-in-node="213">outcome</i>). Program tersebut meliputi inkubasi bisnis, pelatihan intensif, hingga transformasi digital secara masif bagi para anggota.</p><blockquote>"Kami hadir sebagai wadah kolaboratif yang mengintegrasikan pelaku usaha dengan pasar melalui sistem yang mumpuni. Fokus kami adalah menghadirkan pembinaan yang berdampak langsung pada peningkatan profitabilitas dan daya saing pelaku ekonomi kreatif di Semarang," tegas Abraham Jordy.</blockquote><p data-path-to-node="8"><b data-path-to-node="8" data-index-in-node="0">Struktur Pengurus DPC Gekrafs Kota Semarang 2026–2029</b>
<br>Kepengurusan periode ini diisi oleh deretan profesional dan akademisi lintas disiplin yang terbagi ke dalam struktur pimpinan inti, bidang strategis, dan badan semi otonom:</p><h3 data-path-to-node="9"><b data-path-to-node="9" data-index-in-node="0">I. Pimpinan Inti</b></h3><ul data-path-to-node="10"><li><p data-path-to-node="10,0,0"><b data-path-to-node="10,0,0" data-index-in-node="0">Ketua Umum:</b> Abraham Jordy Winarto, S.Ak., M.M.</p></li><li><p data-path-to-node="10,1,0"><b data-path-to-node="10,1,0" data-index-in-node="0">Wakil Ketua I:</b> M Arung Palaga, S.I.P.</p></li><li><p data-path-to-node="10,2,0"><b data-path-to-node="10,2,0" data-index-in-node="0">Wakil Ketua II:</b> Jessica Krisninda, S.S.</p></li><li><p data-path-to-node="10,3,0"><b data-path-to-node="10,3,0" data-index-in-node="0">Wakil Ketua III:</b> Albert Dwi Jaya, B.Eng., M.Comm.</p></li><li><p data-path-to-node="10,4,0"><b data-path-to-node="10,4,0" data-index-in-node="0">Wakil Ketua IV:</b> Rayhan Dhany Rahardian</p></li><li><p data-path-to-node="10,5,0"><b data-path-to-node="10,5,0" data-index-in-node="0">Sekretaris Umum:</b> Michael, S.Kom.</p></li><li><p data-path-to-node="10,6,0"><b data-path-to-node="10,6,0" data-index-in-node="0">Wakil Sekretaris:</b> Prasasti Nugrahaning Gusti, S.H.</p></li><li><p data-path-to-node="10,7,0"><b data-path-to-node="10,7,0" data-index-in-node="0">Bendahara Umum:</b> Abelando Byakto Putro, S.M.</p></li><li><p data-path-to-node="10,8,0"><b data-path-to-node="10,8,0" data-index-in-node="0">Wakil Bendahara:</b> Zhahira Adriyani, S.Ak.</p></li></ul><h3 data-path-to-node="11"><b data-path-to-node="11" data-index-in-node="0">II. Ketua Bidang dan Badan Semi Otonom (BSO)</b></h3><ul data-path-to-node="12"><li><p data-path-to-node="12,0,0"><b data-path-to-node="12,0,0" data-index-in-node="0">Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Kelembagaan:</b> Andri Harispane</p></li><li><p data-path-to-node="12,1,0"><b data-path-to-node="12,1,0" data-index-in-node="0">Ketua BSO Kepedulian Sosial:</b> Kevin Sinudarsono, S.H., M.M.</p></li><li><p data-path-to-node="12,2,0"><b data-path-to-node="12,2,0" data-index-in-node="0">Ketua BSO Komunikasi dan Informasi:</b> Widyasari Arum Ramadhanti, S.Ars</p></li><li><p data-path-to-node="12,3,0"><b data-path-to-node="12,3,0" data-index-in-node="0">Ketua BSO Gastronomi Nusantara:</b> Pratama Ilham Sugito, S.E.</p></li><li><p data-path-to-node="12,4,0"><b data-path-to-node="12,4,0" data-index-in-node="0">Ketua Bidang Riset dan Pelestarian Budaya Tradisi Nusantara:</b> Liona</p></li><li><p data-path-to-node="12,5,0"><b data-path-to-node="12,5,0" data-index-in-node="0">Ketua Bidang Event, Sosialisasi Program, dan Pembinaan Komunitas:</b> Teo Ruddy</p></li><li><p data-path-to-node="12,6,0"><b data-path-to-node="12,6,0" data-index-in-node="0">Ketua Bidang Kepedulian Sosial, Pembiayaan Inovatif, dan Kemudahan Bisnis Ekraf:</b> Arjun Frastiyono, A.Md., A.B.</p></li><li><p data-path-to-node="12,7,0"><b data-path-to-node="12,7,0" data-index-in-node="0">Ketua Bidang Kerjasama Media dan Pemasaran:</b> Timotius Kevin Prasetyo, S.M.</p></li><li><p data-path-to-node="12,8,0"><b data-path-to-node="12,8,0" data-index-in-node="0">Ketua Bidang Pengembangan Teknologi dan Transformasi Digital:</b> Aditya Herdiansyah Putra, S.Kom.</p></li><li><p data-path-to-node="12,9,0"><b data-path-to-node="12,9,0" data-index-in-node="0">Ketua Bidang Haki, Hukum, dan Advokasi:</b> Yudha Pratama Perkasa Sitorus, S.H.</p></li></ul><p data-path-to-node="14">Barisan kepengurusan juga diperkuat oleh wakil ketua bidang yang memiliki spesialisasi di berbagai sektor kreatif:</p><ul data-path-to-node="15"><li><p data-path-to-node="15,0,0">Dinda Ari Ayu Isnani, ST</p></li><li><p data-path-to-node="15,1,0">Muhammad Galih Abiyurohman</p></li><li><p data-path-to-node="15,2,0">Imam Bayu Aji, S.H.</p></li><li><p data-path-to-node="15,3,0">Yehezkiel Putra Anugerah</p></li><li><p data-path-to-node="15,4,0">Dede Indraswara</p></li><li><p data-path-to-node="15,5,0">Hermawan Sulistyo</p></li><li><p data-path-to-node="15,6,0">Bastian Jopi Rian Mandagi</p></li><li><p data-path-to-node="15,7,0">Safira Janice Prasetyo, S.M.</p></li><li><p data-path-to-node="15,8,0">Diaz Andhika Kusumo Waluyo, S.Kom</p></li><li><p data-path-to-node="15,9,0">Dedet Sri Hambal, S.H.</p></li></ul><p data-path-to-node="16"><b data-path-to-node="16" data-index-in-node="0">Komitmen Melalui Sumpah Gekrafs</b>
<br>Acara ditutup dengan pembacaan Sumpah Gekrafs oleh seluruh pengurus yang baru dilantik. Sumpah tersebut menekankan kesetiaan kepada NKRI dan Pancasila, kepatuhan terhadap regulasi organisasi, serta kesiapan untuk bersinergi dengan berbagai pihak guna memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan ekonomi kreatif di tanah air.</p><p data-path-to-node="17">DPC Gekrafs Kota Semarang juga menegaskan komitmennya untuk tetap inklusif dengan membuka ruang bagi talenta kreatif baru melalui proses rekrutmen terbuka guna memperluas jangkauan gerakan ekonomi kreatif di Kota Semarang.</p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Dede indraswara</dc:creator>
            <category>News</category>
            <pubDate>Sun, 12 Apr 2026 08:57:12 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/whatsapp-image-2026-04-10-at-164211-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Dari Potensi hingga Tantangan: Jalan Panjang Menuju Kedaulatan Energi Indonesia]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/akselerasi-transisi-energi-nasional-berbasis-potensi-daerah-menuju-kedaulatan-energi-indonesia-69cd7c3aa8761</link>
            <guid isPermaLink="false">98</guid>
            <description><![CDATA[Simposium Nasional Kedaulatan Energi 2026 di Sulawesi Utara menegaskan urgensi akselerasi transisi energi berbasis potensi daerah. Forum ini menyoroti peran strategis generasi muda, pengembangan geothermal, serta tantangan infrastruktur dan kebijakan energi nasional.]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Manado, 31 Maret 2026 – Simposium Nasional
Kedaulatan Energi (SINERGI) 2026 yang diselenggarakan oleh Dewan Energi
Mahasiswa Sulawesi Utara (DEM Sulut) menegaskan urgensi transformasi sistem
energi Indonesia dari sekadar ketahanan menuju kedaulatan energi yang
berkelanjutan, inklusif, dan berbasis potensi lokal.</p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Bertempat di Aula Mapalus, Kantor Gubernur
Sulawesi Utara, kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah, industri,
akademisi, dan generasi muda dalam satu forum strategis guna membahas tantangan
struktural serta peluang transisi energi nasional, dengan fokus pada
pengembangan energi baru terbarukan, khususnya panas bumi (geothermal).</span></p><h3 style="text-align: justify;"><span lang="id">Kearifan Lokal sebagai Fondasi Transisi Energi</span></h3><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Simposium dibuka dengan prosesi penyematan
kain Tenun Kawanua kepada tamu kehormatan serta pertunjukan seni budaya
Minahasa. Momentum ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi
merepresentasikan integrasi nilai-nilai kearifan lokal dalam pembangunan energi
berkelanjutan di daerah.</span></p><h3 style="text-align: justify;"><span lang="id">Geothermal: Potensi Besar, Tantangan Nyata</span></h3><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Diskusi menyoroti bahwa Indonesia saat ini
memiliki kapasitas terpasang panas bumi sekitar 2,7 GW, menjadikannya sebagai
salah satu produsen terbesar di dunia. Sulawesi Utara sendiri diposisikan
sebagai kawasan strategis dengan potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan
energi panas bumi di Indonesia Timur.</span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Namun demikian, forum ini secara kritis
mengungkap sejumlah persoalan mendasar:</span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Ketimpangan infrastruktur energi, terutama
keterbatasan integrasi jaringan listrik di wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo<o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal"></p><ul><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Inefisiensi sistem distribusi energi, yang
menyebabkan sekitar 20 MW energi tidak terserap, dengan estimasi kerugian
mencapai ± Rp8 miliar per tahun</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Penurunan bauran energi terbarukan di tingkat
daerah, yang justru berbanding terbalik dengan peningkatan kapasitas produksi
energi bersih</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Tingginya risiko eksplorasi geothermal, baik
dari sisi biaya, ketidakpastian geologi, maupun kesiapan infrastruktur
pendukung</span></li><li style="text-align: justify;">Temuan ini menegaskan bahwa tantangan utama
dalam transisi energi tidak lagi terletak pada ketersediaan sumber daya,
melainkan pada kesiapan sistem, kebijakan, dan tata kelola energi secara
menyeluruh.</li></ul><p></p><h3 style="text-align: justify;"><span lang="id">Energi sebagai Penggerak Ekonomi Daerah</span></h3><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Simposium ini juga menyoroti bahwa pemanfaatan
energi panas bumi tidak terbatas pada pembangkitan listrik, tetapi memiliki
potensi hilirisasi yang luas, antara lain:</span></p><p class="MsoNormal"></p><ul><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Produksi pupuk berbasis silika untuk sektor
pertanian</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Teknologi pengeringan hasil pertanian yang
lebih efisien</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Pengembangan ekowisata berbasis sumber air
panas</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Pemanfaatan langsung untuk kebutuhan industri
lokal</span></li></ul><p></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Dengan pendekatan ini, energi diposisikan
sebagai penggerak ekosistem ekonomi daerah, bukan sekadar komoditas penyedia
listrik.</span></p><h3 style="text-align: justify;"><span lang="id">Transformasi Industri dan Tantangan
Kepercayaan Publik</span></h3><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Dalam konteks industri, khususnya peran
Pertamina, disampaikan bahwa transformasi menuju energi berkelanjutan sedang
berlangsung melalui strategi ganda yang mencakup pengembangan energi fosil dan
energi baru terbarukan.</span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Langkah konkret yang telah dilakukan meliputi:</span></p><p class="MsoNormal"></p><ul><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Pengembangan biofuel, termasuk uji coba bahan
bakar berbasis minyak jelantah</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Proyek Carbon Capture, Utilization, and
Storage (CCUS)</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Inisiatif pengembangan green hydrogen</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Penerapan prinsip Environmental, Social, and
Governance (ESG)</span></li></ul><p></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Namun demikian, tantangan utama yang dihadapi
industri adalah membangun kepercayaan publik, menjaga konsistensi arah transisi
energi, serta menghadapi dinamika geopolitik global yang berdampak langsung
pada stabilitas energi nasional.</span></p><h3 style="text-align: justify;"><span lang="id">Dimensi Sosial dan Risiko Transisi Energi</span></h3><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Simposium ini juga mengangkat isu kritis yang
sering terabaikan dalam diskursus energi, yaitu potensi konflik sosial akibat
transisi energi, termasuk:</span></p><p class="MsoNormal"></p><ul><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Risiko perampasan ruang hidup masyarakat</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Ketegangan antara kepentingan energi dan
ketahanan pangan</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Dampak lingkungan dari eksploitasi sumber daya</span></li></ul><p></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Hal ini menegaskan bahwa transisi energi harus
dilakukan secara adil (just transition) dengan memastikan perlindungan terhadap
masyarakat lokal dan keberlanjutan lingkungan.</span></p><h3 style="text-align: justify;"><span lang="id">Peran Strategis Generasi Muda: Dari Diskursus
ke Aksi</span></h3><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Salah satu kesimpulan utama forum adalah bahwa
generasi muda, khususnya mahasiswa, harus bertransformasi dari sekadar
partisipan diskusi menjadi aktor utama dalam ekosistem energi nasional.</span></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Peran yang diharapkan meliputi:</span></p><p class="MsoNormal"></p><ul><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Inovator dalam pengembangan teknologi energi
terbarukan</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Edukator dalam meningkatkan literasi energi di
masyarakat</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Advokator dalam mendorong kebijakan energi
yang berkelanjutan</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Kolaborator lintas sektor dalam model
penta-helix</span></li></ul><p></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Keterlibatan aktif generasi muda menjadi kunci
dalam mempercepat transformasi menuju kemandirian energi yang berdaulat dan
berkelanjutan.</span></p><h3 style="text-align: justify;"><span lang="id">Arah Kebijakan: Dari Ketahanan Menuju
Kedaulatan Energi</span></h3><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Simposium ini menegaskan bahwa Indonesia perlu
segera melakukan pergeseran paradigma dari ketahanan energi menuju kedaulatan
energi, yang ditandai dengan:</span></p><p class="MsoNormal"></p><ul><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Optimalisasi potensi energi lokal</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Penguatan infrastruktur dan integrasi sistem
energi</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi
energi</span></li><li style="text-align: justify;"><span lang="id">Kolaborasi strategis antara pemerintah,
industri, akademisi, masyarakat, dan media&nbsp;</span></li></ul><h3 style="text-align: justify;">Penutup</h3><p></p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Simposium Nasional Kedaulatan Energi 2026
menjadi forum strategis yang tidak hanya menghasilkan diskursus, tetapi juga
menegaskan urgensi aksi nyata dalam menghadapi tantangan energi masa depan.</span></p><p data-pm-slice="0 0 []">





































































































































































</p><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="id">Dewan Energi Mahasiswa Sulawesi Utara
menegaskan komitmennya untuk terus mendorong peran aktif generasi muda dalam
memperkuat posisi Sulawesi Utara sebagai salah satu pusat pengembangan energi
terbarukan di Indonesia, sekaligus berkontribusi dalam pencapaian target Net
Zero Emission nasional.<o:p></o:p></span></p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Josua Sondakh</dc:creator>
            <category>News</category>
            <pubDate>Wed, 01 Apr 2026 20:12:42 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/04/cua07699-1-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Boleh Gak Sih Nulis Nama Orang Tua atau Orang Terdekat di Kata Persembahan Skripsi?]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/boleh-gak-sih-nulis-nama-orang-tua-atau-orang-terdekat-di-kata-persembahan-skripsi-69c9e4cf54c86</link>
            <guid isPermaLink="false">97</guid>
            <description><![CDATA[Menulis nama orang tua adalah wujud hak moral pencipta dalam UU Hak Cipta. Namun di era digital, skripsi biasanya diunggah ke repositary dan dapat diakses oleh publik yang berisiko disalahgunakan penyalahgunaan data pribadi.]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="5">Bayangkan kita sudah menghabiskan waktu puluhan jam di depan layar, merevisi draf yang tak kunjung disetujui dosen pembimbing. Sampai di satu titik akhir, pandangan kita tertuju pada satu halaman emosional: <i data-path-to-node="5" data-index-in-node="220">Halaman Persembahan</i>. Kita sangat ingin menuliskan nama kedua orang tua lengkap dengan gelar dan doa terbaik. Namun, pernahkah terbesit pertanyaan di kepala kita,&nbsp;</p><blockquote>"Apakah aman memajang nama lengkap orang tua di dalam dokumen skripsi yang nantinya akan dipublikasikan ke internet?"</blockquote><p data-path-to-node="6"><b data-path-to-node="6" data-index-in-node="0">Halaman Persembahan dan Hak Moral Penulis</b>
<br>Bagi kita sebagai mahasiswa tingkat akhir, halaman persembahan adalah ruang yang sakral. Di sinilah letak dedikasi kita kepada pihak-pihak yang dianggap berjasa memeras keringat demi kelancaran studi. Karena sifatnya yang personal, halaman ini sering kali luput dari standar ketat format akademik. Kita seolah bebas menuliskan apa saja, dari nama orang tua, keluarga, pasangan, hingga sekadar lirik lagu andalan.</p><p data-path-to-node="7">Jika ditinjau dari kacamata hukum, kebiasaan ini sah-sah saja. Skripsi adalah karya intelektual yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Berdasarkan beleid tersebut, seorang pencipta memiliki Hak Moral yang melekat abadi. Menuliskan nama orang tua di sana adalah manifestasi mutlak dari hak moral kebebasan akademik kita untuk memberikan apresiasi. Tidak ada hukum di Indonesia yang melarang kita berterima kasih kepada keluarga di lembar karya ilmiah.</p><p data-path-to-node="7"><br></p><p data-path-to-node="8"><b data-path-to-node="8" data-index-in-node="0">Realitas Era Digital: Skripsi Bukan Lagi Dokumen Berdebu</b>&nbsp;</p><p data-path-to-node="8">Namun, mari kita geser kacamata kita pada realitas hari ini. Sepuluh atau dua puluh tahun lalu, skripsi mungkin hanya akan berakhir menjadi tumpukan kertas berdebu di rak pojok perpustakaan kampus. Hari ini? Hampir seluruh kampus di Indonesia mewajibkan mahasiswanya mengunggah file skripsi utuh ke repositori institusi (<i data-path-to-node="8" data-index-in-node="378">open access</i>).</p><p data-path-to-node="9">Dokumen kebanggaan kita ini tidak lagi berstatus "bacaan terbatas", melainkan menjadi arsip digital publik yang bisa diunduh oleh siapa saja dari berbagai belahan dunia hanya bermodalkan mesin pencari. Di sinilah letak bom waktunya.</p><p data-path-to-node="9"><br></p><p data-path-to-node="10"><b data-path-to-node="10" data-index-in-node="0">Kunci Brankas Bernama "Nama Ibu Kandung"</b>&nbsp;</p><p data-path-to-node="10">Meski mencantumkan nama orang terdekat adalah bentuk apresiasi yang mulia, perubahan lanskap digital ini membawa risiko laten terkait perlindungan data pribadi. Potensi penyalahgunaan informasi yang kita cantumkan sangatlah tinggi.</p><p data-path-to-node="11">Masalah terbesarnya ada pada sistem keamanan finansial kita saat ini. Di Indonesia, nama lengkap orang tua—khususnya <i data-path-to-node="11" data-index-in-node="117">nama gadis ibu kandung</i>—adalah "kunci verifikasi" utama dalam berbagai layanan sensitif seperti perbankan, aktivasi kartu kredit, hingga pemulihan kata sandi.</p><p data-path-to-node="12">Ketika nama lengkap ayah dan ibu terpampang nyata bersanding dengan nama lengkap kita, nomor induk mahasiswa, serta asal universitas di dokumen skripsi, tanpa sadar kita baru saja membungkus data pribadi keluarga dan menyerahkannya secara cuma-cuma kepada para pelaku kejahatan siber. Penipu dengan teknik rekayasa sosial (<i data-path-to-node="12" data-index-in-node="323">social engineering</i>) bisa dengan mudah menggunakan kompilasi data dari skripsi kita untuk meretas akun bank atau bahkan meminjam dana melalui pinjaman online (pinjol) ilegal atas nama kita.</p><p data-path-to-node="13"><b data-path-to-node="13" data-index-in-node="0">Menyeimbangkan Dedikasi dan Privasi</b>&nbsp;</p><p data-path-to-node="13">Pada akhirnya, niat baik tidak selalu berbanding lurus dengan dampak yang aman. Apresiasi yang kita berikan di lembar persembahan harus selaras dengan kewaspadaan kita terhadap keamanan siber. Kita tetap bisa, dan bahkan sangat dianjurkan, untuk mendedikasikan karya tersebut kepada orang-orang tercinta, namun mari kita lakukan dengan lebih cerdas.</p><p data-path-to-node="14">Solusinya cukup sederhana: gunakan nama panggilan, inisial, atau sapaan sayang tanpa perlu mencantumkan nama lengkap orang tua (misalnya: <i data-path-to-node="14" data-index-in-node="138">Untuk Bapak dan Ibu tercinta di rumah</i>). Hal ini sama sekali tidak akan mengurangi esensi rasa syukur kita sedikit pun.</p><p data-path-to-node="15">Menyelesaikan skripsi adalah pencapaian luar biasa yang sangat patut kita rayakan. Namun, kesadaran bahwa privasi adalah benteng utama pelindung keluarga harus diletakkan di atas euforia kelulusan. Bentuk rasa terima kasih yang paling nyata dan bertanggung jawab adalah dengan memastikan bahwa gelar akademik yang susah payah kita raih, tidak justru menjadi karpet merah bagi pihak tak bertanggung jawab untuk mengusik ketenangan finansial dan privasi keluarga yang kita cintai.</p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Safira Embun Insanidya</dc:creator>
            <category>Opinion</category>
            <pubDate>Wed, 01 Apr 2026 14:29:43 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/03/gemini-generated-image-ypmqz4ypmqz4ypmq-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Konflik Iran dan Dinamika Energi Global: Dampak Geopolitik terhadap Ekonomi Dunia dan Indonesia]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/konflik-iran-dan-dinamika-energi-global-dampak-geopolitik-terhadap-ekonomi-dunia-dan-indonesia-69a8a1d19ceb3</link>
            <guid isPermaLink="false">93</guid>
            <description><![CDATA[Konflik Iran–Amerika Serikat kembali memicu ketegangan geopolitik yang berpotensi mengguncang pasar energi global. Posisi strategis Iran di Selat Hormuz menjadikan setiap eskalasi berdampak langsung pada harga minyak dunia, inflasi, dan stabilitas ekonomi. Bagi Indonesia sebagai net importer minyak,]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Penulis : David Runtuwene<br><br>Konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat
kembali meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kawasan ini
sejak lama menjadi pusat perhatian global karena perannya sebagai pemasok utama
energi fosil dunia, khususnya minyak mentah. Ketegangan militer di wilayah ini
tidak hanya berdampak pada stabilitas politik regional, tetapi juga memiliki
implikasi luas terhadap harga energi, stabilitas ekonomi global, serta arah
transisi energi dunia.</span></p><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Sebagai salah satu negara dengan cadangan minyak
terbesar di dunia, Iran memiliki posisi strategis dalam sistem energi global.
Gangguan terhadap produksi atau distribusi minyak Iran berpotensi memicu
volatilitas harga minyak dunia dan mengganggu rantai pasok energi
internasional.</span></p><h2 style="text-align: left;"><span class="s2">Posisi Strategis Iran dalam Pasar Minyak Global</span></h2><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Iran secara konsisten masuk dalam jajaran negara
dengan cadangan minyak terbesar dunia, bersama Venezuela dan Arab Saudi. Negara
ini juga merupakan anggota penting dalam Organization of the Petroleum
Exporting Countries (OPEC), yang memiliki pengaruh signifikan dalam pengaturan
produksi dan stabilitas harga minyak global.</span><o:p></o:p></p><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Selain cadangan yang besar, posisi geografis Iran
sangat strategis karena berada di sekitar Selat Hormuz, jalur sempit yang
menjadi titik transit sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Setiap eskalasi
konflik yang mengancam keamanan jalur ini hampir selalu berdampak langsung pada
lonjakan harga minyak global akibat kekhawatiran terganggunya pasokan.</span></p><h2 style="text-align: left;"><span class="s2">Amerika Serikat: Kepentingan Geopolitik dan Energi</span></h2><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Untuk memahami dinamika konflik, perlu dilihat
perubahan posisi Amerika Serikat dalam pasar energi global. Dalam satu dekade
terakhir, melalui revolusi shale oil, Amerika Serikat bertransformasi menjadi
salah satu produsen minyak terbesar dunia. Data dari U.S. Energy Information
Administration (EIA) menunjukkan bahwa AS kini termasuk tiga besar produsen
minyak global.</span></p><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Hal ini mengubah paradigma klasik bahwa AS
semata-mata bergantung pada impor minyak Timur Tengah. Secara struktural,
ketergantungan energi AS terhadap kawasan tersebut telah berkurang dibandingkan
dekade 1990–2000-an.</span><o:p></o:p></p><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Namun demikian, kepentingan AS di Timur Tengah tidak
hanya soal pasokan energi domestik. Stabilitas harga minyak global, dominasi
dolar dalam perdagangan energi, serta keseimbangan kekuatan regional tetap
menjadi faktor utama dalam kebijakan luar negeri mereka.</span></p><h2 style="text-align: left;"><span class="s1">Apakah Motifnya Perebutan Minyak?</span></h2><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Hipotesis bahwa konflik bertujuan untuk “merebut
cadangan minyak” perlu ditelaah secara rasional. Dalam konteks ekonomi modern,
pendudukan fisik ladang minyak bukan lagi strategi yang efisien maupun
berkelanjutan secara politik. Biaya militer, sanksi internasional, dan tekanan
diplomatik jauh lebih besar dibandingkan potensi keuntungan langsung.</span><o:p></o:p></p><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Namun, ada perspektif lain yang lebih relevan secara
ekonomi: kontrol terhadap stabilitas pasokan dan pengaruh terhadap struktur
harga global. Dalam sistem ekonomi energi modern, pengaruh terhadap distribusi
dan stabilitas pasokan sering kali lebih strategis daripada kepemilikan
langsung sumber daya.</span></p><h2 style="text-align: left;"><span class="s2">Dampak terhadap Ekonomi Global</span></h2><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Konflik yang mengganggu ekspor minyak Iran
berpotensi menimbulkan beberapa konsekuensi:</span><o:p></o:p></p><p class="li2" style="margin-left:36.0pt;text-indent:-18.0pt;mso-list:l1 level1 lfo1;
tab-stops:list 36.0pt"></p><div style="text-align: justify;"><span style="text-indent: -18pt;">1.</span><span style="text-indent: -18pt; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-weight: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span><span class="s2" style="text-indent: -18pt;">Lonjakan Harga Minyak</span></div><!--[if !supportLists]-->
<span class="s3"><div style="text-align: justify;"><span style="text-indent: -18pt;">Ketidakpastian pasokan hampir selalu direspons pasar dengan
kenaikan harga.</span></div></span><p></p><p class="li2" style="margin-left:36.0pt;text-indent:-18.0pt;mso-list:l1 level1 lfo1;
tab-stops:list 36.0pt"></p><div style="text-align: justify;"><span style="text-indent: -18pt;">2.</span><span style="text-indent: -18pt; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-weight: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span><span class="s2" style="text-indent: -18pt;">Inflasi Global</span></div><!--[if !supportLists]-->
<span class="s3"><div style="text-align: justify;"><span style="text-indent: -18pt;">Minyak adalah input utama transportasi dan industri. Kenaikan
harga energi mendorong kenaikan biaya produksi dan distribusi.</span></div></span><p></p><p class="li2" style="margin-left:36.0pt;text-indent:-18.0pt;mso-list:l1 level1 lfo1;
tab-stops:list 36.0pt"></p><div style="text-align: justify;"><span style="text-indent: -18pt;">3.</span><span style="text-indent: -18pt; font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-weight: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span><span class="s2" style="text-indent: -18pt;">Volatilitas Pasar Keuangan</span></div><!--[if !supportLists]-->
<span class="s3"><div style="text-align: justify;"><span style="text-indent: -18pt;">Ketidakstabilan geopolitik meningkatkan risiko investasi dan
mendorong capital flight dari negara berkembang.</span></div></span><p></p><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Menurut laporan rutin dari International Energy
Agency (IEA), gangguan pasokan di Timur Tengah secara historis selalu berdampak
pada pengetatan pasar energi global dalam jangka pendek.</span></p><h2 style="text-align: left;"><span class="s2">Dampak Potensial terhadap Indonesia</span></h2><p class="p2" style="text-align: left;"><span class="s3">Sebagai negara net importer minyak, Indonesia sangat
rentan terhadap kenaikan harga minyak dunia. Dampaknya dapat berupa:</span><o:p></o:p></p><p class="li2" style="text-align: left; margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10.0pt;
mso-bidi-font-size:12.0pt;font-family:Symbol;mso-fareast-font-family:Symbol;
mso-bidi-font-family:Symbol">·<span style="font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-weight: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span></span><!--[endif]--><span class="s3">Tekanan pada subsidi energi</span><o:p></o:p></p><p class="li2" style="text-align: left; margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10.0pt;
mso-bidi-font-size:12.0pt;font-family:Symbol;mso-fareast-font-family:Symbol;
mso-bidi-font-family:Symbol">·<span style="font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-weight: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span></span><!--[endif]--><span class="s3">Pelebaran defisit neraca perdagangan</span><o:p></o:p></p><p class="li2" style="text-align: left; margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10.0pt;
mso-bidi-font-size:12.0pt;font-family:Symbol;mso-fareast-font-family:Symbol;
mso-bidi-font-family:Symbol">·<span style="font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-weight: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span></span><!--[endif]--><span class="s3">Tekanan terhadap nilai tukar rupiah</span><o:p></o:p></p><p class="li2" style="text-align: left; margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10.0pt;
mso-bidi-font-size:12.0pt;font-family:Symbol;mso-fareast-font-family:Symbol;
mso-bidi-font-family:Symbol">·<span style="font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-weight: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span></span><!--[endif]--><span class="s3">Kenaikan inflasi domestik</span><o:p></o:p></p><p class="p2" style="text-align: left;"><span class="s3">Kondisi ini secara fiskal membatasi ruang gerak
pemerintah dalam pembiayaan pembangunan.</span></p><h2 style="text-align: left;"><span class="s2">Apakah Konflik Mempercepat Energi Terbarukan?</span></h2><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Ada argumen menarik yang menyatakan bahwa ketegangan
minyak global dapat mempercepat transisi energi. Secara historis, krisis minyak
1973 mendorong banyak negara maju mengembangkan efisiensi energi dan sumber
alternatif.</span><o:p></o:p></p><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Dalam konteks saat ini, jika pasokan minyak global
semakin tidak stabil, maka investasi dalam energi terbarukan seperti surya,
angin, dan penyimpanan energi menjadi semakin menarik secara ekonomi.</span></p><h2 style="text-align: left;"><span class="s2">SERBA SERBI DAMPAK EKONOMI DAN KETAHANAN ENERGI
NASIONAL</span></h2><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Sebagai negara net importer minyak, Indonesia tentu
tidak kebal. Kenaikan harga minyak berarti; tekanan subsidi, defisit
perdagangan, hingga potensi pelemahan rupiah. Stabilitas Timur Tengah ternyata
memiliki implikasi langsung terhadap ruang fiskal kita.</span><o:p></o:p></p><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Disisi lain ketergantungan berlebihan pada energi
fosil membuat sistem ekonomi global—termasuk Indonesia—terlalu rentan terhadap
gejolak geopolitik. Sehingga Setiap konflik atau eskalasi, serta ancaman
penutupan jalur distribusi bisa langsung beresonansi ke inflasi dan stabilitas
makroekonomi.</span></p><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Dalam kondisi seperti ini makin terlihat jelas bahwa
transisi energi bukan sekadar agenda lingkungan, tetapi agenda ketahanan
ekonomi. Diversifikasi menuju energi terbarukan seperti surya, angin, dan
sistem penyimpanan energi bukan hanya soal dekarbonisasi, melainkan upaya
mengurangi eksposur terhadap risiko geopolitik energi fosil.</span><o:p></o:p></p><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Jika struktur energi bangsa tetap bertumpu pada
komoditas yang sangat dipengaruhi konflik kawasan, maka stabilitas ekonomi akan
selalu berada dalam bayang-bayang ketidakpastian global. Justru dari dinamika
konflik inilah urgensi transisi menjadi semakin rasional secara ekonomi.</span></p><h2 style="text-align: left;"><span class="s2">Kesimpulan</span></h2><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Konflik antara Iran dan Amerika Serikat memiliki
dampak multidimensional terhadap ekonomi global. Posisi Iran sebagai pemilik
cadangan minyak besar dan penjaga jalur distribusi strategis membuat setiap
eskalasi konflik berpotensi mengguncang pasar energi dunia.</span><o:p></o:p></p><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Bagi Indonesia, ketergantungan pada impor minyak
menjadikan stabilitas Timur Tengah sebagai faktor penting dalam menjaga
stabilitas ekonomi nasional.</span><o:p></o:p></p><p>





























































































</p><p class="p2" style="text-align: justify;"><span class="s3">Maka dari itu dapat di katakan bahwa energi bukan
sekadar komoditas — ia adalah instrumen kekuatan. Dan dalam konteks itu,
membangun kemandirian melalui energi terbarukan bukan hanya pilihan idealis,
melainkan langkah strategis untuk mengurangi kerentanan struktural terhadap
krisis energi global.</span><o:p></o:p></p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Josua Sondakh</dc:creator>
            <category>Internasional</category>
            <pubDate>Wed, 04 Mar 2026 21:19:13 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/03/gemini-generated-image-6exjcc6exjcc6exj-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Mengapa Penjara 12 Tahun Terlalu &quot;Murah&quot; bagi Pembacok Mahasiswi UIN Suska?]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/salinan-mengapa-penjara-12-tahun-terlalu-murah-bagi-pembacok-mahasiswi-uin-suska-69a6fc9f8397b</link>
            <guid isPermaLink="false">90</guid>
            <description><![CDATA[Pembacokan Mahasiswi di UIN Suska Riau yang dilakukan dikampus dengan menggunakan kapak yang di sinyalir karena persoalan asmara antara Farradhila Ayu Pramesti (23) dan  Rehan Mujafar (21).]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><b>PEKANBARU, </b><span style="font-weight: normal;">3 Maret 2026 – Lantai 2 Gedung Fakultas
Syariah dan Ilmu Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim
Riau, yang biasanya menjadi ruang diskusi konstitusi, mendadak berubah menjadi
saksi bisu tragedi berdarah pada Kamis pagi, 26 Februari 2026. Seorang
mahasiswi semester akhir, Farradhila Ayu Pramesti (23), roboh bersimbah darah
setelah diserang secara brutal menggunakan kapak oleh rekan satu kampusnya,
Rehan Mujafar (21).<o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal"><span style="font-weight: normal;">Kasus ini menjadi "laboratorium" nyata bagi
para praktisi hukum karena merupakan salah satu perkara besar pertama yang
diuji menggunakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP (KUHP
Nasional), sekaligus memicu perdebatan luas mengenai keamanan kampus dan
urgensi literasi kesehatan mental di kalangan mahasiswa tingkat akhir.</span><o:p></o:p></p><h2><b>I. Akar Konflik: Hubungan Tanpa Status dan Eksploitasi
Perasaan</b></h2><p class="MsoNormal"><span style="font-weight: normal;">Berdasarkan keterangan saksi kunci dan hasil penyidikan
Polresta Pekanbaru, bibit tragedi ini bermula dari program Kuliah Kerja Nyata
(KKN) di mana keduanya berada dalam satu kelompok yang sama. Teman dekat
korban, Daffa, mengungkapkan bahwa Rehan (RM) adalah pribadi yang introvert,
tertutup, dan belum pernah menjalin hubungan dekat dengan perempuan sebelumnya.
Di sisi lain, Farra dikenal sebagai sosok yang ceria, ramah, dan sangat
perhatian kepada teman-temannya.<o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal"><span style="font-weight: normal;">Keramahan Farra diduga disalahartikan oleh RM sebagai
sinyal asmara yang spesial. Polisi mengidentifikasi dinamika ini sebagai
Hubungan Tanpa Status (HTS) yang timpang. Dalam keterangannya, RM merasa telah
memberikan "pengabdian" luar biasa dengan menjadi joki tugas-tugas
kuliah Farra serta menjadi sopir antar-jemput selama berbulan-bulan. Perasaan
sakit hati RM mencapai titik didih ketika Farra menegaskan batasan hubungan dan
diketahui telah memiliki kekasih bernama Ferdi. RM merasa hanya "dimanfaatkan"
secara tenaga dan intelektual, yang kemudian bertransformasi menjadi delusi
dendam yang mematikan.</span><o:p></o:p></p><h2><b>II. Bukti Digital: Pesan Terakhir "Pa, Doain
Fara"</b></h2><p class="MsoNormal"><span style="font-weight: normal;">Beberapa menit sebelum serangan terjadi, sebuah momen
haru terekam dalam bukti digital. Farra sempat mengirimkan pesan di grup
WhatsApp keluarga, meminta doa restu kepada ayahnya karena ia dijadwalkan
menjalani seminar proposal (sempro) skripsi pada pagi itu. "Pa, doain Fara
ya mau sempro," tulisnya pada pukul 07.25 WIB.<o:p></o:p></span></p><p class="MsoNormal"><span style="font-weight: normal;">Pesan singkat ini menjadi bukti hukum yang menunjukkan
bahwa korban berada dalam kondisi batin yang tenang, tidak dalam keadaan
terancam, dan murni fokus pada pencapaian akademiknya. Tak disangka, pesan itu
menjadi komunikasi terakhirnya sebelum ia dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara
akibat serangan mendadak RM yang telah menunggunya di depan ruang ujian.</span><o:p></o:p></p><h2><b>III. Kronologi Eksekusi: "Cold-Blooded
Preparation"</b></h2><p class="MsoNormal"><b>Ketajaman perencanaan yang dilakukan oleh RM menjadi
sorotan utama para kriminolog dan penyidik. </b><span style="font-weight: normal;">Kejahatan ini secara gamblang
menunjukkan adanya premeditated crime (kejahatan terencana) yang sistematis:</span><o:p></o:p></p><ol style="margin-top:0cm" start="1" type="1">
 <li class="MsoNormal">Fase
     Inkubasi Niat (November 2025):&nbsp;<span style="font-weight: normal;">RM mengakui bahwa niat untuk melukai
     atau "memberi pelajaran" kepada korban sudah dipendam sejak awal
     November 2025. Selama hampir empat bulan, RM memelihara niat jahat
     tersebut tanpa diketahui oleh lingkungan sekitarnya karena sifatnya yang
     tertutup.</span><o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Fase
     Persiapan Teknis (25 Februari 2026):<span style="font-weight: normal;">&nbsp;Sehari sebelum eksekusi, RM
     menyiapkan instrumen kejahatan berupa sebilah kapak dan parang milik orang
     tuanya di rumahnya, Bangkinang. Fakta yang paling menggigilkan adalah RM
     mengakui telah mengasah sendiri senjata tajam tersebut hingga mencapai
     tingkat ketajaman yang diinginkan guna memastikan "efektivitas"
     serangan.</span><o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Fase
     Eksekusi (26 Februari 2026):&nbsp;<span style="font-weight: normal;">RM mendatangi gedung Fakultas Syariah
     sekitar pukul 07.30 WIB dengan membawa tas sandang berisi dua senjata
     tajam. Di lokasi, sempat terjadi cekcok mulut singkat. RM yang sudah
     dibutakan dendam langsung mengayunkan kapaknya secara membabi buta. Meski
     Farra mencoba melakukan tangkisan bela diri menggunakan tangan kiri, RM
     berhasil mendaratkan delapan (8) luka bacok serius di bagian kening
     (kepala), leher belakang, punggung, serta pergelangan tangan. RM bahkan
     sempat melakukan tindakan penyanderaan singkat sebelum akhirnya diringkus
     oleh tim keamanan kampus.</span><o:p></o:p></li>
</ol><h2><b>IV. Analisis Yuridis: Menguji Pasal 469 KUHP Nasional</b></h2><p class="MsoNormal"><b>Kepolisian secara resmi menerapkan Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2023 (KUHP Baru) sebagai instrumen hukum utama. </b><span style="font-weight: normal;">Fokus utama jaksa
nantinya adalah membuktikan unsur perencanaan yang matang pada diri terdakwa.</span><o:p></o:p></p><p class="MsoNormal"><b>Kutipan Pasal 469 UU No. 1 Tahun 2023:<o:p></o:p></b></p><blockquote><b><i>(1) Penganiayaan yang dilakukan dengan rencana
terlebih dahulu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun.<br></i></b><b><i>
(2) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Luka Berat,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun.<br></i></b><b><i>
(3) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan matinya
orang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun.</i></b></blockquote><p class="MsoNormal"><b>Uraian Unsur-Unsur Delik dalam Kasus RM:<o:p></o:p></b></p><ol style="margin-top:0cm" start="1" type="1">
 <li class="MsoNormal">Setiap
     Orang: <span style="font-weight: normal;">Merujuk pada subjek hukum Rehan Mujafar yang secara identitas dan
     kesadaran mampu bertanggung jawab atas tindakannya.</span><o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Melakukan
     Penganiayaan: <span style="font-weight: normal;">Terbukti melalui tindakan materiil mengayunkan senjata tajam
     yang mengakibatkan luka fisik nyata dan rasa sakit yang hebat pada tubuh
     korban.</span><o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Dengan
     Rencana Terlebih Dahulu (<i>Met Voorbedachten Rade</i>):<span style="font-weight: normal;"> Terpenuhi melalui tiga
     indikator doktrinal:</span><o:p></o:p></li>
</ol><p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left:72.0pt;mso-add-space:
auto;text-indent:-18.0pt;mso-list:l2 level2 lfo2"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;">-<span style="font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span><!--[endif]-->Memutuskan kehendak dalam suasana tenang: Niat
RM yang dipelihara sejak November 2025 menunjukkan kondisi psikis yang stabil
saat merencanakan.<o:p></o:p></span></p><p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:72.0pt;mso-add-space:
auto;text-indent:-18.0pt;mso-list:l2 level2 lfo2"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;">-<span style="font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span><!--[endif]-->Tersedia waktu yang cukup: Rentang waktu 4 bulan
memberikan kesempatan bagi RM untuk membatalkan niatnya, namun ia justru
memilih melakukan persiapan teknis (mengasah kapak).<o:p></o:p></span></p><p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left:72.0pt;mso-add-space:auto;
text-indent:-18.0pt;mso-list:l2 level2 lfo2"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;">-<span style="font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span><!--[endif]-->Pelaksanaan dalam suasana tenang: RM memilih
waktu pagi hari saat kampus sepi, menunjukkan kontrol situasi yang matang.</span><o:p></o:p></p><ol style="margin-top:0cm" start="4" type="1">
 <li class="MsoNormal">Mengakibatkan
     Luka Berat: <span style="font-weight: normal;">Mengingat adanya 8 luka bacok, terutama di area vital kepala
     dan kerusakan fungsi pergelangan tangan, perbuatan ini memenuhi
     kualifikasi Pasal 155 UU 1/2023 tentang Luka Berat (cacat permanen atau
     bahaya maut).</span><o:p></o:p></li>
</ol><p class="MsoNormal"><b>Perdebatan Ahli (Dakwaan Berlapis):<o:p></o:p></b></p><p class="MsoNormal"><b>Beberapa praktisi hukum menyarankan agar penyidik juga
mempertimbangkan Pasal 459 (Pembunuhan Berencana) Jo. Pasal 17 (Percobaan).
</b><span style="font-weight: normal;">Argumentasinya adalah penggunaan senjata kapak yang diasah dan diarahkan ke
area vital (kepala/leher) menunjukkan adanya animus necandi atau niat untuk
merampas nyawa, bukan sekadar melukai.</span></p><p class="MsoNormal"><b>Berikut adalah uraian detail mengenai perdebatan ahli
terkait penerapan Pasal 459 Jo. Pasal 17 UU No. 1 Tahun 2023 sebagai alternatif
atau dakwaan primer bagi pelaku:</b></p><p class="MsoNormal"><b>Pasal 459 (Pembunuhan Berencana):</b></p><blockquote><b>"Setiap Orang yang dengan rencana terlebih dahulu
merampas nyawa orang lain, dipidana karena pembunuhan berencana, dengan pidana
mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 (dua
puluh) tahun."</b></blockquote><p class="MsoNormal"><b>Pasal 17 ayat (1) dan (2) (Percobaan):</b></p><blockquote><b>"(1) Percobaan melakukan Tindak Pidana terjadi jika
niat pelaku telah nyata dari adanya permulaan pelaksanaan dari Tindak Pidana
yang dituju, tetapi pelaksanaannya tidak selesai, tidak mencapai hasil, atau
tidak menimbulkan akibat yang dilarang, bukan karena semata-mata atas
kehendaknya sendiri."</b></blockquote><blockquote><b>"(2) Permulaan pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) terjadi apabila: a. perbuatan yang dilakukan itu diniatkan atau
ditujukan untuk terjadinya Tindak Pidana; dan b. perbuatan yang dilakukan
langsung berpotensi menimbulkan Tindak Pidana yang dituju."</b></blockquote><p class="MsoNormal"><b>Uraian Unsur-Unsur Delik Percobaan Pembunuhan Berencana<o:p></o:p></b></p><p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent:-18.0pt;mso-list:l0 level1 lfo4"><!--[if !supportLists]-->1.<span style="font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-weight: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span><!--[endif]-->Setiap Orang:&nbsp;<span style="font-weight: normal;">Subjek hukum RM (21 tahun)
adalah manusia yang sehat secara mental (berdasarkan fakta pengakuan penyesalan
dan perencanaan yang runut) sehingga mampu bertanggung jawab.</span><o:p></o:p></p><p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:-18.0pt;mso-list:l0 level1 lfo4"><!--[if !supportLists]-->2.<span style="font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-weight: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span><!--[endif]-->Niat (<i>Mens Rea</i>):&nbsp;<span style="font-weight: normal;">Niat RM bukan
sekadar memberikan "pelajaran" atau melukai, melainkan merampas nyawa
(<i>animus necandi</i>). Indikasinya adalah dendam yang dipupuk selama 4 bulan
(sejak Nov 2025) dan tindakan mempersiapkan senjata yang mematikan.</span><o:p></o:p></p><p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:-18.0pt;mso-list:l0 level1 lfo4"><!--[if !supportLists]-->3.<span style="font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-weight: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span><!--[endif]-->Rencana Terlebih Dahulu:&nbsp;<span style="font-weight: normal;">Terpenuhinya
syarat waktu (4 bulan) dan persiapan teknis (mengambil kapak milik orang tua
dan&nbsp;mengasahnya hingga tajam&nbsp;sehari sebelum eksekusi). Ini
menunjukkan suasana batin yang tenang saat merencanakan.</span><o:p></o:p></p><p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:-18.0pt;mso-list:l0 level1 lfo4"><!--[if !supportLists]-->4.<span style="font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-weight: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span><!--[endif]-->Permulaan Pelaksanaan:&nbsp;<span style="font-weight: normal;">RM telah melakukan
perbuatan fisik yang langsung ditujukan pada delik pokok, yaitu mendatangi
korban dengan membawa dua senjata tajam dan melakukan serangan membabi buta.</span><o:p></o:p></p><p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-indent:-18.0pt;mso-list:l0 level1 lfo4"><!--[if !supportLists]-->5.<span style="font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; font-variant-alternates: normal; font-size-adjust: none; font-language-override: normal; font-kerning: auto; font-optical-sizing: auto; font-feature-settings: normal; font-variation-settings: normal; font-variant-position: normal; font-variant-emoji: normal; font-weight: normal; font-stretch: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;
</span><!--[endif]-->Pelaksanaan Tidak Selesai Bukan Kehendak
Sendiri:&nbsp;<span style="font-weight: normal;">Kematian korban tidak terjadi (<i>akibat tidak timbul</i>) karena
adanya&nbsp;perlawanan/tangkisan bela diri&nbsp;dari korban serta adanya
intervensi bantuan medis darurat di RSUD Arifin Achmad. RM tidak berhenti
karena keinginan sendiri, melainkan karena diringkus massa.</span><br>
<!--[endif]--><o:p></o:p></p><h2><b>V. Perspektif Psikologi Forensik: Fenomena Erotomania</b></h2><p class="MsoNormal"><span style="font-weight: normal;">Direktur Pelayanan Kesehatan Kemenkes, Imran Pambudi,
memberikan catatan krusial mengenai kemungkinan RM mengidap&nbsp;</span>Erotomania<span style="font-weight: normal;">.
Ini adalah bentuk gangguan delusi di mana pelaku merasa memiliki hubungan
asmara yang sah dengan seseorang, padahal kenyataannya tidak ada hubungan
tersebut. Sifat RM yang introvert membuat ledakan emosinya tidak terdeteksi
oleh sistem peringatan dini di kampus. Pasca kejadian, RM menunjukkan dinamika
psikis dari keinginan bunuh diri hingga keinginan melaksanakan shalat taubat,
yang harus didalami melalui&nbsp;<i>Visum et Repertum Psychiatricum</i>&nbsp;untuk
menentukan derajat kemampuan bertanggung jawab pidananya (Pasal 38-39 KUHP
Baru).</span><o:p></o:p></p><h2><b>VI. Respon Institusi dan Keselamatan Kampus</b></h2><p class="MsoNormal"><span style="font-weight: normal;">Pihak rektorat UIN Suska Riau bertindak tegas dengan
mengeluarkan </span>keputusan&nbsp;Pemecatan (Drop Out)&nbsp;terhadap RM karena
tindakan tersebut dianggap melanggar etika berat dan mencoreng marwah institusi
pendidikan hukum<span style="font-weight: normal;">. Di sisi lain, publik mendesak adanya evaluasi total terhadap
sistem keamanan kampus, mengingat senjata tajam yang telah diasah dapat lolos
hingga ke lantai dua gedung fakultas tanpa deteksi.</span><o:p></o:p></p><div class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"><b>

<hr size="2" width="100%" align="center">

</b></div><h3><b>Referensi dan Sumber Informasi Utama:</b></h3><ol style="margin-top:0cm" start="1" type="1">
 <li class="MsoNormal">Undang-Undang
     Nomor 1 Tahun 2023&nbsp;tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP
     Nasional). Pasal 155, 459, 466, 469.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">DetikNews.&nbsp;(2026,
     2 Maret).&nbsp;<i>Polisi Ungkap Penyesalan Mahasiswa Pembacok Mahasiswi di
     Riau</i>. news.detik.com.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Kompas.com.&nbsp;(2026,
     28 Februari).&nbsp;<i>Kronologi Mahasiswi UIN Suska Riau Dibacok Teman
     Sendiri, Pelaku Sudah Rencanakan Sejak November 2025</i>.
     regional.kompas.com.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">TribunNews
     Bogor.&nbsp;(2026, 1 Maret).&nbsp;<i>Isi Chat Mahasiswi UIN Suska ke Ayah
     Sebelum Dibacok Raihan</i>. bogor.tribunnews.com.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">DetikHealth.&nbsp;(2026,
     28 Februari).&nbsp;<i>Kemenkes Soroti Masalah Kejiwaan di Balik Pembacokan
     Mahasiswa UIN</i>. https://www.google.com/search?q=health.detik.com.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">I.S.
     Susanto.&nbsp;(2011).&nbsp;<i>Kriminologi</i>. Yogyakarta: Genta
     Publishing. (Analisis mengenai kejahatan konvensional vs putih).<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">SIPP
     Pengadilan Negeri.&nbsp;Analisis Perbandingan Unsur Perencanaan (Pasal 340
     KUHP Lama vs Pasal 469 KUHP Baru).<o:p></o:p></li>
</ol><p>

































































































</p><p class="MsoNormal"><o:p>&nbsp;</o:p></p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Dede Indraswara</dc:creator>
            <category>News</category>
            <pubDate>Tue, 03 Mar 2026 19:54:35 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/03/pekanbaru-riau-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Mengetuk Pintu Perang Dunia III: Mengapa Eskalasi AS-Israel vs Iran Bukan Sekadar &#039;Gertak Sambal&#039; Geopolitik]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/mengetuk-pintu-perang-dunia-iii-mengapa-eskalasi-as-israel-vs-iran-bukan-sekadar-gertak-sambal-geopolitik-69a7269aee944</link>
            <guid isPermaLink="false">92</guid>
            <description><![CDATA[Eskalasi langsung antara AS-Israel dan Iran menandai berakhirnya “Perang Bayangan” di Timur Tengah. Dengan keterlibatan kekuatan besar seperti Rusia dan Tiongkok serta ancaman penutupan Selat Hormuz, konflik ini berpotensi memicu krisis ekonomi global dan menyeret dunia menuju Perang Dunia III. Indo]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p data-start="125" data-end="152" style="text-align: justify;"><strong data-start="125" data-end="152">Penulis: Dheni Anugerah</strong></p>
<p data-start="154" data-end="578" style="text-align: justify;">Mari kita berhenti sejenak berpura-pura bahwa apa yang terjadi di Timur Tengah hari ini hanyalah "konflik regional biasa" yang akan mereda dengan sendirinya. Ketika kita melihat berita tentang jet tempur yang melintasi langit malam atau misil balistik yang menerangi cakrawala, kita tidak sedang menonton babak baru perang lokal. Kita sedang menyaksikan gladi resik dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan: Perang Dunia III.</p>
<p data-start="580" data-end="1021" style="text-align: justify;">Selama puluhan tahun, perang antara Israel dan Iran adalah "Perang Bayangan" (Shadow War). Mereka bertarung lewat proksi, serangan siber, atau pembunuhan rahasia. Tapi hari ini, tabir itu telah robek. Garis merah telah dilanggar berulang kali. Jika Anda merasa narasi Perang Dunia III (WW3) hanyalah clickbait atau teori konspirasi, mari kita bedah fakta-fakta lapangan yang riil, lengkap dengan peringatan langsung dari para pemimpin dunia.</p>
<p data-start="1023" data-end="1185" style="text-align: justify;">Faktanya, panggung untuk konflik global sedang dibangun batu demi batu oleh poros AS-Israel di satu sisi, dan Iran dengan jejaring aliansi globalnya di sisi lain.</p><h3 data-start="1192" data-end="1254"><div style="text-align: left;"><span style="font-size: 1.4em;">Berakhirnya "Perang Bayangan": Timur Tengah di Tepi Jurang</span></div></h3>
<p data-start="1256" data-end="1590" style="text-align: justify;">Banyak analis setuju bahwa titik tidak bisa kembali (point of no return) sudah dilewati sejak rentetan eskalasi gila-gilaan di tahun 2024 dan 2025. Tabu sejarah telah didobrak: Iran menyerang Israel secara langsung dari tanahnya sendiri dengan ratusan rudal balistik, dan Israel membalas dengan membombardir fasilitas pertahanan Iran.</p>
<p data-start="1592" data-end="1856" style="text-align: justify;">Kengerian ini tidak hanya dirasakan oleh pengamat, tetapi disuarakan langsung oleh tokoh tertinggi diplomasi global. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB (April 2024), telah memberikan peringatan yang sangat eksplisit:</p>
<blockquote data-start="1858" data-end="2494">
<p data-start="1860" data-end="2494"></p><div style="text-align: justify;">"The Middle East is on the brink. The people of the region are confronting a real danger of a devastating full-scale conflict. Now is the time to defuse and de-escalate. It is vital to avoid any action that could lead to major military confrontations on multiple fronts."</div><div style="text-align: justify;">(Timur Tengah berada di tepi jurang. Orang-orang di kawasan ini menghadapi bahaya nyata dari konflik skala penuh yang menghancurkan. Sekaranglah waktunya untuk meredakan ketegangan. Sangat penting untuk menghindari tindakan apa pun yang dapat mengarah pada konfrontasi militer besar di berbagai garis depan.)</div><div style="text-align: justify;">— Sekjen PBB António Guterres, PBB, New York.</div><p></p>
</blockquote>
<p data-start="2496" data-end="2816"></p><div style="text-align: justify;">Dan krisis ini semakin parah karena AS tidak lagi sekadar mengirim amunisi. Pentagon telah mengerahkan sistem pertahanan rudal THAAD langsung ke Israel beserta tentara Amerika. Jika rudal Iran membunuh tentara AS di sana, Washington memiliki <em data-start="2738" data-end="2751">casus belli</em> (alasan perang) untuk terseret langsung ke dalam perang terbuka.</div><p></p>
<h3 data-start="2823" data-end="2880" style="text-align: left;">Mengapa Ini Skenario Sempurna untuk Perang Dunia III?</h3>
<p data-start="2882" data-end="3021" style="text-align: justify;">Konflik ini tidak akan berhenti hanya di perbatasan Israel dan Iran. Berikut adalah fakta yang membuat konflik ini bernilai "Perang Dunia":</p>
<p data-start="3023" data-end="3444" style="text-align: justify;"><strong data-start="3023" data-end="3058">Kiamat Ekonomi di Selat Hormuz:</strong> Jika perang terbuka meletus, langkah pertama Iran dipastikan adalah menutup Selat Hormuz. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati selat sempit ini setiap harinya. Memblokirnya akan melontarkan harga minyak di atas $150-$200 per barel. Inflasi global akan lepas kendali, rantai pasok hancur, dan ekonomi dunia termasuk negara berkembang seperti kita akan runtuh dalam hitungan minggu.</p>
<p data-start="3446" data-end="4040" style="text-align: justify;"><strong data-start="3446" data-end="3508">Jaring Aliansi Global: Rusia dan Tiongkok Tidak Akan Diam:</strong> Iran saat ini bukan lagi negara yang terisolasi. Teheran telah mengikat aliansi strategis yang kuat dengan dua musuh utama hegemoni AS: Rusia dan Tiongkok. Iran adalah pemasok drone bagi Rusia, dan sebagai imbalannya, Moskow memberikan dukungan teknologi militer tingkat tinggi. Tiongkok adalah pembeli utama minyak Iran. Jika AS membombardir Iran, Rusia dan Tiongkok tidak akan membiarkan sekutu mereka runtuh. Tatanan aliansi ala Perang Dunia sudah terbentuk: Blok Barat (AS/NATO/Israel) vs Blok Multipolar (Rusia/Tiongkok/Iran).</p>
<p data-start="4042" data-end="4250" style="text-align: justify;">Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri dalam berbagai kesempatan telah memperingatkan bahwa campur tangan asing dan eskalasi langsung yang tak terkendali di kawasan bisa membawa dunia pada "malapetaka global".</p>
<p data-start="4252" data-end="4493" style="text-align: justify;">Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menyampaikan sikap serupa saat berbicara dengan Sergei Lavrov. Ia menegaskan bahwa serangan AS dan Israel terhadap Iran, terutama di tengah proses negosiasi, merupakan tindakan yang “tidak dapat diterima”.</p>
<p data-start="4495" data-end="4789" style="text-align: justify;">China juga mendesak penghentian segera aksi militer dan mendorong semua pihak kembali ke jalur dialog. “China menyerukan penghentian segera tindakan militer, kembali ke dialog dan negosiasi secepat mungkin, serta menolak tindakan sepihak,” ujar Wang, dikutip dari media Pemerintah China Xinhua.</p><h3 data-start="4796" data-end="4876"><div style="text-align: left;"><span style="font-size: 1.4em;">Di Mana Posisi Indonesia? "Bebas Aktif" yang Makin Muak pada Hipokrisi Barat</span></div></h3>
<p data-start="4878" data-end="5129" style="text-align: justify;">Di tengah gemuruh mesin perang ini, di mana posisi Indonesia? Di atas kertas, konstitusi kita mengamanatkan politik luar negeri "Bebas Aktif", dan secara historis, Indonesia adalah motor utama Gerakan Non-Blok (GNB). Kita seharusnya berdiri di tengah.</p>
<p data-start="5131" data-end="5596" style="text-align: justify;">Namun mari kita jujur. Semakin ke sini, posisi Indonesia perlahan condong menjauhi poros Barat. Alasannya bukan karena kita ingin ikut campur urusan militer Iran, melainkan karena hipokrisi fatal Barat terkait Palestina. Bagi diplomasi Indonesia, dukungan membabi buta AS terhadap agresi Israel di Gaza dan Lebanon telah menghancurkan otoritas moral Barat. Pidato-pidato tentang HAM dan demokrasi dari Washington kini terdengar seperti lelucon memuakkan di Jakarta.</p>
<p data-start="5598" data-end="5881" style="text-align: justify;">Sikap muak ini disuarakan dengan sangat tajam dan kontroversial oleh Menteri Luar Negeri RI periode sebelumnya, Retno Marsudi, saat ia melakukan <em data-start="5743" data-end="5753">walk out</em> dan memberikan pidato menohok di Sidang Majelis Umum PBB (September 2024) untuk membalas retorika PM Israel Benjamin Netanyahu:</p>
<blockquote data-start="5883" data-end="6647">
<p data-start="5885" data-end="6647"></p><div style="text-align: justify;">"PM Netanyahu yesterday mentioned and I quote: that 'Israel seeks peace', that 'Israel yearns for peace'. Really? How are we supposed to believe that statement? Yesterday, while he was here, Israel conducted unprecedented massive air attacks on Beirut... Prime Minister Netanyahu wants the war to continue. We must stop that."</div><div style="text-align: justify;">(PM Netanyahu kemarin menyebutkan dan saya kutip: bahwa 'Israel mencari perdamaian', bahwa 'Israel mendambakan perdamaian'. Benarkah? Bagaimana kita bisa mempercayai pernyataan itu? Kemarin, saat dia berada di sini, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya di Beirut... PM Netanyahu ingin perang terus berlanjut. Kita harus menghentikannya.)</div><div style="text-align: justify;">— Retno Marsudi, Sidang Majelis Umum PBB.</div><p></p>
</blockquote>
<p data-start="6649" data-end="7008" style="text-align: justify;">Secara geopolitik dan moral, Indonesia sudah kehilangan selera pada "Tata Dunia Berbasis Aturan" (<em data-start="6747" data-end="6766">Rules-Based Order</em>) yang didiktekan oleh Barat. Jika Perang Dunia III benar-benar pecah, Indonesia mungkin tidak akan mengirim pasukan, tetapi simpati diplomasi dan orientasi ekonomi kita sudah jelas bergeser merapat ke poros "Selatan Global" (<em data-start="6992" data-end="7006">Global South</em>).</p><h3 data-start="7015" data-end="7069"><div style="text-align: left;"><span style="font-size: 1.4em;">Kesimpulan: Menghentikan Ilusi "Perang Terkendali"</span></div></h3>
<p data-start="7071" data-end="7279" style="text-align: justify;">Para politisi di Washington dan Tel Aviv sering kali menjual ilusi kepada publiknya bahwa mereka bisa melakukan "serangan presisi terbatas" ke Iran tanpa memicu perang besar. Ini adalah kesombongan mematikan.</p>
<p data-start="7281" data-end="7725" style="text-align: justify;">Perang Dunia III tidak harus selalu dimulai dengan peluncuran bom nuklir secara tiba-tiba. Ia dimulai dari kecongkakan para pemimpin adidaya yang merasa bisa mengendalikan kekacauan yang mereka ciptakan sendiri. Jika perang terbuka benar-benar diletuskan, dampaknya tidak hanya akan membakar Tel Aviv atau Teheran, tapi juga menghancurkan ekonomi di meja makan Anda, di pasar tradisional kita, dan meluluhlantakkan masa depan perdamaian global.</p>
<p data-start="7727" data-end="7887" data-is-last-node="" data-is-only-node="" style="text-align: justify;">Kiamat regional ini sudah mengetuk pintu. Pertanyaannya, siapkah kita menghadapi dunia yang terbakar ketika para pemimpin dunia menolak untuk memadamkan apinya?</p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Josua Sondakh</dc:creator>
            <category>Internasional</category>
            <pubDate>Tue, 03 Mar 2026 18:21:14 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/03/dreamina-2026-03-04-9428-ilustrasi-editorial-sinematik-konflik-ti-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[KASUS POSISI HOGI MINAYA: INSIDEN PENGHENTIAN TINDAK PIDANA PENJAMBRETAN YANG BERAKIBAT FATAL DI WILAYAH HUKUM POLRESTA SLEMAN]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/kasus-posisi-hogi-minaya-insiden-penghentian-tindak-pidana-penjambretan-yang-berakibat-fatal-di-wilayah-hukum-polresta-sleman-69a719c0ab68d</link>
            <guid isPermaLink="false">91</guid>
            <description><![CDATA[Hogi Minaya (43), warga Sleman, Yogyakarta, sempat ditetapkan sebagai tersangka oleh Polresta Sleman setelah mengejar dan menabrak dua penjambret tas istrinya menggunakan mobil hingga tewas pada April 2025.]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><b>I. IDENTITAS PIHAK-PIHAK TERKAIT<o:p></o:p></b></p><ol style="margin-top:0cm" start="1" type="1">
 <li class="MsoNormal">Pelaku
     Penabrak (Tersangka): Hogi Minaya alias APH (43 tahun), suami dari korban
     penjambretan.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Korban
     Penjambretan: Arsita Minaya alias A (39 tahun), warga Kalasan, Sleman.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Terduga
     Pelaku Penjambretan (Korban Kecelakaan Lantas):<o:p></o:p></li>
</ol><ul style="margin-top:0cm" type="disc">
 <li class="MsoNormal">Sdr.
     RDA (Laki-laki, Warga Pagar Alam, Sumatera Selatan) – Meninggal Dunia.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Sdr.
     RS (Laki-laki, Warga Pagar Alam, Sumatera Selatan) – Meninggal Dunia.</li></ul><p class="MsoNormal"><b>
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br>
<!--[endif]--><o:p></o:p></b></p><p class="MsoNormal"><b>II. KRONOLOGI FAKTA (BERDASARKAN REKONSTRUKSI LAPANGAN
DAN KETERANGAN)<o:p></o:p></b></p><ol style="margin-top:0cm" start="1" type="1">
 <li class="MsoNormal">Waktu
     dan Lokasi: Sabtu, 26 April 2025. Terjadi mulai dari simpang Flyover
     Janti, melintasi Jalan Solo, hingga berakhir di depan Transmart
     Maguwoharjo, Sleman.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Titik
     Awal: Pukul 06.27 WIB, Sdri. Arsita mengendarai sepeda motor membawa
     jajanan pasar. Di sekitar Flyover Janti, ia bertemu dengan suaminya, Sdr.
     Hogi, yang mengendarai mobil Mitsubishi Xpander. Keduanya berkendara
     beriringan menuju hotel di daerah Maguwoharjo.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Aksi
     Penjambretan: Sebelum sampai di area Transmart, motor Arsita dipepet oleh
     dua pria berboncengan motor (RDA dan RS). Pelaku memotong tali tas Arsita
     menggunakan senjata tajam (cutter) dan merampas tas tersebut. Modus dan
     identitas pelaku mengindikasikan mereka merupakan bagian dari sindikat
     lintas provinsi.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Aksi
     Reaktif (Hot Pursuit): Sdr. Hogi yang menyaksikan secara langsung
     perampasan tersebut dari dalam mobilnya, secara refleks mengejar pelaku.
     Tujuan pengejaran adalah untuk menghentikan laju pelaku dan menyelamatkan
     harta benda milik istrinya.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Dinamika
     Kecelakaan:<o:p></o:p></li>
</ol><ul style="margin-top:0cm" type="disc">
 <li class="MsoNormal">Sdr.
     Hogi bermaksud menghentikan laju motor penjambret dengan memepet mereka ke
     arah trotoar.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Upaya
     pemepetan dilakukan hingga tiga kali karena pelaku sempat mencoba kembali
     ke badan jalan.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Pada
     pepetan ketiga, sepeda motor pelaku yang sedang dipacu dalam kecepatan
     tinggi kehilangan kendali. Motor naik ke atas trotoar dan menabrak tembok
     dengan sangat keras di Jalan Solo.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal">Kedua
     pelaku terpental. RDA dan RS sempat dibawa ke rumah sakit sebelum akhirnya
     dinyatakan meninggal dunia.<o:p></o:p></li>
</ul><p class="MsoNormal"><b>&nbsp;</b></p><p class="MsoNormal"><b>III. ANALISIS FORENSIK DAN FISIKA MEKANIKA (Tingkat
Fatalitas)<o:p></o:p></b></p><p class="MsoNormal">Berdasarkan pendekatan fisika dasar terhadap penyidikan laka
lantas, kematian kedua pelaku dapat dijelaskan melalui rumus<b>&nbsp;Energi
Kinetik (Ek = 1/2mv<sup>2</sup>):<o:p></o:p></b></p><ul style="margin-top:0cm" type="disc">
 <li class="MsoNormal">Tindakan
     memepet (<i>desakan samping</i>) terhadap kendaraan roda dua yang melaju
     kencang (misal,&nbsp;v&nbsp;mobil Hogi&nbsp;60 km/jam ditambah kecepatan
     motor pelaku) akan menghasilkan gaya tolak yang ekstrem.<b><o:p></o:p></b></li>
 <li class="MsoNormal">Estimasi
     energi benturan (Ek) mencapai<b>&nbsp;208.333 Joule&nbsp;</b>atau
     berstatus&nbsp;<i>Cedera Berat/Kritis</i>.<b><o:p></o:p></b></li>
 <li class="MsoNormal">Sifat
     kuadratik dari variabel kecepatan (v<sup>2</sup>) berarti sedikit saja
     penambahan kecepatan oleh pelaku maupun pengejar akan melipatgandakan daya
     hancur secara drastis saat benturan dengan objek tak bergerak (tembok).
     Tingkat fatalitas ini bukan semata-mata niat membunuh, melainkan
     konsekuensi logis dari dinamika massa dan kecepatan.<b><o:p></o:p></b></li>
</ul><p class="MsoNormal"><b><br>
<!--[endif]--><o:p></o:p></b></p><p class="MsoNormal"><b>IV. RESPON APARAT PENEGAK HUKUM DAN PENEGAKAN POSITIVISME
KAKU<o:p></o:p></b></p><ol style="margin-top:0cm" start="1" type="1">
 <li class="MsoNormal"><b>Penanganan
     Terpisah:</b>&nbsp;Satreskrim Polresta Sleman menangani kasus penjambretan
     (lalu dihentikan karena terduga tewas). Sementara itu, Satlantas fokus
     pada kecelakaan lalu lintas.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal"><b>Penetapan
     Tersangka:</b>&nbsp;Satlantas Polresta Sleman menerbitkan Laporan Model A.
     Melalui gelar perkara dan keterangan ahli, Sdr. Hogi ditetapkan sebagai
     Tersangka Laka Lantas.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal"><b>Penerapan
     Pasal:</b>&nbsp;Polisi menggunakan logika silogisme positivisme yang kaku
     (Premis 1: Sebab kematian dipidana; Premis 2: Hogi menyebabkan kematian;
     Kesimpulan: Hogi Dipidana), dengan pasal:<o:p></o:p></li>
 <ul style="margin-top:0cm" type="circle">
  <li class="MsoNormal"><b>Pasal
      310 ayat (4) UU No. 22 Tahun 2009 (UU LLAJ):</b>&nbsp;Kelalaian
      berkendara yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia (ancaman penjara
      6 tahun).<o:p></o:p></li>
  <li class="MsoNormal"><b>Pasal
      311 ayat (5) UU LLAJ:</b>&nbsp;Mengemudikan kendaraan bermotor dengan
      sengaja membahayakan nyawa orang dan mengakibatkan kematian.<o:p></o:p></li>
 </ul>
 <li class="MsoNormal"><b>Pemasangan
     Gelang GPS:</b>&nbsp;Berkas dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari)
     Sleman. Atas permohonan istri, Hogi berstatus Tahanan Kota. Namun,
     pemasangan perangkat GPS (<i>detection kit</i>) di kakinya memicu sentimen
     publik karena dianggap merendahkan martabat (tidak manusiawi).<o:p></o:p></li>
</ol><p class="MsoNormal"><b>V. DINAMIKA PUBLIK DAN INTERVENSI LEMBAGA NEGARA<o:p></o:p></b></p><ol style="margin-top:0cm" start="1" type="1">
 <li class="MsoNormal"><b>Gejolak
     Publik (<i>No Viral No Justice</i>):</b>&nbsp;Kasus ini memicu kemarahan
     masyarakat. Jogja Police Watch (JPW) menilai polisi lamban merespons
     keganjilan ini hingga viral, serta mengkritik penggunaan gelang GPS yang
     "seperti mengawasi binatang." Publik menganggap polisi abai
     terhadap asas kausalitas bahwa kecelakaan berawal dari tindak pidana murni
     (penjambretan).<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal"><b>Tinjauan
     Akademisi &amp; Praktisi:</b><o:p></o:p></li>
 <ul style="margin-top:0cm" type="circle">
  <li class="MsoNormal"><b>Pakar
      Hukum UMY (King Faisal Sulaiman):</b>&nbsp;Menyatakan penetapan tersangka
      sejak awal sudah bermasalah dan tidak kuat secara hukum pidana akibat
      penerapan SOP yang lemah.<o:p></o:p></li>
  <li class="MsoNormal"><b>Wakil
      Menteri Hukum/Pakar Pidana (Prof. Edward O.S. Hiariej):</b>&nbsp;Menegaskan
      bahwa tindakan Hogi merupakan bentuk&nbsp;<b>Pembelaan Terpaksa (<i>Noodweer</i>)</b>.
      Beliau menggarisbawahi bahwa perlindungan tidak hanya berlaku untuk
      nyawa/badan, tetapi juga pada "harta benda" yang sedang
      dikuasai oleh pelaku kejahatan.<o:p></o:p></li>
 </ul>
 <li class="MsoNormal"><b>Intervensi
     Komisi III DPR RI:</b>&nbsp;Pada Rabu, 28 Januari 2026, Komisi III
     menggelar RDP memanggil Kajari dan Kapolresta Sleman. Wakil Ketua Komisi
     III, Habiburokhman, menyatakan "publik marah, kami juga marah."
     DPR mengeluarkan tiga kesimpulan rekomendasi:<o:p></o:p></li>
 <ul style="margin-top:0cm" type="circle">
  <li class="MsoNormal">Meminta
      kasus dihentikan berdasarkan&nbsp;<b>Pasal 65 huruf m UU No. 20 Tahun
      2025 (tentang KUHAP/KUHP baru)</b>&nbsp;dan/atau alasan pembenar
      dalam&nbsp;<b>Pasal 34 UU No. 1 Tahun 2023 (KUHP Nasional)</b>&nbsp;terkait&nbsp;<i>Noodweer</i>.<o:p></o:p></li>
  <li class="MsoNormal">Meminta
      aparat memedomani&nbsp;<b>Pasal 53 ayat (2) UU No. 1 Tahun 2023</b>, yang
      mengamanatkan aparat untuk mengedepankan&nbsp;<b>"Keadilan di atas
      Kepastian Hukum."</b><o:p></o:p></li>
  <li class="MsoNormal">Meminta
      jajaran Polri berhati-hati dalam memberikan pernyataan di media.<o:p></o:p></li>
 </ul>
 <li class="MsoNormal"><b>Penonaktifan
     Pejabat Polri:</b>&nbsp;Berdasarkan Audit Dengan Tujuan Tertentu (ADTT)
     oleh Itwasda Polda DIY, ditemukan "lemahnya pengawasan pimpinan yang
     memicu kegaduhan publik". Atas temuan tersebut, Kapolda DIY Irjen
     Pol. Anggoro Sukartono pada Jumat, 30 Januari 2026, resmi&nbsp;<b>menonaktifkan
     sementara Kombes Pol Edy Setyanto Erning Wibowo (Kapolresta Sleman)</b>&nbsp;dan&nbsp;<b>AKP
     Mulyanto (Kasat Lantas)</b>&nbsp;guna pemeriksaan kode etik dan disiplin
     oleh Propam.<o:p></o:p></li>
</ol><p class="MsoNormal"><b>VI. PENYELESAIAN AKHIR BERDASARKAN RESTORATIVE JUSTICE<o:p></o:p></b></p><ol style="margin-top:0cm" start="1" type="1">
 <li class="MsoNormal"><b>Mediasi
     Lintas Provinsi:</b>&nbsp;Pada Senin, 26 Januari 2026, Kajari Sleman
     (Bambang Yunianto) memfasilitasi&nbsp;<i>Restorative Justice</i>&nbsp;(RJ)
     melalui Zoom dengan Kejari Palembang dan Pagar Alam, melibatkan keluarga
     almarhum RDA dan RS, tokoh agama, penyidik, serta Pemkab Sleman.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal"><b>Kesepakatan
     Damai:</b>&nbsp;Kedua belah pihak (Hogi dan keluarga korban laka) saling
     memaafkan dan menyepakati penyelesaian secara kekeluargaan/damai.<o:p></o:p></li>
 <li class="MsoNormal"><b>Penghentian
     Penuntutan:</b>&nbsp;Pada Kamis, 29 Januari 2026, Kejari Sleman
     menerbitkan&nbsp;<b>Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2)</b>&nbsp;demi
     kepentingan hukum, membebaskan Hogi Minaya dari segala tuntutan pidana,
     mencabut status tahanan kota, mengembalikan barang bukti, dan melepaskan
     gelang GPS.<o:p></o:p></li>
</ol><p>



































</p><p class="MsoNormal"><o:p>&nbsp;</o:p></p><p class="MsoNormal"><o:p>Buatlah&nbsp;Analisis Hukum / <i>Legal Analysis</i></o:p></p><p class="MsoNormal"><ol><li><b data-path-to-node="15,0,0" data-index-in-node="0">Rumusan Masalah 1:</b> Apakah penetapan tersangka Sdr. Hogi berdasarkan UU LLAJ sah dan tepat ?</li><li><b data-path-to-node="15,1,0" data-index-in-node="0">Rumusan Masalah 2:</b> Apakah tindakan Sdr. Hogi dapat dikualifikasikan sebagai Pembelaan Terpaksa (<i data-path-to-node="15,1,0" data-index-in-node="96">Noodweer</i>) atau <i data-path-to-node="15,1,0" data-index-in-node="111">Noodweer Exces</i>&nbsp;?</li><li><b data-path-to-node="15,2,0" data-index-in-node="0">Rumusan Masalah 3:</b> Apakah mekanisme <i data-path-to-node="15,2,0" data-index-in-node="36">Restorative Justice</i> dan penerbitan SKP2 merupakan instrumen hukum yang paling tepat untuk menyelesaikan perkara ini?</li></ol></p><p class="MsoNormal"><o:p><br></o:p></p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Dede indraswara</dc:creator>
            <category>Policy</category>
            <pubDate>Tue, 03 Mar 2026 17:26:24 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/03/hogi-minaya-43-warga-sleman-yogyakarta-pelaku-penambrak-dua-penjambret-yang-mengambil-tas-istrinya-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Menempa Arsitek Pergerakan: PMII UNNES Gelar Sekolah Penggerak Organisasi Vol. 2]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/menempa-arsitek-pergerakan-pmii-unnes-gelar-sekolah-penggerak-organisasi-vol-2-69a6f5d2b5ced</link>
            <guid isPermaLink="false">87</guid>
            <description><![CDATA[PMII UNNES gelar SPO Vol. 2 bagi kader 6 Rayon untuk asah bakat akademik &amp; non-akademik. Dibuka dengan materi Logika &amp; Retorika oleh Dede Indraswara, agenda ini fokus pada self-empowerment agar kader tidak sekadar jadi pelaksana, tapi inisiator yang bertanggung jawab atas amanah organisasi.]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="8"><b data-path-to-node="8" data-index-in-node="5">SEMARANG</b> – Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Negeri Semarang (UNNES) resmi meluncurkan kawah candradimuka bagi para aktivis kampus melalui <b data-path-to-node="8" data-index-in-node="177">Sekolah Penggerak Organisasi (SPO) Vol. 2</b>. Dibuka pada Jumat (27/02/2026), agenda strategis ini dirancang sebagai laboratorium untuk mencetak kader yang memiliki kedalaman intelektual sekaligus ketangkasan manajerial di era algoritma sosial.</p><p data-path-to-node="9">Ketua Komisariat PMII UNNES, <b data-path-to-node="9" data-index-in-node="40">Athia Az-zakia Anwar</b>, menegaskan bahwa SPO Vol. 2 merupakan jawaban atas kebutuhan kaderisasi yang lebih spesifik. Diikuti oleh kader dari <b data-path-to-node="9" data-index-in-node="179">6 Rayon se-UNNES</b>, kegiatan ini memfasilitasi pemetaan bakat dan minat, baik secara akademik maupun non-akademik.</p><blockquote>"Output yang kami kejar sangat jelas: setiap kader harus mampu mengimplementasikan ilmu yang didapat di ruang-ruang pengabdian mereka. Kami membentuk kader yang memiliki jiwa kepemimpinan mandiri (<i data-path-to-node="10" data-index-in-node="197">self-empowerment</i>), sehingga mereka hadir sebagai inisiator dan penanggung jawab amanah, bukan sekadar pelaksana teknis kegiatan," tegas Athia.</blockquote><p data-path-to-node="11"><b data-path-to-node="11" data-index-in-node="0">Dede Indraswara: Mendudukkan Logika di Atas Retorika</b>&nbsp;</p><p data-path-to-node="11">Sebagai narasumber perdana, <b data-path-to-node="11" data-index-in-node="81">Dede Indraswara</b> hadir membawakan materi <b data-path-to-node="11" data-index-in-node="121">"Logika dan Retorika"</b> dengan pendekatan yang segar dan provokatif. Dalam sesinya, Dede menekankan bahwa kekuatan seorang penggerak terletak pada kemampuannya membangun narasi yang kokoh secara nalar (logika) dan menyampaikannya secara persuasif (retorika).</p><p data-path-to-node="12">Materi ini diposisikan sebagai "senjata utama" bagi kader sebelum memasuki materi taktis lainnya. Tanpa logika yang jernih, retorika hanya akan menjadi kebisingan tanpa makna. Kehadiran Dede memberikan warna intelektual yang kuat bagi para peserta untuk lebih percaya diri dalam melakukan diskursus di lingkungan kampus.</p><p data-path-to-node="13"><b data-path-to-node="13" data-index-in-node="0">Kurikulum Penggerak: Dari Negosiasi hingga Algoritma Sosial</b>&nbsp;</p><p data-path-to-node="13">Di bawah komando Ketua Pelaksana, <b data-path-to-node="13" data-index-in-node="94">Soimi Zakariya</b>, SPO Vol. 2 menyuguhkan kurikulum yang sangat komprehensif. Selain Logika dan Retorika, para peserta akan digembleng dengan materi:</p><ol start="1" data-path-to-node="14"><li><p data-path-to-node="14,0,0"><b data-path-to-node="14,0,0" data-index-in-node="0">Negosiasi dan Lobbying:</b> Seni memenangkan kesepakatan.</p></li><li><p data-path-to-node="14,1,0"><b data-path-to-node="14,1,0" data-index-in-node="0">Manajemen Sidang:</b> Ketertiban dalam pengambilan keputusan kolektif.</p></li><li><p data-path-to-node="14,2,0"><b data-path-to-node="14,2,0" data-index-in-node="0">Mini Riset dan Pendataan:</b> Pergerakan berbasis data (<i data-path-to-node="14,2,0" data-index-in-node="52">data-driven movement</i>).</p></li><li><p data-path-to-node="14,3,0"><b data-path-to-node="14,3,0" data-index-in-node="0">Proposal dan Anggaran:</b> Profesionalisme tata kelola administratif.</p></li><li><p data-path-to-node="14,4,0"><b data-path-to-node="14,4,0" data-index-in-node="0">Algoritma Sosial:</b> Memahami pola gerakan di era digital.</p></li></ol><p data-path-to-node="15"><br></p><p data-path-to-node="15">Soimi Zakariya menjelaskan bahwa keberhasilan SPO Vol. 2 diukur dari kemampuan kader dalam menilai diri sendiri secara jujur—mengenali kekurangan untuk diperbaiki dan kelebihan untuk dioptimalkan.</p><blockquote>"Kami ingin melihat kader yang percaya diri dengan watak kepemimpinan yang autentik. Mereka harus mampu membuktikan tanggung jawabnya, baik dalam prestasi perkuliahan maupun dalam memikul amanah program organisasi yang mereka ikuti," pungkas Soimi.</blockquote>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Josua Sondakh</dc:creator>
            <category>News</category>
            <pubDate>Tue, 03 Mar 2026 14:53:06 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/03/spo-2-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Mengapa Pria Memburu Seks, Wanita Mencari Validasi, dan Cinta Menjadi Terasa Murah]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/mengapa-pria-memburu-seks-wanita-mencari-validasi-dan-cinta-menjadi-terasa-murah-69a35d086fa13</link>
            <guid isPermaLink="false">81</guid>
            <description><![CDATA[Review buku ini membedah krisis cinta modern lewat lensa psikologi evolusioner. Di tengah ledakan cerai gugat dan fenomena judi online, terungkap benturan insting purba dengan era digital. Penulis mengajak kita melampaui dikte biologi demi membangun kesetiaan yang radikal dan bermakna.]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="4">Sebagai bagian dari masyarakat yang sehari-hari menelaah irisan antara kebijakan hukum, dinamika sosial, dan psikologi evolusioner, kita sering kali dihadapkan pada sebuah paradoks yang menyayat hati. Namun hari ini, kita tidak akan bicara teori hukum yang kaku. Kita hendak mendiskusikan sembari duduk sejenak dan ngobrolin tentang kegelisahan yang mungkin diam-diam sedang kita perdebatkan dalam pikiran ataupun batin kita: <i data-path-to-node="4" data-index-in-node="424" style="">Ada apa dengan cinta di zaman ini?</i></p><p data-path-to-node="5">Coba deh kita mikir, sejak kapan ganti pasangan rasanya udah kayak ganti <i data-path-to-node="4" data-index-in-node="73">casing</i> HP? Di era serba aplikasi ini, memulai sebuah hubungan rasanya semudah menggeser ibu jari ke kanan (<i data-path-to-node="4" data-index-in-node="180">swipe right</i>). Kita menyeleksi manusia layaknya milih barang diskonan di katalog <i data-path-to-node="4" data-index-in-node="260">online</i>.&nbsp;Namun, anehnya, kemampuan kita untuk merawat dan mempertahankan hubungan itu justru berada di titik paling rapuh dan ga bagus-bagus amat.&nbsp;</p><blockquote>Cinta, komitmen, dan tubuh manusia seolah telah berubah menjadi barang sekali pakai (<i data-path-to-node="5" data-index-in-node="400">disposable</i>).&nbsp;<br>Begitu bosan, begitu fungsi kepuasannya habis, kita buang dan cari yang baru.</blockquote><p data-path-to-node="6">Di tengah rasa lelah itu semua, ternyata tumpukan data perpisahan dan banyak keluh kesah yang kita dengar tentang "pasangan" yang tidak serius, rasanya kita perlu membuka pikiran lewat buku <i data-path-to-node="6" data-index-in-node="181">"Why Men Want Sex and Women Need Love"</i> karya Allan dan Barbara Pease. Awalnya, mungkin judulnya terasa terlalu vulgar dan materialistis.</p><p data-path-to-node="7">Namun, ketika membalik halaman demi halamannya, kita akan terhenyak. Buku itu menampar kita dengan sebuah realitas brutal yang selama ini kita tutupi dengan puisi dan lagu romantis: bahwa asmara, gairah, bahkan air mata perpisahan, pada esensinya sangat disetir oleh reaksi kimia dan "insting bertahan hidup" warisan manusia purba Zaman Batu.</p><p data-path-to-node="8">Dan tahukah di mana letak kengeriannya? Ketika insting hewani ini diberi panggung oleh kemudahan era digital, tabrakannya langsung membunuh rasa saling menghargai, meremukkan kesetiaan, dan menghancurkan komitmen jangka panjang kita hingga jadi sampah. Mari kita bedah isi kepala kita pelan-pelan.</p><hr data-path-to-node="9"><h3 data-path-to-node="10">Bayang-Bayang Manusia Purba di Balik Layar Handphone</h3><p data-path-to-node="11">Mari kita akui satu fakta yang sering kita sangkal. Raga kita saat ini mungkin berada di tahun 2026 dimana serba berkemajuan, tapi otak kita ini masih dengan model otak manusia Pemburu dan Pengumpul dari ribuan tahun lalu.</p><p data-path-to-node="12">Buku ini sangat menekankan bahwa otak pria dan wanita memiliki "pengkabelan" (<i data-path-to-node="12" data-index-in-node="78">wiring</i>) yang sangat berbeda akibat peran masa lalu:</p><ul data-path-to-node="13"><li><p data-path-to-node="13,0,0"><b data-path-to-node="13,0,0" data-index-in-node="0">Pria sebagai Pemburu:</b> Otak pria berevolusi untuk fokus pada satu target (spasial), tidak banyak bicara saat berburu agar mangsa tak lari, dan sangat visual. Ini membuat pria modern tumbuh menjadi sosok yang lebih logis, berorientasi pada pemecahan masalah (solutif), namun sering kali gagap dan membisu saat dituntut menyelami kedalaman emosi, serta amat kesulitan melakukan <i data-path-to-node="13,0,0" data-index-in-node="375">multitasking</i>.</p></li><li><p data-path-to-node="13,1,0"><b data-path-to-node="13,1,0" data-index-in-node="0">Wanita sebagai Pengumpul dan Perawat:</b> Otak wanita berevolusi untuk menjaga anak, bersosialisasi dengan wanita lain di sekitar goa, dan peka terhadap perubahan lingkungan sekitarnya. Ini membuat wanita sangat mahir membaca bahasa tubuh, jago <i data-path-to-node="13,1,0" data-index-in-node="241">multi-tugas</i>, dan cara utama mereka memproses emosi serta stres adalah melalui komunikasi (berbicara).</p></li></ul><p data-path-to-node="14"><span data-path-to-node="10,0">Perbedaan "cetakan pabrik" inilah awal dari banyaknya perpisahan dalam hubungan. Data dari BPS awal tahun 2025 menyodorkan realitas bahwa sepanjang 2024, terdapat sekitar 394.000 hingga 399.000 kasus perceraian di Indonesia.</span><span data-path-to-node="10,1"><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><source-footnote _nghost-ng-c3260313426="" class="ng-star-inserted"><sup _ngcontent-ng-c3260313426="" class="superscript" data-turn-source-index="2"><!----></sup></source-footnote><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----></span><span data-path-to-node="10,2"> Dan apa penyebab utamanya? Lebih dari 64 persen&nbsp; dikarenakan perselisihan terus-menerus dan buruknya komunikasi.</span><span data-path-to-node="10,3"><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><source-footnote _nghost-ng-c3260313426="" class="ng-star-inserted"><sup _ngcontent-ng-c3260313426="" class="superscript" data-turn-source-index="3"><!----></sup></source-footnote><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----></span><span data-path-to-node="10,4"> Saat beban hidup menghimpit, pria masuk ke "Goa" kesunyian, sementara perempuan merasa diabaikan. Kedua pasang itu saling melukai karena menuntut untuk menjadi cerminan diri, padahal mereka didesain berbeda.</span></p><hr data-path-to-node="15"><h3 data-path-to-node="16"><b data-path-to-node="16" data-index-in-node="0">Daya Tarik: Mata Pria dan Dahaga Wanita</b></h3><p data-path-to-node="17">Kita sering bersikap munafik. Kita mengutuk laki-laki yang hanya memuja fisik, dan mencela perempuan yang dituduh "matre". Padahal, jika kita berani jujur, alam bawah sadar kita hanya sedang menjalankan perintah evolusi.</p><p data-path-to-node="18"><b data-path-to-node="18" data-index-in-node="0">Pria Adalah Makhluk Visual</b>
<br>Pria didorong oleh biologi untuk mencari tanda-tanda kesuburan. Pria tidak sekadar mencari "kecantikan", melainkan indikator bahwa seorang wanita sehat dan mampu melahirkan keturunan. Indikator ini meliputi kulit yang bersih, mata yang cerah, rambut yang tebal, dan yang paling penting: <b data-path-to-node="18" data-index-in-node="314">Rasio Pinggang-Pinggul (<i data-path-to-node="18" data-index-in-node="338">Waist-to-Hip Ratio</i> / WHR) di angka 0,7 (bentuk jam pasir)</b>. Secara historis dan bawah sadar, ini adalah tanda tingkat kesuburan tertinggi dan bukti bahwa sang wanita belum hamil. Di dunia modern, dorongan visual ini sering menjebak pria pada ilusi fisik, melupakan kecocokan karakter.</p><p data-path-to-node="19"><b data-path-to-node="19" data-index-in-node="0">Wanita dan Ilusi Keamanan</b>
<br>Jika pria memburu kesuburan, perempuan memburu rasa aman. Kehamilan di masa purba membuat perempuan sangat rentan; mereka butuh jaminan bahwa sang pria bisa membawa pulang "daging" buruan. Di abad ini, daging itu bernama uang.&nbsp;</p><p data-path-to-node="19">Mari kita perhatikan kutipan teks asli dari buku ini yang mengutip riset Dr. Thomas Pollett:</p><blockquote data-path-to-node="20"><p data-path-to-node="20,0"><i data-path-to-node="20,0" data-index-in-node="0">"Money does for men what makeup does for women... Dr. Thomas Pollett and Prof. Daniel Nettle found that the pleasure women get from making love is directly linked to the size of their partner's bank account. The higher a man's income and resources go, the higher women's orgasm frequency rises."</i></p></blockquote><p data-path-to-node="21"><b data-path-to-node="21" data-index-in-node="0">Makna &amp; Terjemahan:</b> Uang bagi pria ibarat riasan wajah (<i data-path-to-node="21" data-index-in-node="56">makeup</i>) bagi wanita. Peneliti menemukan bahwa kenikmatan seksual yang didapatkan wanita berkorelasi langsung dengan ukuran saldo bank pasangannya. Semakin tinggi pendapatan pria, frekuensi orgasme wanita semakin meningkat. Ini bukan soal materialisme murahan; ini adalah sains evolusi. Rasa aman secara absolut membuat sistem saraf wanita rileks, yang merupakan prasyarat biologis bagi mereka untuk bisa melepaskan diri dan mencapai puncak kepuasan.</p><p data-path-to-node="4">Namun, sebuah tragedi yang jauh lebih sunyi dan menyayat hati sedang menggerogoti ruang-ruang keluarga kita hari ini: <b data-path-to-node="4" data-index-in-node="118">runtuhnya sosok sang pelindung.</b> Apa jadinya jika pondasi rasa aman itu tidak pernah dibangun, atau justru dihancurkan oleh laki-laki yang lari dari tanggung jawab? Di era modern ini, kita terlalu sering menyaksikan laki-laki yang kehilangan arah, enggan berjuang, dan gagal menjadi tempat bersandar. Ketika seorang laki-laki menyerah pada kemalasan dan gagal memikul bebannya sebagai sang penyedia (<i data-path-to-node="4" data-index-in-node="517">provider</i>), matilah satu hal yang paling krusial dalam dada seorang perempuan: <b data-path-to-node="4" data-index-in-node="595">rasa hormat</b>.</p><p data-path-to-node="5">Kehancuran ini terasa makin perih ketika sang perempuan justru tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih tangguh, dominan, dan mapan secara finansial. Secara insting purba, perempuan mencari dahan untuk bernaung. Namun, ketika ia menengok ke samping dan melihat pasangannya yang tidak mapan justru berubah menjadi "benalu" yang hanya menyedot energi dan kewarasannya, ilusi bahwa ia membutuhkan sosok pelindung pun sirna seketika.</p><p data-path-to-node="6">Keputusasaan yang ditahan bertahun-tahun itu perlahan bermutasi menjadi rasa muak. Ia merasa tak lagi membutuhkan pendamping yang hanya menjadi beban. Pada titik inilah cinta benar-benar menemui ajalnya: ketika laki-laki kehilangan harga dirinya karena menanggalkan tanggung jawab, dan perempuan membekukan hatinya karena sadar ia bisa membawa pulang "daging buruannya" sendiri. Tanpa rasa hormat dan rasa aman, ikatan batin itu tidak sekadar retak; ia hancur lebur tanpa sisa.</p><hr data-path-to-node="23"><h3 data-path-to-node="24"><b data-path-to-node="24" data-index-in-node="0">Seksualitas Modern: <i data-path-to-node="24" data-index-in-node="23">Microwave</i> vs. <i data-path-to-node="24" data-index-in-node="37">Oven Listrik</i></b></h3><p data-path-to-node="25">Ini adalah area di mana buku ini berbicara paling lantang dan jujur (meski kadang memicu perdebatan).</p><p data-path-to-node="26"><b data-path-to-node="26" data-index-in-node="0">Cowok Bisa Seks Tanpa Cinta</b><br>Dorongan seks pria dikendalikan oleh testosteron, yang kadarnya jauh lebih tinggi daripada wanita. Tujuan biologis pria purba adalah menyebarkan benihnya sebanyak mungkin demi kelangsungan spesies. Oleh karena itu, pria dapat dengan mudah melakukan hubungan seks murni untuk pelepasan fisik tanpa melibatkan perasaan apa pun. Bagi pria, seks dan cinta bisa berada di dua kotak yang terpisah di dalam otaknya.</p><p data-path-to-node="27"><i data-path-to-node="27" data-index-in-node="0">Fakta ini pulalah yang menjelaskan mengapa pria suka pornografi dan membayar untuk seks:</i> Industri ini memfasilitasi fantasi biologis pria untuk menyebarkan benih ke banyak wanita secara visual atau fisik, tanpa harus mengeluarkan komitmen sumber daya jangka panjang, waktu, atau energi emosional.</p><p data-path-to-node="28"><b data-path-to-node="28" data-index-in-node="0"><b data-path-to-node="26" data-index-in-node="0">Cewek Butuh Konteks Emosi&nbsp;</b></b><br>Sebaliknya, biologi menuntut perempuan untuk berhati-hati memilih pasangan karena merekalah yang akan menanggung beban kehamilan selama 9 bulan. Seks bagi wanita sangat terikat dengan hormon oksitosin (hormon pengikat/cinta).</p><p data-path-to-node="28">&nbsp;Penulis menggunakan analogi:</p><ul data-path-to-node="29"><li><p data-path-to-node="29,0,0"><b data-path-to-node="29,0,0" data-index-in-node="0">Pria itu seperti <i data-path-to-node="29,0,0" data-index-in-node="17">microwave</i>:</b> Bisa "panas" dalam hitungan detik hanya dengan stimulasi visual sekilas.</p></li><li><p data-path-to-node="29,1,0"><b data-path-to-node="29,1,0" data-index-in-node="0">Wanita itu seperti oven listrik:</b> Butuh waktu untuk dipanaskan secara bertahap.</p></li></ul><p data-path-to-node="30"><i data-path-to-node="30" data-index-in-node="0">Foreplay</i> bagi wanita tidak dimulai sepuluh menit sebelum berhubungan intim di atas ranjang. <i data-path-to-node="30" data-index-in-node="92">Foreplay</i> adalah proses 24 jam sebelumnya: ketika pasangannya membantu mencuci piring, mendengarkan keluh kesahnya, memberikan perhatian kecil, atau memeluknya tanpa tendensi seksual.</p><p data-path-to-node="31">Namun, di balik kerasnya cangkang biologi pria, Pease menyuguhkan data mengejutkan yang mendobrak mitos maskulinitas:</p><blockquote data-path-to-node="32"><p data-path-to-node="32,0"><i data-path-to-node="32,0" data-index-in-node="0">"Why Men Regard Sex As More Intimate Than Women Do... In a recent study of “hooking up,” 50% of women and 52% of men said that they went into this sexual experience hoping to begin a longer relationship... Men fall in love faster than women do, because they are so visual. They are more dependent on their girlfriends because they have fewer intimate relationships with their male peers. They are 2.5 times more likely to kill themselves when a relationship ends."</i></p></blockquote><p data-path-to-node="33"><b data-path-to-node="33" data-index-in-node="0">Makna &amp; Terjemahan:</b> Secara mengejutkan, dalam kultur seks kasual (<i data-path-to-node="33" data-index-in-node="66">hookup</i>), 52% pria (sedikit lebih tinggi dari wanita di angka 50%) justru berharap hubungan seks sesaat itu bisa berlanjut menjadi hubungan asmara jangka panjang. Pria jatuh cinta lebih cepat karena sifat visual mereka. Dan secara ironis, pria jauh lebih bergantung secara emosional pada pasangan wanitanya, karena pria jarang memiliki tempat curhat yang intim dengan sesama teman prianya. <b data-path-to-node="33" data-index-in-node="455">Itulah mengapa pria 2,5 kali lebih rentan bunuh diri saat hubungan hancur.</b></p><hr data-path-to-node="34"><h3 data-path-to-node="35"><b data-path-to-node="35" data-index-in-node="0">Anatomi Perselingkuhan</b></h3><p data-path-to-node="36">Ketika insting liar menang melawan komitmen, perselingkuhan terjadi. Meskipun tanda-tandanya bisa sama (perubahan rutinitas, mendadak modis, menyembunyikan ponsel, atau reaksi gugup), motivasi dasarnya sangat berbeda menurut gender:</p><ul data-path-to-node="37"><li><p data-path-to-node="37,0,0"><b data-path-to-node="37,0,0" data-index-in-node="0">Mengapa Pria Berselingkuh:</b> Biasanya murni karena dorongan seksual, variasi, dan sifat oportunistik (ada kesempatan). Sering kali ini sebatas urusan fisik dan tidak berarti ia membenci istrinya atau ingin bercerai.</p></li><li><p data-path-to-node="37,1,0"><b data-path-to-node="37,1,0" data-index-in-node="0">Mengapa Wanita Berselingkuh:</b> Jarang sekali murni karena seks. Wanita berselingkuh karena merasa diabaikan secara emosional, kesepian yang teramat sangat, atau secara bawah sadar sedang mencari pasangan/penyedia (<i data-path-to-node="37,1,0" data-index-in-node="212">provider</i>) yang lebih baik (<i data-path-to-node="37,1,0" data-index-in-node="239">upgrade</i>). Jika wanita berselingkuh, biasanya hatinya sudah ikut pindah jauh sebelum tubuhnya menyusul.</p></li></ul><p data-path-to-node="38">Karena takut akan luka-luka komitmen seperti ini, generasi muda kita akhirnya membangun benteng pertahanan rapuh yang disebut <b data-path-to-node="38" data-index-in-node="126"><i data-path-to-node="38" data-index-in-node="126">Situationship</i></b>—sebuah zona abu-abu demi mendapat kehangatan tanpa tanggung jawab. Imbasnya, lahirlah budaya pengecut seperti <b data-path-to-node="38" data-index-in-node="250"><i data-path-to-node="38" data-index-in-node="250">Ghosting</i></b> (menghilang tiba-tiba) atau <b data-path-to-node="38" data-index-in-node="287"><i data-path-to-node="38" data-index-in-node="287">Breadcrumbing</i></b> (memberi "remah-remah" perhatian agar korban tetap bergantung). Betapa murahnya harga air mata di era ini.</p><hr data-path-to-node="39"><h3 data-path-to-node="40"><b data-path-to-node="40" data-index-in-node="0">Mahkota yang Berontak dan Tangis Tak Bersuara Milik Laki-Laki</b></h3><p data-path-to-node="41">Lalu, apa yang terjadi ketika perempuan menyadari bahwa ia bisa mencari "daging" buruannya sendiri? Terjadilah pergeseran tektonik. Saat ini, angka perceraian yang diajukan oleh istri (<i data-path-to-node="41" data-index-in-node="190">Cerai Gugat</i>) mendominasi secara mutlak (hampir menyentuh angka 80% dari total kasus).</p><p data-path-to-node="42">Perempuan modern—terutama di usia 40-an yang kariernya telah mapan—tidak lagi sudi dirantai oleh dogma yang menuntut mereka menelan siksaan batin demi menjaga nama baik keluarga. Kebutuhan purba akan "pria penyedia" telah dipenuhi oleh keringat mereka sendiri. Mereka memilih merdeka, meski kita tahu kemerdekaan ini dibayar mahal dengan lelahnya mengasuh anak sendirian dan menahan gempuran stigma sosial sebagai janda.</p><p data-path-to-node="43">Namun, di balik angka-angka perpisahan itu, ada sebuah realitas gelap yang sangat jarang kita bicarakan: <b data-path-to-node="43" data-index-in-node="105">runtuhnya mental laki-laki</b>.</p><p data-path-to-node="44">Jika perempuan menangis, dunia sering kali datang memeluk. Namun ketika laki-laki hancur, ia biasanya mati dalam diam. Data mengungkap bahwa laki-laki berstatus bercerai atau berpisah memiliki risiko bunuh diri yang meroket mengerikan, bahkan bisa menyentuh angka 9 kali lipat pada usia di bawah 34 tahun.</p><p data-path-to-node="45">Mengapa? Karena sejak kecil, laki-laki dilarang menangis. Pada akhirnya, laki-laki cenderung menjadikan pasangan perempuannya sebagai <b data-path-to-node="45" data-index-in-node="134">satu-satunya</b> jangkar emosional. Ketika perempuan itu pergi, laki-laki kehilangan rumahnya, identitasnya, dan satu-satunya tempat di muka bumi di mana ia diizinkan untuk menjadi rapuh. Rasa sakit itu mengendap di ruang-ruang sepi, berubah menjadi keputusasaan yang fatal.</p><hr data-path-to-node="46"><h3 data-path-to-node="47"><b data-path-to-node="47" data-index-in-node="0">Menyemai Kembali Jangkar di Lautan yang Bising</b></h3><p data-path-to-node="48">Pada akhirnya, <i data-path-to-node="48" data-index-in-node="15">"Why Men Want Sex and Women Need Love"</i> menampar kita dengan satu kesadaran absolut. Membawa insting manusia purba, dikendalikan oleh hormon, dan mudah tergoda pada hal baru memanglah takdir biologi kita. Namun, rentetan sains dan angka-angka ini tidak disuguhkan sebagai pembenaran atas luka-luka yang kita ciptakan. Ia justru meletakkan cermin besar di hadapan kita, menyisakan sebuah pertanyaan sunyi untuk dijawab sendiri.</p><p data-path-to-node="49">Di era di mana hubungan begitu mudah dibuang (<i data-path-to-node="49" data-index-in-node="46">disposable</i>), sosok tergantikan hanya dengan satu usapan layar, dan manusia nyaman bersembunyi di balik dinginnya dunia digital, akankah kita terus tunduk pada "sandi genetik" tersebut?</p><p data-path-to-node="50">Memilih untuk setia dan berempati, pada akhirnya, adalah <b data-path-to-node="50" data-index-in-node="57">murni kehendak bebas kita</b>. Di zaman yang serba instan dan mudah menguap ini, kesetiaan jangka panjang justru menjadi bentuk pemberontakan yang paling elegan dan radikal.</p><p data-path-to-node="51">Cinta sejati rupanya bukanlah tentang ketidakhadiran insting liar di dalam diri kita. Cinta sejati adalah ketika dua anak manusia ini saling menatap. Keduanya menyadari seberapa rapuh, egois, dan rusaknya kode genetik di dalam kepala mereka, namun tetap tersenyum.&nbsp;</p><p data-path-to-node="51">Dan dengan sadar, mereka memilih untuk saling menggenggam tangan—melampaui biologi, menentang algoritma, dan berkomitmen membangun makna bersama.</p><blockquote>Setiap hari. Sampai napas berhenti.</blockquote><p data-path-to-node="52">Kini, kenyataan evolusi itu sudah tergelar telanjang di depan mata. Akankah kita membiarkan "nafsu" mendikte akhir cerita kita, atau memilih untuk menulis takdir cinta kita sendiri? Jawabannya, sepenuhnya ada di genggaman kita masing-masing.</p><p data-path-to-node="52"><br></p><h3 data-path-to-node="30">Daftar Pustaka</h3><ol start="1" data-path-to-node="31"><li><p data-path-to-node="31,0,0"><b data-path-to-node="31,0,0" data-index-in-node="0">Badan Pusat Statistik (BPS).</b> (2025). <i data-path-to-node="31,0,0" data-index-in-node="37">Statistik Indonesia 2025: Data Nikah dan Cerai Nasional 2024</i>.</p></li><li><p data-path-to-node="31,1,0"><b data-path-to-node="31,1,0" data-index-in-node="0">Pease, Allan &amp; Barbara.</b> (2012). <i data-path-to-node="31,1,0" data-index-in-node="32">Why Men Want Sex and Women Need Love</i>. Orion Publishing Group.</p></li><li><p data-path-to-node="31,2,0"><b data-path-to-node="31,2,0" data-index-in-node="0">Wilson, Michael, et al.</b> (2025). <i data-path-to-node="31,2,0" data-index-in-node="32">Separated Men Are Nearly 5 Times More Likely to Take Their Lives Than Married Men: A Global Systematic Review</i>. Orygen Research &amp; University of Melbourne.</p></li><li><p data-path-to-node="31,3,0"><b data-path-to-node="31,3,0" data-index-in-node="0">Pollet, Thomas V. &amp; Nettle, Daniel.</b> (2009). <i data-path-to-node="31,3,0" data-index-in-node="44">Partner Wealth Predicts Self-Reported Orgasm Frequency in a Sample of Chinese Women</i>. Journal of Evolution and Human Behavior.</p></li><li><p data-path-to-node="31,4,0"><b data-path-to-node="31,4,0" data-index-in-node="0">GoodStats Data.</b> (2025). <i data-path-to-node="31,4,0" data-index-in-node="24">Cerai Gugat Dominasi Kasus Perceraian 2020-2024</i>.</p></li><li><p data-path-to-node="31,5,0"><b data-path-to-node="31,5,0" data-index-in-node="0">Databoks Katadata.</b> (2025). <i data-path-to-node="31,5,0" data-index-in-node="27">Perceraian Akibat Judi di Indonesia Meroket 83% pada 2024</i>.</p></li><li><p data-path-to-node="31,6,0"><b data-path-to-node="31,6,0" data-index-in-node="0">Jumadi.</b> (2025). <i data-path-to-node="31,6,0" data-index-in-node="16">Fenomena Ghosting dalam Hubungan Romantis: Analisis Psikologis dan Dampaknya</i>. Jurnal Ilmu Psikologi.</p></li><li><p data-path-to-node="31,7,0"><b data-path-to-node="31,7,0" data-index-in-node="0">Psychology Today.</b> (2025). <i data-path-to-node="31,7,0" data-index-in-node="26">Decoding Modern Dating: The New Lingo You Need to Know</i>.<br><br><br></p></li></ol><div><h3 data-path-to-node="47"><b data-path-to-node="31,0,0" data-index-in-node="0" style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px;">Oleh: Dede Indrawara&nbsp;<br></b><i data-path-to-node="31,0,0" data-index-in-node="37" style="color: rgb(26, 26, 26); font-family: &quot;Plus Jakarta Sans&quot;, sans-serif; font-size: 16px;">Pemerhati Sosial Masyarakat</i></h3></div>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Dede Indraswara</dc:creator>
            <category>Opinion</category>
            <pubDate>Sat, 28 Feb 2026 21:27:08 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/02/why-men-want-sex-and-women-need-love-karya-allan-dan-barbara-pease-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[AS Kenakan Tarif Ekspor Panel Surya Indonesia, Industri EBT Tertekan]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/as-kenakan-tarif-ekspor-panel-surya-indonesia-industri-ebt-tertekan-699eee4ea50e4</link>
            <guid isPermaLink="false">80</guid>
            <description><![CDATA[Amerika Serikat menetapkan bea masuk sementara lebih dari 100% terhadap panel surya Indonesia dalam investigasi subsidi. Kebijakan ini berpotensi menekan ekspor, mengganggu daya saing industri EBT nasional, serta memaksa produsen mencari pasar alternatif di tengah proteksionisme global.]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Pemerintah Amerika Serikat menetapkan bea masuk sementara (preliminary countervailing duties) terhadap impor panel surya dari Indonesia, India, dan Laos. Kebijakan ini berpotensi menekan daya saing ekspor produk energi terbarukan Indonesia di pasar global.</p><p>Departemen Perdagangan AS menyebut produsen panel surya dari ketiga negara tersebut diduga menerima subsidi yang dinilai memberikan keuntungan tidak adil. Untuk Indonesia, tarif awal yang dikenakan dilaporkan mencapai lebih dari 100 persen, tergantung pada produsen yang terlibat</p><p>Keputusan ini masih bersifat sementara dan akan dilanjutkan dengan penetapan final pada pertengahan 2026 setelah investigasi lanjutan selesai</p><p>Langkah proteksionis tersebut muncul di tengah meningkatnya tensi perdagangan global sektor energi bersih, khususnya rantai pasok panel surya yang melibatkan Asia sebagai basis produksi utama.</p><p>Dampak terhadap Industri Nasional</p><p>Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berupaya membangun kapasitas manufaktur panel surya domestik untuk mendukung target bauran energi terbarukan 23 persen dan komitmen penurunan emisi. Namun, pasar ekspor tetap menjadi komponen penting untuk menjaga skala ekonomi dan efisiensi produksi.</p><p>Dengan tarif masuk yang tinggi, potensi ekspor ke AS berisiko tertekan signifikan. Jika kebijakan tersebut bertahan hingga keputusan final, produsen nasional kemungkinan harus mengalihkan pasar ekspor ke kawasan lain seperti Asia Selatan, Timur Tengah, atau Afrika.</p><p>Di sisi lain, kebijakan ini juga bisa mendorong konsolidasi industri dan peningkatan kandungan lokal agar struktur biaya lebih kompetitif. Pemerintah Indonesia berpotensi melakukan pendekatan diplomatik atau menempuh jalur sengketa perdagangan jika dianggap merugikan secara sistemik.</p><p>Implikasi bagi Transisi Energi</p><p>Kebijakan tarif ini menghadirkan dilema dalam agenda transisi energi global. Di satu sisi, negara maju mendorong percepatan energi bersih. Di sisi lain, kebijakan proteksi perdagangan berisiko memperlambat distribusi teknologi surya yang lebih terjangkau.</p><p>Bagi Indonesia, tantangannya bukan hanya mempertahankan akses pasar, tetapi juga memperkuat ekosistem industri hulu–hilir panel surya domestik. Ketahanan industri EBT tidak lagi hanya soal insentif fiskal, tetapi juga strategi perdagangan internasional dan diplomasi ekonomi.</p><p>Jika tidak diantisipasi dengan strategi diversifikasi pasar dan peningkatan daya saing, tekanan eksternal seperti ini dapat menghambat akselerasi industri energi terbarukan nasional di tengah kompetisi global yang semakin ketat.</p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Josua Sondakh</dc:creator>
            <category>Energy</category>
            <pubDate>Wed, 25 Feb 2026 12:43:27 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/02/168580-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
                <item>
            <title><![CDATA[Dialog Strategis Pemerintah dan INPEX: Restu Sosial Proyek Masela Menguat, Perizinan Jadi Titik Kritis]]></title>
            <link>https://mail.sinergynews.id/berita/dorong-budaya-kerja-cerdas-bpp-disnakertrans-jateng-bedah-sistem-manajemen-kaizen-teian-699ed56fdf0c4</link>
            <guid isPermaLink="false">79</guid>
            <description><![CDATA[Dialog pemerintah dan INPEX mengungkap dukungan sosial terhadap Proyek LNG Blok Masela semakin kuat. Namun kompleksitas perizinan lintas kementerian dan daerah masih menjadi hambatan utama. Finalisasi FEED, amendment AMDAL, dan integrasi CCS menjadi kunci percepatan proyek menuju target produksi 202]]></description>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Proyek LNG di Blok Masela memasuki fase penentuan. Dukungan sosial masyarakat disebut semakin solid, namun kompleksitas perizinan lintas kementerian dan pemerintah daerah masih menjadi hambatan utama yang menahan percepatan proyek strategis tersebut.</p><p>Hal itu mengemuka dalam dialog antara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan manajemen INPEX Masela Ltd. terkait perkembangan Proyek Abadi LNG dalam forum pembahasan debottlenecking investasi, 24 Februari 2026.</p><hr><h2>Restu Sosial Menguat, Ekspektasi Ekonomi Tinggi</h2><p>Dalam dialog tersebut, pemerintah menanyakan secara langsung kondisi penerimaan masyarakat pasca persetujuan pelepasan kawasan hutan untuk pengembangan fasilitas darat (onshore LNG).</p><p>Perwakilan INPEX menyampaikan bahwa tingkat penerimaan masyarakat tergolong tinggi.</p><blockquote>
<p>“Mereka sudah lama menunggu proyek ini,” ujar Rudi Imran, Vice President SCM &amp; IT INPEX Masela.</p>
</blockquote><p>Dukungan sosial tersebut dinilai sebagai modal penting, mengingat proyek ini diharapkan membawa dampak ekonomi signifikan bagi Maluku, baik melalui penciptaan lapangan kerja maupun aktivitas ekonomi turunan.</p><p>Namun terdapat dua isu sensitif yang menjadi perhatian warga:</p><ol>
<li>Kompensasi bagi masyarakat yang sebelumnya memanfaatkan kawasan hutan.</li>
<li>Prioritas kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal.</li>
</ol><p>Isu tersebut menjadi krusial untuk menjaga stabilitas sosial ketika proyek memasuki tahap konstruksi fisik.</p><hr><h2>Perizinan Lintas Sektor Jadi Hambatan Utama</h2><p>Meski dukungan sosial relatif kuat, tantangan terbesar justru berada pada sisi birokrasi.</p><p>Manajemen INPEX mengakui bahwa kompleksitas approval menjadi faktor paling menghambat pergerakan proyek.</p><blockquote>
<p>“Kami melihat tingkat kompleksitas yang cukup tinggi, baik di pusat maupun daerah. Banyak instansi yang harus dilibatkan dalam proses approval.”</p>
</blockquote><p>Ketika ditanya apakah seluruh proses persetujuan menantang, jawaban yang muncul cukup tegas:</p><blockquote>
<p>“Semua, Pak. Ini yang paling menghambat kami memulai pekerjaan di lapangan.”</p>
</blockquote><p>Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa persoalan bukan pada satu izin spesifik, melainkan pada sistem koordinasi multi-level governance yang membutuhkan sinkronisasi lintas kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah.</p><hr><h2>Fasilitas Laut dan Tahap FEED Jadi Penentu</h2><p>Salah satu izin strategis yang belum berjalan adalah pembangunan fasilitas laut berupa pioneering wharf dan jetty. Fasilitas ini berskala besar dan menjadi infrastruktur vital dalam fase konstruksi.</p><p>Namun izin tersebut belum dapat diajukan sepenuhnya karena masih menunggu penyelesaian tahap Front-End Engineering Design (FEED).</p><p>Artinya, tanpa penyelesaian FEED, sejumlah approval krusial tidak bisa diproses maksimal. Ini menciptakan efek berantai terhadap timeline proyek.</p><hr><h2>Integrasi CCS dan Amendment AMDAL</h2><p>Proyek Abadi LNG sebelumnya telah mengantongi persetujuan AMDAL. Namun terdapat komponen baru yang belum tercakup dalam dokumen lama, antara lain:</p><ul>
<li>Integrasi Carbon Capture and Storage (CCS) yang masih dalam tahap FEED</li>
<li>Finalisasi lokasi fasilitas LNG yang menunggu desain akhir</li>
</ul><p>Komponen tersebut memerlukan amendment AMDAL.</p><p>Pihak pemerintah menyatakan kesiapan untuk membantu percepatan jika terdapat kekurangan cakupan dalam dokumen sebelumnya.</p><p>Langkah ini penting karena integrasi CCS menjadi bagian dari komitmen dekarbonisasi sektor gas, sekaligus meningkatkan daya saing proyek di tengah tekanan global terhadap energi fosil.</p><hr><h2>Perspektif Strategis: Ujian Tata Kelola Investasi Nasional</h2><p>Dialog tersebut memperlihatkan dinamika nyata proyek Masela saat ini:</p><ul>
<li>Dukungan sosial menguat</li>
<li>Ekspektasi ekonomi daerah meningkat</li>
<li>Namun birokrasi perizinan menjadi bottleneck utama</li>
</ul><p>Bagi pemerintah, terutama Kementerian Keuangan, isu ini bukan sekadar proyek migas bernilai miliaran dolar. Ini menyangkut kredibilitas Indonesia dalam mengelola proyek strategis dan menarik investasi jangka panjang.</p><p>Sementara bagi INPEX, kepastian approval menjadi kunci agar proyek dapat bergerak dari tahap perencanaan menuju konstruksi fisik di lapangan.</p><hr><h2>Catatan Kritis Sinergynews</h2><p>Jika target onstream 2029 ingin realistis, maka fase 2026–2027 menjadi periode krusial untuk:</p><ul>
<li>Finalisasi FEED</li>
<li>Penyelesaian amendment AMDAL</li>
<li>Sinkronisasi perizinan pusat–daerah</li>
<li>Penegasan skema fiskal dan keekonomian proyek</li>
</ul><p>Tanpa pembenahan koordinasi perizinan, risiko keterlambatan berulang tetap terbuka.</p><p>Blok Masela bukan sekadar proyek LNG, melainkan simbol kemampuan Indonesia menyeimbangkan investasi besar, kepastian regulasi, dan kepentingan masyarakat lokal.&nbsp;</p>]]></content:encoded>
            <dc:creator>Josua Sondakh</dc:creator>
            <category>Business</category>
            <pubDate>Wed, 25 Feb 2026 10:56:47 +0000</pubDate>
                        <media:content url="https://mail.sinergynews.id/storage/media/image/2026/02/168551-1600.webp" medium="image" />
                    </item>
            </channel>
</rss>
